<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971</id><updated>2012-02-16T02:22:09.106-08:00</updated><title type='text'>Asosiasi Tradisi Lisan Jambi | berawal dari keprihatinan tradisi</title><subtitle type='html'>berawal dari keprihatinan tradisi....</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-4724553636109404220</id><published>2012-01-15T17:52:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T17:55:20.309-08:00</updated><title type='text'>Pengurus LARM se-Sumatra Dilantik. Budaya Melayu Diharapkan Bangkit Kembali</title><content type='html'>Adat Melayu merupakan kekayaan budaya yang sangat tinggi nilainya, bila dipelajari akan dijumpai filsafat kehidupan yang sangat indah serta bermakna luas dan dalam. Hal ini disampikan Gubernur Jambi Drs. H. Hasan Basri Agus, MM (HBA), gelar Datuk Temenggung Putro Jayo Diningrat, Sabtu (14/1) pada sambutannya usai melantik Pengurus Sekretariat Bersama Lembaga Adat Rumpun Melayu (LARM) se-Sumatra, periode 2011-2014, di Auditorium Gubernuran Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur mengharapkan kegemilangan dan kejayaan Melayu tempo dulu dapat bangkit kembali, tidak terlalu kaku dalam kotak-kotak wilayah administratif. “Pelantikan pengurus sekretariat bersama ini merupakan suatu langkah strategis untuk melestarikan khasanah budaya Melayu dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ucap HBA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubernur menghimbau agar para pengurus baru dapat menjalankan roda LARM dengan sebaik-baiknya. Amanah yang diberikan tersebut, bukan hanya sebatas formalitas pencantuman nama pada struktur kepengurusan, lebih dari itu sangat diharapkan inovasi dan kreativitas serta ide-ide cemerlang dari ketua dan anggota serta segenap kepengurusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun susunan Pengurus LARM se-Sumatra periode 2011-2014 hasil Musyawarah Majelis Paripurna Sekretariat Lembaga Adat Rumpun Melayu se-Sumatra yang dilaksanakan tanggal 21-23 September 2011 terdiri dari : Ketua Majelis Pembina : Drs. H. Hasan Basri Agus, MM (Gubernur Jambi) dengan anggotanya Gubernur Nangro Aceh Darussalam, Gubernur Sumatra Utara, Gubernur Sumatra Barat, Gubernur Riau, Gubernur Sumatra Selatan, Gubernur Lampung, Gubernur Bengkulu dan Gubernur Bangka Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Majelis Paripurna Drs. H. Hasip Kalimuddin Syam, MM (Jambi) dengan anggotanya : Drs. H. A. Rahman Kaoy (Nangro Aceh Darusalam), Hj. T. Mira Sinar ( Sumatra Utara), Drs. M. Sayuti, M.Pd, (Sumatra Barat), H.M. Azaly Djohan, SH (Riau), H. Hambali Hasan, SH, MH (Sumatra Selatan), H. Kadarsyah Irsa, SE (Lampung), H. Rustam Effendy, B. Sc (Bangka Belitung), H. Asri Mesatif (Bengkulu) dan H. Abdul Razak (Kepulauan Riau). Sedangkan Sekretaris Jenderal Sekretariat Bersama LARM se-Sumatra, Drs. H. Azra’I Al Basyari.&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.infojambi.com/v.1/pend-budaya-a-agama/16027.html?task=view"&gt;Infojambi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-4724553636109404220?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/4724553636109404220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=4724553636109404220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4724553636109404220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4724553636109404220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2012/01/pengurus-larm-se-sumatra-dilantik.html' title='Pengurus LARM se-Sumatra Dilantik. Budaya Melayu Diharapkan Bangkit Kembali'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-4273724889499552913</id><published>2011-11-05T07:18:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T07:20:36.051-07:00</updated><title type='text'>Indonesia Promosikan Budaya di Argentina</title><content type='html'>Indonesia berupaya mempromosikan budaya di Argentina. Pada 3-14 November ini,Kedutaan Besar Republik Indonesia di Argentina bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Kegiatan Promosi Terpadu Indonesia 2011 di Buenos Aires. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kasubdit Promosi Wilayah Amerika dan Pasifik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Vinsensius Jemadu mengungkapkan, acara tersebut digelar bukan semata-mata untuk menarik wisatawan di Negeri Tango tersebut, melainkan sebagai upaya diplomasi budaya.Targetnya adalah membangun persepsi masyarakat Argentina terhadap Indonesia yang relatif belum banyak mereka kenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dalam event tersebut, panitia tidak mengajak pelaku industri wisata,tetapi tim kesenian dan kuliner yang akan mengenalkan keragaman seni dan makanan di Tanah Air. “Kita berharap ke depan hubungan people to people contact akan semakin meningkat,” kata Vinsensius di Jakarta kemarin. Wisatawan dari negeri asal Maradona tersebut memang belum menjadi perhitungan pasar wisata Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum kunjungan wisatawan dari negara- negara yang terletak di Amerika Selatan bahkan terhitung sangat kecil.Pada 2009 wisatawan dari kawasan tersebut yang datang ke Indonesia tercatat hanya 24.037 orang. Hal ini dimaklumi, selain karena jarak geografis yang sangat jauh, tujuan wisata negara- negara di kawasan tersebut juga cenderung ke kawasan Karibia. Kendati demikian,Vinsensius berharap,melalui event budaya tersebut, ke depan animo masyarakat Argentina ke Indonesia bisa meningkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan agenda, rangkaian Kegiatan Promosi Terpadu Indonesia 2011 diisi sejumlah acara, di antaranya Indonesia Gala Dinner/Indonesian Cultural Performance, Pameran Promosi Terpadu (Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata), Business Luncheon yang mengambil tema “Strengthening Indonesia-Argentina Commerce: Challenges and Opportunities”, dan Pekan Film Indonesia di Argentina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Gala Dinner/Indonesian Cultural Performance akan menampilkan tim kesenian “Ikreasindo” pimpinan Ika Widia. Mereka akan mementaskan musik bambu, interaktif angklung,rampak gendang kreatif, serta nyanyian musik Indonesia dan Latin. Staf Ahli Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bidang Multikultural, Hari Utoro Drajat, menuturkan,Kegiatan Promosi Terpadu Indonesia 2011 di Buenos Aires sekaligus dalam rangka memperingati 55 Tahun Hubungan Diplomatik antara Republik Indonesia dan Argentina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada 21–26 Mei 1959,Presiden pertama Indonesia Soekarno berkunjung ke Argentina dan kunjungan ini masih dikenang oleh masyarakat setempat sampai sekarang,’’ ujarnya. Sejak peresmian hubungan diplomatik Indonesia–Argentina pada 1956,hubungan bilateral kedua negara di berbagai bidang cukup baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang politik, Indonesia dan Argentina menunjukkan kerja sama yang kuat dan saling mendukung dalam berbagai forum internasional. Pascakunjungan Menlu RI Hassan Wirajuda ke Argentina pada Agustus 2007, kedua negara telah menjalin berbagai kerja sama pendidikan dan kebudayaan. Selain di bidang pendidikan, kerja sama juga perlu dikembangkan di sektor olahraga, khususnya sepak bola. &lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/441457/"&gt;http://www.seputar-indonesia.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-4273724889499552913?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/4273724889499552913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=4273724889499552913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4273724889499552913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4273724889499552913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/11/indonesia-promosikan-budaya-di.html' title='Indonesia Promosikan Budaya di Argentina'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-5556483776081312240</id><published>2011-10-30T05:53:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T05:57:55.535-07:00</updated><title type='text'>Kekalahan Tradisi Lisan: Merenungkan Bojongpari</title><content type='html'>Hikmat Budiman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kebudayaan akhirnya kerap menjadi pembicaraan yang semena-mena. Betapa tidak, karena ia adalah rimba New York bahkan belantara Bojongpari atau ketenteraman Ngrimpak. Bara padang pasir yang mematangkan keperkasaan piramid sampai beku kutub bumi yang memadatkan kultur Kwakiutl suku Eskimo--yang mengundang decak kagum Franz Boas; mode body language yang memusingkan birahi lelaki, sampai kombinasi jilbab-cadar yang serba enggan atau lilitan jarik yang misterius. Semua punya jatah ruang dan waktu hidupnya sendiri. Raung hirukpikuk sampai kesunyian yang demikian lengang.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Riuhrendah kecemasan bercampur geram penduduk Boston meratapi semakin menipisnya lapisan ozon, atau demonstrasi eco-politik a la Green Peace, misalnya, memiliki paralelitas sekaligus distingsi makna dengan kesedihan penghuni Bojongpari mendengar ternak Pak Kosim dimangsa harimau tadi malam. Potret ini memang demikian kontras. Karena konon kebudayaan bahkan bisa menampung keseluruhan ritme jagatraya, yang silangsengkaruk lalulalang bagai belibis di pagi hari. Berita terakhir mengabarkan bahwa koloni kebudayaan manusia akan juga menjangkau sepi ruang antar planet. Setiap jengkal setiap sekon terus-menerus ditelikung tanpa ampun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Bojongpari saya mengikuti upacara kematian seorang kadang wargi. Guyub puluhan mulut sepakat bahwa almarhum dihumbalangkan teluh ingkig. Ini bukan hal aneh tentu saja. Sebab bahkan manusia Jakarta yang hidup dalam sekian banyak kelimpahan informasi dan perbaikan nutrisi juga tetap merisaukan santet. Di malam tahlilan, kebanyakan dari penduduk berkain sarung buatan Bandung (saya sendiri memilih bahan Denim dengan atasan T-shirt); membaca doa dalam bahasa Arab; Ngobrol dalam bahasa keseharian yang merdeka dari undak-usuk basa. Tanpa klise pencangihan sintaksis atau pembuatan jarak semantis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sambil mencoba menghibur hati keluarga yang ditinggal mati, kami--saya dan warga Bojongpari--juga serius menjajaki kemungkinan mencari tahu si pemesan kematian via orang sakti, sekaligus merancang strategi menangkap harimau pemangsa ternak Pak Kosim. Di dalam ruangan orang khusuk mengaji Qur'an. Di serambi tuan rumah menghidangkan beberapa botol Fanta, Sprite, dan hidangan alakadarnya. Ketika malam kian tenggelam larut, kami mengarahkan tuner radio, mendengarkan siaran yang dipancarkan oleh sebuah stasion radio amatir di kota kawedanaan, lima belas kilometer ke selatan. Di sekeliling kami malam dan hutan melingkar berpagutan, memantulkan pelbagai suara yang sembunyi siang hari. Kami rata-rata mengisap rokok kretek, sebab daun aren adalah masa silam yang selain tidak praktis juga tidak lagi sanggup mendatangkan juissance sama sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Bojongpari betapa banyak serpihan kejadian kecil yang meloncat begitu saja dari bingkai referensi yang saya bawa dari kota. Cabik-cabikan peristiwa itu sering mengelak setiap saya mencoba mengurungnya dalam bingkai-bingkai kategoris. Akibatnya, semua usaha saya membuat formulasi formal hanya berakhir pada simpul-simpul hipotetik yang sangat cair dan demikian longgar. Bersikeras mengikatnya menjadi bunyi-bunyi ujaran baku senantiasa terancam bahaya manipulasi. Ternyata makna hidup tidak selalu bisa dipampatkan oleh leksikon kebudayaan, karena ia niscaya bergetar dan potensial berfluktuasi. Realitas Bojongpari seperti itu, lambatlaun memberangus dan akhirnya menumpas keangkuhan referensi literer saya: realitas hidup terlampau kaya untuk bisa direpresentasikan dengan bahasa yang sangat kering, terlalu trengginas untuk dijinakkan oleh rantai hypotetico-deductivo-verificative ilmu pengetahuan modern yang lamban seperti siput. Apalagi dalam khasanah pengetahuan yang cenderung menampik imajinasi dan mengharamkan fantasi, seperti yang pernah terungkap dalam kekecewaan Snow atas kondisi intelektual di Inggris lebih tiga puluh tahun yang silam: masing-masing seperti berlomba mengokohkan kekaisaran disiplin ilmunya sendiri, tanpa kerendahan hati bahwa di luar kekaisarannya itu masih terdapat hamparan kebenaran yang lain.[1]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian. Sebuah pagi. Seekor harimau besar mati. Tiga butir peluru senapan mesin, masing-masing menghunjam di pangkal paha kiri, lambung dan lehernya. Malamnya diadakan syukuran sekaligus doa permohonan maaf kepada karuhun yang ngageugeuh alas tepis miring. Persembahan sekligus tamada kepada kanjeng gusti prabu Siliwangi. Pengorbanan dan peribadatan membawa kita pada pengakuan akan eksistensi kekuatan eksternal yang dikonsepkan secara mitis. Jika pengorbanan lahir dari ketakutan maka penyembahan didorong oleh kebutuhan akan pertolongan Hyang murbeng dumadi, kata George Santayana[2]. Harimau mati dikubur dengan hantaran doa-doa. Ritus keagamaan bersenyawa dengan sejarah hidup dari masa lalu yang jauh di belakang. Tanpa ambisi purifikasi. Jika kita menggunakan cara pandang ritual tentang komunikasi dan bukan pendekatan transmisi,[3] momen seperti itu bisa dilihat sebagai pengikat solidaritas yang bahkan lebih kaya ketimbang produk budaya propetis semata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Bojongpari ada kebersahajaan pra-modern--sekedar memudahkan pembedaan yang tidak selalu musti dikotomis--dengan segala geliatnya yang mencengangkan. Tapi di sana juga ada radio, Sprite, Fanta, blue-jeans, T-shirt bergambar Guns and Roses, koran, senapan mesin dan produk-produk lain yang kerap diklaim sebagai buah dari pohon tinggi bernama modernisasi. Juga ada doa berbahasa Arab. Tradisionalisme--juga untuk memudahkan pembedaan-- bersetubuh begitu saja dengan kegagahan pendulum modernisme. Doa-doa bergema beresonansi dengan jejak ledakan peluru senapan mesin penjaga hutan. Yang lokal bergesekan dengan yang internasional. Menimbulkan gaung bahkan gelegar suara yang merambat di sela-sela batang pohon. Anyaman-anyaman realitas yang tak terduga. Mengakibatkan lecet bahkan luka-luka yang akhirnya dilemparkan ke angkasa bersama dupa dan kata-kata bertuah. Dalam wacana ilmu sosial, Boeke[4] pernah mengungkap adanya dualisme segregatif, seolah antara sektor modern dan tradisional terpisah sedemikian ketat dan berjalan sendiri-sendiri. Sementara Geertz[5] secara lebih mengejutkan dan memukau banyak orang justru menemukan adanya involusi dalam kultur masyarakat petani kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama ini modernitas hanya dianggap definitif jika dan hanya jika masyarakat yang mengalami perjumpaan dengan tradisi yang ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, itu tegas memilih antara dua kategori. Sepenuhnya modern atau tetap tradisional. Diktum semacam ini didorong oleh nafsu agung untuk memodernkan setiap penjuru dunia. Ia kurang memberi kesempatan yang lebih luas untuk, misalnya, dengan segenap kesanggupan dan daya dukung kultural yang ada, tidak memilih salah satu dari keduanya, melainkan melarutkannya sedemikian rupa dengan tanah dan air sumber tangis dan harapan hidup, tanpa harus terbelenggu oleh keharusan-keharusan konsep teoritis, tapi menuruti kenisacayaan yang mengerang menerkam dalam suspensi dari galaunya sejagat kemungkinan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa mengurangi hormat kepada Boeke, Geertz atau empu-empu kebudayaan lainnya, saya ingin mengatakan bahwa diskursus kebudayaan hendaknya berusaha lebih rendah hati di hadapan kesimpangsiuran dan ketakajegan konstruksi realitas hidup manusia, sehingga lesatan-lesatan kejadian yang muncul dari tabrakannya sejagat kemungkinan, yang sering luput dari jaring-jaring analisis ilmiah, itu bisa dihormati kehadirannya. Seperti Geertz, dalam karyanya yang lebih kemudian, menghargai orang Bali mengadu jago tanpa musti berselera sama dengan pelototan cat Affandi ketika ia menuangkan hal yang sama ke atas kanvas.[6]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Bojongpari saya menemukan bahwa strategi kebudayaan yang dibuat oleh sekian gerombol orang di Jakarta, atau kota-kota besar lainnya, atau dari kampus-kampus universitas terkemuka, dalam banyak hal ternyata lebih merupakan usaha untuk memetakan, mengevaluasi dan memprediksikan--dalam arti menjinakkan--biografi para pelaku budaya senegeri yang sangat distorsif. Satu upaya untuk membentuk, meminjam istilah Tourine, the programmed society.[7] Setiap strategi terpusat dan berskala besar-besaran tentang kebudayaan yang berasal dari meja-meja diskusi atau kantor sebuah instansi, adalah usaha untuk menguasai ruang, menundukkan waktu dan mempertegas hegemoni[8]. Tanpa menghiraukan bahwa di dunia ini senantiasa ada ruang oposisi yang cukup aman, seperti Hira yang menghasilkan seorang rasul pilihan. Maka pencarian identitas kebudayaan nasional yang ditempuh melalui serangkaian tindakan uniformasi strategi, itu laksana menangkap air dengan tangan telanjang. Kita kerap merasa telah menggenggamnya padahal hanya mendapatkan basahnya. Kebudayaan manusia kerap mampu seperti bunglon: semakin kita berkeras meyakini satu warna sebagai identitasnya, semakin kelirulah kesimpulan kita. Dalam kalimat lain, setiap strategi kebudayaan yang dibakukan oleh satu keputusan kekuasaan adalah tindakan congkak yang memiskinan kreativitas lokal, menafikan pluralitas, menguras partikularitas demi standarisasi dan memiskinkan sejarah sebangsa dari kesuburan yang menyangganya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas saya telah mencoba menuturkan sekilas hasil lancongan semi-imajiner saya di sebuah lokasi kebudayaan. Ini memang bukan sejenis perjalan Thomas More ke pulau Utopia, dan saya memang tidak berpretensi membuat replika dialognya More dengan Raphael Hytloday. Bojongpari hanyalah bagian dari pojok-pojok biografi saya. Lima belas tahun silam--bukan waktu yang terlalu lama--saya tinggal di sebuah kampung yang bersisian letak dengan Bojongpari. Dan lima belas tahun kemudian selama dua bulan, saya juga menetap di sebuah dusun di pucuk bukit di kaki gunung Perahu. Dusun Ngrimpak, Desa Lowungu, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Keramaian mulut penghuni dusun ini pulalah yang mengingatkan saya pada Bojongpari. Sebab di sini masih banyak terdapat hirukpikuk kerumunan orang berkumpul saling memberikan pekabaran, tanpa perantara koran, TV atau radio. Barang-barang seperti itu hanya terjemahan konkret dari kemewahan, jarang sekali digunakan karena musti menghemat baterai accu. Sementara bocah-bocah kecil setiap sore dolanan bergerombol di halaman rumah Pak Kades. Mereka mencoba mengkreasi sebuah dunia tersendiri melalui permainan[9]. Mereka berkomunikasi satu sama lain melalui konsensus yang sangat sederhana. Lagu Lir-ilir yang konon merupakan ajaran tasauf Sunan Bonang mereka nyanyikan dengan nafas lepas. Mereka juga mengerti penggalan lagu Genjer-genjer dan, ini yang membuat saya mengalami thrilled, mereka cukup tahu bahwa lagu ini ada kaitannya dengan PKI. Tapi tentang PKI mereka hanya tahu bahwa itu adalah musuh manusia yang paling mengerikan. Mulut mereka masih bicara banyak menyertai kaki dan tangan yang setia turun naik bukit menyambit rumput. Jarang terdengar keluhan kecuali soal air yang jika siang hari memang sulit dicari. Itu adalah bagian dari apa yang oleh Scott disebut sebagai “moral ekonomi petani[10].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hampir setiap malam orang berdatangan ke rumah Kepala Desa, sekedar ngobrol tentang rencana desa atau bahkan menggunjingkan tetangga sebelah dusun. Gosip keseharian seolah jadi opini-tanding atas pelbagai rencana pembangunan desa yang kerap tidak begitu mereka mengerti betul. Obrolan mereka seperti berusaha mengelak dari kooptasi hegemoni kota yang makin mendekat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di desa Lowungu ini pula saya melihat kontras prilaku masyarakat akibat determinasi sosial ekonomis: jalan aspal, lampu listrik, TV, dan indikator-indikator lainnya. Di dusun Ngrimpak begitu mudahnya orang berkumpul hanya dengan panggilan dari satu-satunya pengeras suara di rumah Kepala Dusun, sedangkan di kota, speaker kerap jadi bahan sitegang antar mesjid. Saya belum membayangkan jika pengeras suara itu sudah jauh lebih banyak. Tiga kilometer ke arah Timur, di dusun Lowungu, Kecer, Banjaran dan Ketikan, mereka mulai mengenal basa-basi dan alasan diplomatis untuk menampik gotong royong. Mereka yang tinggal di seputar pusat pemerintahan Desa Lowungu ini, beberapa di antaranya mulai asyik menikmati siaran TV di malam hari. Perangkat seperti accu ternyata cukup mampu mematahkan dominasi tradisi dan supremasi ajaran-ajaran lama. Di Ngrimpak, orang begitu mudah menjajakan keramahan kepada setiap pendatang. Di dusun lainnya tadi, mereka mulai mengerti pentingnya tawar-menawar harga diri dan rasa curiga. Seluruh dusun itu sampai kini masih berusaha menjalin harapan dan kesabaran menunggu masuknya listrik. Masuknya sebuah determinan sosial ekonomi dan kultural yang telah mengangkat harkat kota-kota[11].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahun 1968 saya lahir di sebuah dusun terpencil yang kondisinya waktu itu, mungkin, secara ekonomis jauh lebih terbelakang daripada Ngrimpak sekarang. Ketika sejarah dunia mencatat terjadinya pelbagai perubahan fundamental akibat dinamik kapitalisme mutakhir dan munculnya apa yang oleh Daniel Bell disebut sebagai era post-industrial society,[12] saya tidak paham apa yang terjadi di kampung kelahiran. Tradisi penulisan sejarah selama ini telah terlampau dihambakan kepada “kepentingan nasional” sehingga justru membuat setiap orang tak lagi mengenal silsilah lokalnya sendiri. Untuk level nasional, dengan menggunakan frame of reference saya sekarang tentu saja, waktu itu kita tengah mencoba untuk merintis proses mutasi historis politik dan ekonomi. Kegagalan Gestapu yang oleh Orde Baru disingkat G 30 S/PKI di tahun 1965, lambat laun mendorong makin tingginya penghormatan orang pada kemakmuran ekonomi.       &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuh tahun kemudian, di tahun 1975, saya mulai memasuki sebuah centrum baru, sekolah. Tapi tiga tahun sebelumnya, saya juga telah diajari untuk mulai meninggalkan jejak turuntemurun: umur 4 tahun saya sudah masuk ke dalam sebuah tradisi baru ketika mulai bisa menulis dan membaca. Bersamaan dengan proses perkenalan tersebut, sekali lagi dengan memakai refrensi saya saat ini, saya juga mengalami encounter dengan pelbagai hal baru: Kisah Maha Bharata hadir tidak lagi sebagai dongeng lisan dari orang tua--sebagai pengantar tidur atau sejenis introduction sebelum melihat pertunjukan wayang live show--melainkan dalam bentuk kemasan media cetak yang dengan gemilang dimanfaatkan oleh R.A. Kosasih untuk menggeser posisi dan peran orang tua sebagai penutur, atau bahkan dalang sebagai penghidup wayang. Belakangan saya sadar bahwa membaca komik wayang karangan R.A. Kosasih adalah peristiwa yang melibatkan saya tidak sebagai penonton yang bisa merespon secara aktif setiap adegan yang dihidupkan oleh seorang dalang, melainkan hanya sebagai pembaca pasif yang melihat peristiwa-peristiwa dari sebuah jarak, baik historis maupun psikologis, yang sangat jauh. Membaca membuat saya hanya bisa merespon dalam diam, tak ada keterlibatan baik fisik maupun psikis. Seluruh emosi musti dikendalikan, diendapkan, menjadi sumber dari sebuah proses reflektif, sebab antara subjek yang membaca dan objek yang dibaca terdapat jarak yang sangat jelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada banyak pergeseran penting yang terjadi ketika wayang ditransformasikan dari panggung semalam suntuk menjadi lembaran-lembaran kertas bergambar yang bisa dibaca sambil tiduran. Pertama, secara gemilang teknik cetak telah mulai menggeser posisi individu, dari penonton yang sepenuhnya musti menerima otoritas dalang menjadi subjek yang sepenuhnya berkuasa untuk tetap membaca atau menghentikannya sama sekali jika ada aktivitas lain yang lebih penting. Seseorang yang meninggalkan pertunjukan wayang sebelum usai tidaklah sama dengan seorang pembaca komik wayang yang menutup halaman komiknya karena ia harus pergi ke sekolah madrasah sore hari, misalnya. Dalam kasus tersebut suspensi sebuah cerita bahkan harus mengalah pada desakan sektor hidup yang lain. Saya tentu akan dimarahi orangtua kalau sampai tidak masuk sekolah karena keasyikan membaca komik wayang. Suspensi yang tertunda akan kehilangan sekian banyak afeksi psikologis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, wayang yang digambar adalah objek mati yang tak bersuara. Dibaca juga dalam suasana sepi dan bisu. Maka membaca juga menuntut orang untuk menghormati privasi dan mengeliminir kecenderungan reaksioner. Ia mensyaratkan konsentrasi yang tidak sembarangan. Komunikasi yang terjadi adalah sebentuk duo-monologue antara si penulis cerita dan si pembaca--yang musti mengendapkan segenap impuls responsifnya. Moralnya adalah bahwa dengan membaca, orang diajari satu bentuk pengendalian diri dan emosi. Pengendalian diri paling mungkin bisa dicapai hanya jika tidak ada keterlibatan dengan momen-momen yang menarik perhatian kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang ketiga adalah reduksi ruang dan waktu. Pertunjukan seni tiga dimensi berubah jadi seni dwimatra. Pagelaran yang dimeriahkan dengan tetabuhan jadi sebentuk gambar bisu total. Seluruh adegan dan suara hanya berlangsung dalam bayangan atau asosiasi di kepala pembaca. Komunikasi yang terjadi kehilangan dimensi ritualnya dan hanya tinggal menjadi satu bentuk transmisi: penyampaian pesan moral dari penulis kepada pembaca. Jika kegiatan membaca berbenturan dengan aktivitas hidup yang lain, pesan-pesan tadi bahkan tidak bisa menemukan kondisi psikologis tertentu yang diperlukan sebelum sebuah pesan atau ajaran moral disampaikan. Di lain pihak, bagi seorang penulis, ia harus pula bertawar-menawar dengan tuntutan redaksional dan perhitungan cost-benefit-ratio suatu usaha penerbitan. Dengan kalimat lain, memampatkan waktu dan ruang sebuah pertunjukan semalam suntuk jadi beberapa jilid komik bergambar dalam banyak sisi juga harus berarti menghormati kaidah-kaidah ekonomi. Maka komik wayang akhirnya menjadi sebuah produk budaya industri yang harus berkompetisi dengan produk-produk lainnya. Wayang ketika ia menjadi sebuah cerita bergambar yang diperjualbelikan akhirnya tidak bisa mengelakkan logika pragmatis dan efisiensi ekonomis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain wayang, ayah saya, yang waktu itu bekerja sebagai seorang guru SD, juga mulai menebas supremasi kulturalnya sendiri, dan menyerahkannya kepada imajinasi si pembual Karl May. Kosasih dan May, dengan demikian, tanpa disadari telah mematahkan posisi simbolis Ayah saya, dan mulai memperbesar gravitasi rumah bagi anak yang baru gemar membaca. Membaca dan (apalagi) menulis mulai muncul sebagai sebuah nilai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di mana pun, perkenalan dengan tradisi baca-tulis senantiasa merupakan peristiwa yang mengguncang kesadaran. Apalagi bagi rakyat jelata. Sebab membaca dan menullis pertama kali adalah high-context culture, sedangkan tradisi lisan adalah low-context culture. Tulis-baca adalah pekerjaan halus dan hanya dikenal oleh kelas atas dalam struktur sosial masyarakat--mereka yang memiliki banyak waktu luang karena tidak perlu lagi mencari nafkah berkat adanya sistem tunjangan ekonomis. Oleh karena itu tidaklah mengherankan ketika kita mendengar pekabaran yang disampaikan oleh Levi Strauss, tentang pemujaan yang hampir bersifat aphoteosistik dari masyarakat primitif kepada mereka yang menguasai baca-tulis: yang bisa membaca dan menulis adalah para dewa, atau orang-orang yang dipercaya (atau mengaku) menjadi jelmaan sifat-sifatnya. Kemampuan klerikal, dengan demikian, merupakan penerus esoterisme jenis pengetahuan tertentu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tulis baca jadi pendorong ke arah demokratisasi pengetahuan setelah terjadi revolusi Gutenberg. Dan kita tahu ada tiga perkakas kecil yang sangat berarti dalam menentukan bulat-lonjongnya dunia kita ini, yakni mesiu, kompas, dan mesin cetak. Mesiu telah berhasil mendobrak otoritas kepala batu gereja yang memonopoli tafsir atas kebenaran di abad Pertengahan. Tragedi Galilei membuat orang makin cerewet bertanya tentang kebenaran pengetahuan gerejawi.[13] Kompas adalah perkakas yang dengan kesederhanaannya berhasil melebarkan dunia. Ruang semesta dibentangkan dan horizon pengalaman semakin dinisbikan. Kemudian mesin cetak bergerak merobohkan esoterisme pengetahuan klerikal. Deklerekisasi adalah fenomen yang secara manifest mencoba menolak absolutisme, dan mempromosikan relativisme. Klaim absolutisme tentang kebenaran terdakwa sebagai salah satu bentuk kejahatan intelektual. Akan tetapi latensinya deklerikasi juga bergerak ke arah pembedaan dan pemeliharaan batas kelas sosial masyarakat: yang bisa membaca dan menulis kemudian dibedakan dengan kelompok illeterate[14].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan membaca dan menulis, orang disarankan untuk melakukan penjarakan (detachment) terhadap realitas, termasuk realitas hidupnya sendiri, sehingga dunia menjadi sesuatu yang ada di luar yang, meminjam term Descartes, “res extensa”, sedangkan manusia adalah subjek atau “res cogitants”, yang mengamati atau yang memikirkan. Melalui prinsip cogito ergo sum, metode berpikir dualisme mengharuskan kita memusatkan orientasi kepada diri sendiri sebagai subjek.[15] Manusia menjadi sebuah mahkluk yang terpisah dari, dan pada saat yang sama berada di atas segala hal yang dipikirkannya. Maka manusia kemudian benar-benar menjadi khalifah di muka bumi dalam pengertian yang paling tiranis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di antara teman-teman sebaya, saya termasuk orang pertama yang masuk sebagai anggota termuda, di kampung saya tentu saja, kelompok kaum literacy yang sedang tumbuh bersama gelegak oil-boom di kota-kota. Dan itu tidak selalu harus berarti sesuatu yang istimewa. Saya masih ingat bagaimana dalam banyak hal saya bisa mengatasi teman-teman sepermainan, tapi pada saat yang sama, saya tidak memiliki sejumlah keterampilan yang lazim dimiliki oleh anak-anak kampung seusia saya. Misalnya, saya tidak pernah bisa pandai bermain egrang sebab waktu untuk itu saya habiskan untuk membaca buku cerita, komik, atau buku Taman Pamekar milik kakak saya yang ditulis menggunakan bahasa Sunda. Saya bahkan tidak bisa memanjat batang pohon kelapa, sesuatu yang justru jadi salah satu standar anak laki-laki di desa waktu itu, karena saya mulai mengenal resiko kecelakaan, mulai terlampau banyak pertimbangan. Saya lebih menghargai waktu untuk belajar ketimbang untuk bermain, satu hal yang sampai hari ini saya sesali dalam-dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahun 1972-1976, karena alasan dinas, ayah membawa keluarga saya pindah ke daerah pinggiran kota. Di sini makin terasa pudarnya wibawa mulut. Setiap ada pertarungan tinju Mohammad Ali, saya mulai kabur dari rumah untuk nonton TV di rumah tetangga. Di depan TV dua tradisi berbenturan: antara dramatisasi yang dihasilkan oleh media audio-visual[16], dan tradisi oral anak-anak yang musti bungkam di hadapan imperatif orang tua yang juga ikut nonton TV bersama. Televisi secara paradoks berhasil mengumpulkan sekian banyak orang sambil sekaligus menyekatnya untuk diam di bilik benaknya masing-masing. Nonton TV bersama dalam kebisuan, sebab ngobrol bisa menghancurkan perhatian. Respon penonton harus disesuaikan dengan materi paket siaran yang disajikan. Sebab siaran TV, sebagaimana media massa lain, adalah penyajian informasi yang dikontrol melalui mekanisme tertentu seperti sensor, misalnya. Komunikasi yang muncul juga merupakan monolog dan asimetris, sebab media semacam ini memang anti dialog. Gagasan demokratisasi pengetahuan melalui media massa, dengan demikian, pada akhirnya kerap terjebak ke dalam kecenderungan standarisasi media.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi pemiliknya, TV merupakan perlengkapan kultutal yang cukup penting untuk mendongkrak status sosial, menggantikan simbol-simbol lama. Ignas Kleden secara cerdas berhasil melihat paradoks TV dalam konteks masyarakat di Indonesia, terutama hubungan antara membengkaknya jumlah pemilikan TV dengan mulai makin memudarnya kohesi sosial antara warga masyarakat yang bersangkutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahun-tahun itu pula saya mulai mengenal lampu listrik. Di rumah ayah tak perlu lagi menyuruh saya atau kakak saya pergi ke warung membeli minyak tanah atau minyak spirtus. Maka kesempatan untuk ke luar rumah mulai berkurang minimal pada malam hari ketika ayah ada di rumah. Pagi hari sampai siang waktu saya habiskan di pusat kebudayaan baru, sekolah. Sore hari atau selepas maghrib saya musti belajar mengaji Qur’an di surau atau rumah sendiri. Lambatlaun kosmologi kedesaan saya mulai bergerak mendekati kosmologi pinggiran kota. Wayang golek yang telah lama saya kenal mulai bergesekan dengan film-film di bioskop, TV, atau komik-komik gambar Rintintin dan Superman lenkap dengan gambar-apungnya. Mulai saat itulah pada dasarnya saya belajar untuk menyesali masa lalu kebudayaan leluhur Nusantara. Gatotkaca yang terbang di tangan dalang atau dalam lukisan R.A. Kosasih bersaing dengan Superman, Batman dan Robin atau Zoro. Seingat saya, tidak pernah ada anak seusia saya yang kalau bermain perang-perangan mengidentifikasikan dirinya sebagai Gatotkaca atau Bima melainkan Superman, Godam, Batman atau Robin atau Zoro. Anak yang nakal tidak kami sebut Druna atau Sengkuni tapi Jin Kartubi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sekolah dekonstruksi terhadap sosok kebesaran nenek moyang juga berlangsung tanpa disadari ketika saya mulai tahu betapa tidak berdayanya kerajaan-kerajaan Nusantara menghadapi bangsa Kompeni atau Belanda. Bumbu-bumbu ideologis yang didoktrinkan guru-guru tentang kehebatan nenekmoyang, mungkin berhasil membuat kami kagum pada tokoh seperti Pati Unus atau Pangeran Diponegoro. Tapi yang paling mengagumkan saya waktu itu jelas Bung Karno dan Bung Hatta. Itu pun, tak pernah sekalipun saya mengidolakannya sebagai seorang hero yang layak diadu dengan Superman atau karakter-karakter komik Barat lainnya. Ayah berhasil meyakinkan kami, anak-anaknya, bahwa hanya pendidikan modernlah yang sanggup mencetak seorang besar se-Soekarno atau Hatta. Lebih dari itu, beliau bahkan menunjuk Superman sebagai salah satu contoh anak yang pernah sekolah di luar negeri. Belakangan, setelah masuk SMA, saya baru tahu bahwa “doktrin” seperti itu merupakan kepanjangan tangan dari gagasan Sutan Takdir Alisjahbana yang menolak masa “pra-Indonesia” dan menyebutnya sebagai zaman jahiliyah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Munculnya sistem pendidikan modern seperti yang kita kenal sampai sekarang, sebenarnya merupakan peristiwa lompatan kultural yang babakbelur dihantam benturan antar tradisi, pergeseran paradigma. Tradisi ngelmu kepada orang sakti ditantang oleh tradisi bersekolah. Esoterisme pengetahuan digocoh oleh liberalisasi pendidikan. Banguna-bangunan yang dalam pelbagai cerita lama disebut sebagai padepokan atau pesanggrahan disodok oleh SD atau Sekolah Rakyat. Pada level gagasan, pola hubungan personal-patrimonialistik antara begawan atau empu dan kyai dengan para cantrik atau santrinya, itu mulai dipatahkan oleh hubungan impersonal-birokratis antara guru atau dosen (mahaguru) dengan siswa atau mahasiswanya. Dalam praktik hubungan seperti itu memang tidak sepenuhnya langsung berubah, tapi paling tidak itu merupakan ideal yang disyaratkan oleh sistem pendidikan modern. Di sekolah pula membaca dan menulis dikokohkan sebagai sebuah paradigma baru, yang diyakini akan membantu mempercepat proses mutasi sosial ekonomis sebangsa dan setanah air. Dominasi metode berpikir intuitif dan konotatif a la Joyoboyo atau Ronggowarsito mulai dilecehkan oleh semangat yang diturunkan dari statemen-statemen denotatif ilmu pengetahuan modern[17]. Pembangunan sosial ekonomi senegeri telah menggusur pusat-pusat kearifan lama dan memindahkannya ke pusat-pusat baru, sekolah dan birokrasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah tradisi, sebuah paradigma bagaimana pun bukanlah tanpa interaksi dengan paradigma yang lain. Maka sekolah pun, di sini, berpagutan dengan persoalan-persoalan geliak sosial ekonomi dan politik. Dan ia bukanlah padepokan yang berhasil mengeringkan orientasi kemakmuran dan tahta melalui asketisme para resi. Sekolah adalah ruang yang rentan terhadap determinasi politik dan ekonomi. Kalau sudah begitu, lahirnya sekian banyak masalah yang terus kita hadapi hingga hari ini di bidang pendidikan hanya merupakan implikasi-implikasi praktis dari imposisi ekonomi di atas sektor-sektor kehidupan yang lain. Kita baru menyadari hari ini betapa konsepsi pertumbuhan model Rostowian[18] atau formula Angsa Terbang dari Saburo Ukito, yang dipakai oleh para arsitek Orde Baru dalam banyak hal telah melahirkan malapetaka yang menggiriskan. Di bidang pendidikan, liberalisasi yang dirancang untuk merontokkan klerikalisme justru melahirkan monopoli kearifan hidup[19], ke arah tafsir tunggal tentang kebenaran mendefinisikan dunia. Sebab pertumbuhan negara menyediakan ruang yang harus diisi oleh tenaga-tenaga terdidik, seperti ketika Belanda mengambil resiko besar dari pemberlakuan Politik Etis. Di titik inilah kita bisa memikirkan kembali preferensi menggabungkan khasanah intelektual dan kekuasaan.[20]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di rumah dan di sekolah saya senantiasa diyakinkan bahwa pengetahuan formal handal untuk segala soal. Pengetahuan direduksi hanya menjadi pernyataan-pernyataan denotatif. Sekolah muncul menjadi centrum yang dianggap menjadi sumber bagi setiap bentuk pengetahuan dan kecakapan yang dibutuhkan oleh (pembangunan) bangsa dan negara. Sejarah keberhasilan generasi Soekarno-Hatta melebihi Sultan Agung dan Teuku Umar mengantar ke terbentuknya, meminjam Ben Anderson[21], sebuah komunitas yang dibayangkan yang secara bersama-sama berjuang demi kemerdekaan, itu semakin menunjukkan betapa kebudayaan baca-tulis lebih unggul ketimbang kefasihan tradisi lisan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sekolah pula saya mulai berkenalan dengan peribahasa yang ditulis. Bukan lagi dituturkan dari mulut ke mulut. Wawangsalan dan paparikan menjadi sesuatu yang berjarak, dan saya mulai diajari bersikap kritis terhadap kata-kata warisan tersebut: sikap kritis yang sebagiannya muncul justru karena bentuk komunikasi yang tak berwajah. Padahal wajah manusia memiliki kemampuan sugesif begitu besar. Pantun dan talibun yang dijejalkan di kepala sekedar untuk dihapal siapa pencipta dan termasuk ke dalam kategori karya sastra apa, akhirnya toh musti menguap berhadapan dengan keharusan sofistikasi persoalan mencari makan, dan harus menepi ketika berhadapan dengan keliaran Chairil Anwar yang begitu ekspresif. Karya-karya sastra lisan juga makin pudar daya pikatnya ketika saya mulai membaca karya-karya sasrta angkatan Orde Baru yang berebut posisi dengan para jendral korban Gestapu dalam catatan sejarah tegaknya sebuah tatanan baru. Maka dalam penyelenggaraan yang kini disebut Indonesia ini, nasib tradisi lisan bukanlah anak tiri yang neglected, melainkan konsekwensi dari sebuah pilihan. Kekalahannya adalah bagian dari sociological fate sebuah nasionalisme yang tengah berbulan madu dengan impian modernitas, dengan proyek besar kapitalisme sejagat, dengan informasi yang mbludak banjir ke sana sini. Tapi pada saat yang sama kita kembali terpanggil untuk peduli pada muatan-muatan lokal, dan dalam keterlambatan tersebut kini kita hanya bisa mengulang penyesalan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi hidup kita hari ini, tradisi lisan memang hanya tinggal sebagai residu dari masa silam yang tertinggal di belakang. Sejak sekolah dasar—sebagai salah satu pusat tradisi baca-tulis—kita telah diajari untuk melihat kelisanan sebagai sebuah nasib malang. Nasib malang akibat terlambat menguasai baca-tulis. Terlambat menjalankan modernisasi.[22] Bangunan-bangunan sekolah seperti didirikan dengan latar belakang dendam dan sakit hati terhadap masa lalu: nasib perih sebagai bangsa korban imperialisme sejagat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Modernitas yang kita pahami dengan latar belakang seperti itu memang cenderung mengajari kita untuk menyalahkan diri sendiri. Pembangunan menjadi institusionalisasi rasa cemburu kepada progress—dalam pengertian ekonomi terutama—bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami mutasi historis. Maka kita seolah berada dalam ketegangan silang gagasan antara Rousseau dan Hobes. Di satu sisi kita bertekad untuk turut memutasikan sejarah sendiri, apa pun resikonya. Tapi di sisi lain kita tidak begitu sampai hati untuk memutus tegas hubungan dengan nenek moyang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya sadar kata-kata tak pernah selamanya mampu mewakili pikiran. Bahkan ia kerap memberontak dan lepas dari otoritas kontrol pikiran saya sendiri. Maka izinkan saya berhenti sambil tetap memelihara kedahsyatan hubungan semi imajinatif saya dengan penghuni Bojongpari—yang niscaya lebih arif memaknai dan mendefinisikan hidup bagi dirinya sendiri. Saya tidak merasa perlu mengajari mereka untuk membenamkan atau semakin mengangkat sejarahnya sendiri. Mereka memiliki kemampuan bukan sekedar untuk menulis tapi juga untuk mengkreasi sikap historis yang khas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ngrimpak, 28 Oktober 1993&lt;br /&gt;Makalah untuk Seminar Tradisi Lisan Nusantara, Jakarta 1993. Tidak dipresentasikan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1].                  C.P. Snow, The Two Cultures and A Second Look, Mentor Books, New York, 1964.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[2]. George Santayana, Reason in Religion, Collier Books, New York, 1960, hlm, 27-31.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[3].Tentang ritual view of cummunication dan transmission view of communication ini, lihat dalam James W. Carey, Communication as Culture, Essays on Media and Society, Unwin Hyman, Boston, 1989, hlm, 42-3. Periksa pula Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Second Edition, Wadsworth Publishing Company, California, 1983.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[4]. J.W. Booke, “Dualism in Colonial Societies”, dalam W.F. Wertheim, et.all, The Concept of Dualism in Theory and Policy, H. Van Hoeve, The Hawue, 1966.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[5]. Clifford Geertz, Involusi Pertanian, Bhratara, Jakarta, 1983.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[6]. Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures, basic Books, New York, 1973.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[7].                  Alain Tourine, The Psot Industrial Society, Wildwood House, london, 1974.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[8]. Term hegemoni yang saya pakai di sini adalah seperti apa yang dimaksud oleh Gramsci. Tentang Gramsci, lihat, misalnya, A. Davidson, Antonia Gramsi: Toward an Itellectual Biography, Merlin, london, 1977.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[9]. Secara intelektual saya sepenuhnya berhutang budi pada Johan Hizinga dalam Homo Ludens, Fungsi dan Hakekat Permainan Dalam Budaya, LP3ES, jakarta, 1990.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[10]. James C. Scott, Moral dan Ekonomi Petani, Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara, LP3ES, Jakarta, 1989.&lt;br /&gt;[11]. Hanya dua bulan setelah saya meninggalkan desa tersebut, awal 1994, seluruh dusun di desa Lowungu konon sudah diterangi listrik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[12]. Bell menunjuk adanya beberapa pergeseran radikal yang menandakan perpindahan dari masyarakat industrial menjadi masyarakat post-indutrial. Beberapa pergeseran tersebut misalnya adalah perubahan bentuk ekonomi barang menjadi jasa, struktur kelas baru yang berdimenasi pengetahuan dan teknologi, tegangan antara mode economizing dan sociologizing , serta tawar-menawar antara politisi dan teknorat dalam dominasi kekuasaan. Periksa Deniel Bell, The Comming of Post Industrial Society, A Venture in Social Forecasting, Penguin Books, New York, 1973. Lihat pula catatan kritisnya tentang masyarakat post-indutrial dalam The Public Interest 6 dan 7, edisi musim dingin tahun 1967, hlm, 24-35; dan edisi musim semi 1967, hlm, 102-118. Bandingkan dengan Alain Tourine, The Post Industrial Society, Wildwood House, London, 1974. Lihat pula Raymond Aron, Progress and Disillusion, New york, 1968.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[13]. Periksa J. Bronowski &amp; Bruce Mazlish, The Western Intellectual Tradition, Harper &amp; Row Publisher, New York, 1960; atau Bertrand Russel, A History of Western Philosophy, Simon and Schuster, New York, 1964.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[14]. Konsep tentang fungsi manifest dan fungsi latent dari sebuah fenomena sosial ini mengacu pada karya sosiolog Amerika, Robert K. Merton, yang dalam tulisan ini saya dapatkan dari Peter L. Berger dan Hansfried Kellner, Sosiologi Ditafsirkan Kembali, LP3ES, Jakarta, 1985&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[15]. Tentang konsep Descarte ini, periksa René Descartes, “Discourse on the Method of Rightly Conducting the Reason and Seeking the Truth in the Science”, dalam Saxe Comins &amp; Robert N. Linscott, The Philosopher of Science, Modern Pocke Library, New york, 1954, hlm, 163-220.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[16]. Dalam salah satu karyanya yang terkenal, The Cultural Contradiciton of Capitalism, sosiolog Daniel Bell antara lain pernah menulis sebagai berikut:&lt;br /&gt;    “Media visual--yang dimaksud di sini adalah film dan televisi--mengimposisikan ajarannya pada para pemirsa dan, dengan penekanan lebih pada citra daripada kata-kata, mengundang bukan konseptualisasi melainkan dramatisasi. Dalam penekanan seperti itu berita-berita TV tentang gencana dan tragedi manusia, ia mengundang bukan kejernihan atau pemahaman melainkan sentimetalitas dan rasa haru, emosi yang cepat habis terkuras, dan pseudo-ritual tentang pseudo-partisipasi dalam peristiwa-peristiwa tersebut.” (Hlm, 107).&lt;br /&gt;[17]. Ijinkan saya menyetuji Jean François Lyotard bahwa pengetahuan tidak bisa secara uum direduksi menjadi pengetahuan ilmiah (sains) atau bahkan aktivitas belajar (learning/connaissance). Pengetahuan (savoir), kata Lyotard, bukan hanya seperangkat pernyataan denotatif. Sebab ia juga mencakup gagasan tentang “know-how”, “knowing how to live,” “how to listen” (savoir faire, savoir vivre, savoir ecouter) dan sebagainya. Periksa Lyotard, The Postmodern Condition: A Report on Knowldge, Manchester University Press, 1984, hlm, 18.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[18] . Saya juga membaca telaah kritis yang dilakukan oleh Suwarsono dan alvin Y. So, Perubahan sosial dan Pembangunan di Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1991, tentang pelbagaiparadigam pembangunan yang dipakai di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[19] Dalam “Song of the Open Road”, Walt Whitman mengukuhkan pendiriannya: “Here is the test of wisdom, Wisdom is not finally tested in schools, Wisdom can not be pass”d from one having it to another not having it, Wisdom is of the soul, is not susceptible of proof, is its own proof…” diambil dari Walt Whitman, Leaves of Grass, Mentor Books, 1954, hlm, 138.&lt;br /&gt;[20]. Saya tidak bermaksud menjadi pendukung penuh Karl Mannheim yang dalam Ideology and Utopia, Harvest Books, New York, 1936, menggagaskan sosicaly free-floating intellectual. Saya hanya ingin menekankan betapa posisi intelektual adalah rawan terhadap kooptasi kekuasaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[21]. Periksa Bennedict R.O.G Anderson, Imagined Communities, Reflection on the Origin and Spread of Nationalism, Verso Edition and NLB, London, 1983. Lihat pula ulasan kritis Ross Poole tentang nasionalisme dan tentang komunitas imajiner dalam Moralitas &amp; Modernitas, Di Bawah Bayang-bayang Nihilisme, Kanisius, Yogyakarta, 1993, terutama Bab 5, Komunitas Khayal: Negara dan Kebangsaan.&lt;br /&gt;[22]. Lerner, misalnya, menyatakan bahwa literasi (melek huruf) merupakan salah satu tingkatan yang musti dilalui oleh suatu masyarakat dalam proses modernisasi. Periksa Daniele Lerner, “Technology, Communication and Change” dalam Wilbur Schramm and Daniel Lerner, Communication and Change, University Press of Hawaii, Honolulu, 1976, hlm, 287-301.&lt;br /&gt;Sumber:&lt;a href="http://www.interseksi.org/publications/essays/articles/lisan.html"&gt;http://www.interseksi.org/publications/essays/articles/lisan.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-5556483776081312240?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/5556483776081312240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=5556483776081312240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/5556483776081312240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/5556483776081312240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/10/kekalahan-tradisi-lisan-merenungkan.html' title='Kekalahan Tradisi Lisan: Merenungkan Bojongpari'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-4211525946929895389</id><published>2011-10-07T18:33:00.000-07:00</published><updated>2011-10-07T18:34:43.742-07:00</updated><title type='text'>Ratifikasi Konvensi UNESCO 2005</title><content type='html'>Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan seminar bertema Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Keanekaragaman Ekspresi Budaya. Seminar selama dua hari, yaitu 5-6 Oktober, selain membahas upaya perlindungan warisan budaya takbenda, juga membahas rencana Indonesia untuk meratifikasi konvensi UNESCO tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konvensi itu berisi tentang Proteksi dan Promosi Keanekaragaman Ekspresi Budaya (Convention on the Protection and promotion of the Diversity of Cultural Expressions).&lt;br /&gt;Tujuan seminar ini adalah agar pemerintah mendapatkan masukan akan manfaat dan kewajiban yang harus dijalani, seandainya Indonesia meratifikasi konvensi UNESCO 2005.&lt;br /&gt;Pertemuan tersebut diikuti 30 peserta dari para pemangku kepentingan  yang terkait dengan pelestarian budaya.&lt;br /&gt;Narasumber seminar dari berbagai negara, yaitu antara lain (dari Indonesia) Gaura Mancacaritadipura, Prof Sri Hastanto, Prof Dr Agus Sardjono, Prof Dr Aman Wirakartakusumah; (dari Cina) Mr Yang Zhi;  (dari Korea) Dr Seong-Yong Park; (dari Vietnam) Dr Le Thi Minh Ly; (dari Australia) Prof Dr Amaneswar Galla; dan dari Jepang Michi Tomioka, MA.&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Drs Ukus Kuswara, mengatakan, strategi pemerintah pusat dalam pelestarian dan perlindungan kebudayaan dilakukan dengan dua strategi, yaitu dengan daya budi dan budidaya.&lt;br /&gt;Daya budi yang dimaksud adalah mendayabudikan jati diri, budi pekerti, dan karakter bangsa. Sedangkan budidaya adalah membudidayakan ruang ekspresi budaya yang ada, memberikan manfaat budaya bagi masyarakat dan meningkatkan ekonomi kreatif berbasis budaya.&lt;br /&gt;"Strategi ini difokuskan ke daerah-daerah perbatasan di Indonesia, daerah rawan konflik, dan daerah yang kehidupan perekonomiannya lemah," kata Ukus.&lt;br /&gt;Salah satu hal yang menarik dalam seminar ini adalah akan dibahasnya, persoalan Hak Kekayaan Intelektual dalam pengelolaan aset budaya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-4211525946929895389?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/4211525946929895389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=4211525946929895389' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4211525946929895389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4211525946929895389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/10/ratifikasi-konvensi-unesco-2005.html' title='Ratifikasi Konvensi UNESCO 2005'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-3649801175045361756</id><published>2011-06-28T23:14:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T23:17:17.663-07:00</updated><title type='text'>Dari Papyrus Ke Paperless</title><content type='html'>Berkat akal budinya, manusia dapat mengabadikan kesejarahan dunia ini, baik berupa dunia-luar yang kasat mata maupun dunia–dalam yang ada dalam relung hati, fikiran dan emosi.  Hanya dengan  menggunakan 26 huruf seluruh pengalaman bahkan angan-angan masa depan manusia dapat ditungkan kedalam lembaran-lembaran kertas yang kemudian dijilid. Benda inilah yang kita sebut buku.   &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apakah buku itu? Jawaban atas pertanyaan itu sangat tergantung pada ketertarikan kita, apakah pada karakteristik  fisiknya atau kegunaannya. Berdasarkan tampilan fisiknya, sesuatu bisa dikatakan buku apabila terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang disusun dan kemudian dirapihkan pada keempat tepinya serta dilindungi pada bagian depan dan belakangnya dengan sampul yang agak tebal dan bahannya tahan lama. Dalam pengertian sederhana ini, tidak hanya novel atau kitab tafsir saja, namun buku cek, buku kas atau buku nota juga bisa dikatakan sebuah buku.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kegunaannya, sesuatu dikatakan buku apabila terdiri dari rangkaian informasi atau data yang bermakna yang saling berkaitan sercara sistematis dan bernalar. Buku merupakan komunikasi tertulis yang disusun untuk tujuan presentasi dan pemeliharaan sumber-sumber informasi berharga. Yang membedakan buku dengan berbagai bentuk komunikasi lainnya yang sifatnya tidak abadi, yaitu buku memiliki nilai pemeliharaan,  menyimpan pengalaman, pengamatan, serta pemikiran kritis yang berguna untuk jangka panjang.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada catatan sejarah yang mengatakan pada kita kapan budaya keaksaraan mulai masuk di Indonesia. Padahal kalau ada, itu bisa dijadikan sebuah tonggak untuk mengetahui kapan sesungguhnya bangsa Indonesia ini mulai mengenal dan dikenal dunia. Fakta sejarah yang ada hanya menyuguhkan sebuah kenyataan yang memilukan bahwa pada saat Indonesia meredeka  90% jumlah penduduknya buta huruf.  Menelusuri sejarah buku pada hakikatnya sama dengan mengikuti perjalanan peradaban sebuah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman kuno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku pada awalnya digunakan sebagai pemeliharaan tradisi yg disampaikan secara lisan agar tidak punah. Kepunahan ini diakibatkan karena keterbatasan daya ingat dan daya tampung  memori manusia. Pada umumnya yang menjadi isi buku pada zaman ini adalah ramuan obat, sihir, doa dan ritual, cerita kepahlawanan dan hikayat, silsilah kerajaan atau pemerintahan, hukum-hukum, pengalaman medis, dan pengamatan tentang alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya hasil karya ini hanya dibuat satu salinan dari tulisan asli, kemudian salinan ini dapat diperbanyak berdasarkan kebutuhan. Kemampuan untuk memperbanyak tulisan ini merupakan salah satu faktor penting dalam perjalanan sejarah kebudayaan Barat. Pada masa Romawi kuno, ratusan salinan hasil karya penulis terkenal diproduksi dalam waktu yang relatif singkat. Pada zaman Romawi ini juga, alat pencetak hanya mampu mencetak ribuan salinan. Berbeda dengan  era mesin seperti sekarang ini, buku dapat dicetak hingga jutaan kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan tentu saja usianya jauh lebih tua dari buku. Tulisan awalnya dibuat di atas bermacam permukaan bahan yang mudah rusak. Kemudian beralih pada media yang tahan lama seperti  prasasti yang banyak terdapat di atas batu,  logam, kayu, dan tanah liat, walaupun sedikit jumlahnya. Dalam hal ini kita boleh berbeda pendapat apakah kita akan menggunakan istilah “buku” untuk lembaran-lembaran tanah liat dari zaman Mesopotamia kuno, dimana terdapat kumpulan tulisan kuno mengenai hukum-hukum dan cerita kepahlawanan Gilgamesh dalam bentuk baji. Kita juga pernah mengetahui buku dari zaman Mesir, Yunani, dan Romawi kuno. Buku ini diterima secara menyeluruh sebagai sarana penyampaian nilai-nilai yang bersifat abadi. Buku ini diproduksi dan dijual dalam banyak kopi dengan ukuran yang sudah distandarisasi, dibaca dan dikoleksi sebanyak buku yang beredar pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang paling terkenal pada zaman Mesir kuno di antaranya adalah buku-buku tentang kematian, yang diperuntukkan sebagai persiapan bagi jiwa-jiwa yang akan pergi untuk membimbing mereka menuju dunia lain dan memberikan penjelasan mengenai pengadilan yang telah menanti mereka. Bahan yang digunakan untuk jenis buku ini—dan  kebanyakan buku kuno lainnya—adalah  lontar , yang banyak terdapat di delta sungai Nil. Tanaman lontar ini dipotong menjadi potongan-potongan yang diletakkan menyilang dan berlapis, kemudian ditumbuk dan digosok menjadi lambaran-lembaran halus yang dianyam sehingga menjadi gulungan-gulungan panjang, yang dibelitkan pada sebuah batang – omphalos (Yunani), umbilicus (Latin), atau pusatnya buku. Pada bagian luarnya, gulungan ini dilindungi oleh sampul perkamen atau pipa, terkadang diberi warna sesuai dengan kode yang telah ditentukan, setiap warna menunjukkan kategori utama  dimana setiap tulisan seharusnya berada. Hal ini mempermudah seseorang untuk mengidentifikasi gulungan tanpa harus melepas ikatannya. Kemudian label yang dibuat dari kulit binatang ditambahkan, yang isinya adalah nama penulis beserta hasil karyanya. Orang Romawi menyebutnya titulus – kita mengenalnya dengan “title”. Orang Yunani dan Romawi menempatkan kolom-kolom tulisan dari kiri ke kanan secara berurutan. Panjang garis atau lebar kolom ditentukan dalam satuan heksameter—yang  memungkinkan dibaca dengan mudah atau dibaca sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan sampul buku diawali dengan foto penulis—hal  yang menandai munculnya sampul muka, yang usianya 2000 tahun lebih tua dibandingkan dengan halaman judul. Ilustrasi pada sampul buku kuno seringkali diambil secara alami, contohnya diagram-diagram matematis dan astronomi, serta gambar-gambar tanaman untuk obat. Ditemukan bukti bahwa di dalam beberapa buku terdapat syair-syair kepahlawanan Homer dan Virgil yang termasyur, serta ditemukan pula gambar pertunjukan Terence. Dipercaya juga bahwa Homer dan beberapa alkitab merupakan awal mula buku yang berisi banyak gambar dengan sedikit atau bahkan tanpa teks, dimana cerita-cerita ini telah berkembang sebelum murid-murid di sekolah dan keluarga-keluarga berkumpul untuk menikmati gambar-gambar yang ditayangkan di bioskop atau layar televisi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Hellenistic, jilidan-jilidan kuno ini dikelompokkan ke dalam “tomes”, dari bahasa Yunani yang artinya memotong. Jilidan ini terdiri dari karya tunggal sebanyak sepuluh buah, yang disimpan dalam wadah-wadah khusus berbertuk silinder. Proses yang dilakukan oleh bagian fisik dan editorial ini dikerjakan dengan sistematis di Perpustakaan Besar Ptolemies di Alexandria, dimana di tempat ini banyak ditemukan pula gulungan-gulungan buku yang terbuat dari lontar dalam banyak salinan. Koleksi-koleksi ini dikumpulkan dan dipelihara dari abad 3 sebelum masehi sampai dengan abad 5 sesudah masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya jumlah buku yang ada di perpustakaan Alexandria pada saat itu merupakan bukti perkembangan peradaban Yunani sebagai kelanjutan dari kepemimpinan Alexander Yang Agung. Sebelumnya, Athena telah menjadi bukan hanya sebagai pusat perkembangan dunia barat, namun juga pusat penjualan buku yang terorganisir dengan baik, dan memiliki cakupan sistem distribusi sampai ke selatan Perancis, Afrika utara, dan timur dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjualan buku Romawi ciri-cirinya adalah dengan sistem produksi dalam jumlah besar bagi karya-karya baru untuk mengantisipasi penerbitan buku setelah abad pertengahan. Gulungan dari lontar diproduksi dalam ukuran dan kualitas standar, yang panjangnya dianggap berpengaruh pada komposisi kesusastraan. Perbanyakan dilakukan dengan mendikte atau mengkopi dari salinan master yang terjaga dengan baik. Penjualan buku dipusatkan di beberapa lokasi yang ada di kota. Terdapat pula toko-toko eceran dan toko-toko barang bekas, serta bisnis ekspor yang berkembang cepat. Dengan adanya disintegrasi  kekaisaran Romawi, perdagangan buku kehilangan banyak kekuatan karakternya. Penerbitan tulisan baru yang tersistematis akhirnya terhenti, namun tetap mampu bertahan di Roma selama abad pertengahan dalam bentuk jual beli naskah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Abad Pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampilan fisik dan  fungsi sosial buku  mengalami perubahan penting pada permulaan abad pertengahan. Gulungan-gulungan digantikan dengan codex,  kumpulan lipatan lembaran yang dilindungi dengan penutup dari bahan kayu yang kokoh dan berat, yang notabene merupakan cikal bakal buku modern. Perubahan dari bentuk gulungan menjadi codex terjadi secara berangsur; berlangsung lebih dari beberapa ratus tahun. Barulah pada abad ke-4 setelah masehi proses perubahan ini selesai. Perubahan ini didorong oleh keinginan untuk menghilangkan ketidaknyamanan buku dalam bentuk gulungan, dimana seseorang tidak dapat membukanya lebih dari satu halaman pada satu waktu, sangat sulit untuk mencari sesuatu secara cepat, dan sangat sulit untuk membolak-balik referensi. Peningkatan penggunaan buku dalam acara kebaktian umat Kristen dan kegiatan-kegiatan resmi lainnya juga ikut mempercepat perubahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengerjaan serta bahan yang dipergunakan sebelumnya kemudian dimodifikasi mengikuti tuntutan zaman. Kata “codex” awalnya menandakan sebongkah atau bagian dari  kayu. Dalam perkembangannya, istilah ini telah digunakan untuk buku nota kecil, yang terdiri dari lembaran kayu yang diberi lapisan lilin untuk tempat menulis, dan saling dikaitkan oleh lingkaran (rings), seperti pada ring penjilid buku modern. Seseorang menulis dengan menggunakan jarum/pena yang digunakan untuk menulis di atas stensil, dan spatula kecil yang datar untuk menghapus tulisan, seperti hapusan pada pensil modern. Di antara papan kayu diselipkan lembaran tambahan secara bertahap, biasanya terbuat dari perkamen, yang dapat dilipat dengan lebih mudah dan lebih tahan lama daripada lontar yang rapuh dan berserabut. Pada akhirnya, hanya tinggal dua papan kayu bagian terluar yang tinggal, menopang lipatan lembaran yang saling berkaitan di bagian belakangnya, dan dilekatkan pada  sampulnya oleh tali kulit penghubung yang kuat. Penggunaan perkamen sebagai alas untuk menulis sudah  umum digunakan di wilayah timur dekat; contohnya gulungan buku dari zaman Palestina dan Persia kuno yang terbuat dari kulit hewan, baik  diberi warna coklat seperti warna kulit atau diputihkan, diulurkan, dan digosok-gosok sebagai perkamen atau naskah yang ditulis pada kulit binatang. Istilah “perkamen” atau “pergamenum” diambil dari kota Pergamum, pusat pembelajaran, dimana pada abad ke-2 sebelum masehi, Raja Eumenes II mendirikan perpustakaan sebagai tandingan perpustakaan Ptolemies.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di wilayah timur jauh, buku-buku Cina dan Jepang juga mengalami perubahan yang sama, yaitu dari bentuk gulungan menjadi lipatan lembaran yang dilindungi sampul, akan tetapi proses perubahannya jauh lebih sederhana. Buku yang mempunyai lipatan seperti akordeon merupakan salah satu bentuk perkembangan yang terjadi; yang mana gulungan dapat ditukar menjadi rangkaian halaman yang lebih mudah dibuka hanya dengan melipatnya. Dengan menjahit lembaran-lembaran  sepanjang salah satu sisinya, bentuk buku yang paling sederhana telah dihasilkan, sebuah bentuk yang telah bertahan di Cina dan Jepang dari permulaan hingga saat ini. Jenis buku ini dapat dikenali dengan mudah karena  dicetak (atau ditulis) hanya pada satu sisi, dengan sisi yang lain dibiarkan tidak terpotong.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang beredar di Barat berasal dari codex. Hingga munculnya keahlian yang memprakarsai munculnya jenis-jenis pencetakan yang lebih dinamis, selama lebih dari seribu tahun. Papan-papan kayu yang berat, biasanya terbuat dari pohon eik tua, masih tetap digunakan oleh umat Kristen hingga era Renaisans. Kebanyakan naskah-naskah penting memiliki papan-papan yang dihias dengan bahan-bahan bermutu tinggi; gading, emas, dan perak, yang dikerjakan oleh tenaga-tenaga pilihan dengan beragam tekhnik pandai emas, ditaburi dengan perhiasan dan batu-batu mulia, serta polanya dirancang sesuai dengan simbol-simbol Kristen. Kulit anak sapi berwarna coklat merupakan bahan sampul paforit yang kemudian dihiasi dengan bahan  yang menimbulkan kilauan, serta cuir cisele (kulit yang dibuat dengan teknik dan alat-alat pandai emas). Pada akhir abad pertengahan bahan-bahan tersebut diganti dengan gulungan, cap hias, dan peralatan dari emas. Kebanyakan teknik yang dipakai di  Eropa ini berasal dari dunia Arab,  sebagai bangsa pelopor dalam  penjilidan yang menggunakan hiasan kulit, sekitar abad ke-6.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilidan yang paling sederhana dari abad pertengahan  adalah sarung buku yang dibuat dari  kulit binatang. Sepanjang abad pertengahan, bagian punggung buku tetap dibiarkan tanpa hiasan dan tanpa tanda pengenal. Karena pada masa ini buku masih jarang dan penambahannya pun masih sangat sedikit, maka buku disimpan dengan digelatakan di rak atau meja. Pada saat  jumlah buku semakin banyak dan tempat penyimpanannya menjadi langka, maka buku ditempatkan berdiri tegak dengan hanya bagian punggungnya yang terlihat. Dalam posisi ini, pencantuman nama penulis, judul, serta informasi lain yang terdapat pada punggung buku menjadi sangat penting.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah abad pertengahan tidak memiliki halaman judul. Dimulai dengan incipit (“dari sini dimulai”) diikuti dengan gambaran singkat mengenai isi. Pada bagian akhir muncul explicit, yang berarti (“disini dikembangkan”) atau (“pemaparan sampai akhir”). Codex sinaiticus sangat terkenal di museum Inggris, merupakan naskah alkitab abad ke-4, memiliki tidak kurang dari empat kolom pada setiap halamannya. Peraturan umum yang digunakan saat ini adalah satu atau dua kolom per halaman untuk setiap bentuk codex.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, setiap bab dan sub-bab pada naskah-naskah abad pertengahan ditampilkan dengan hiasan-hiasan dan bentuk-bentuk huruf yang tidak hanya menambah keindahan halaman tersebut, namun juga mampu memudahkan pembacanya.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pembaca zaman modern, yang terbiasa membaca tulisan dengan huruf yang sudah terstandarisasi dalam bentuk roman dan italic, naskah-naskah abad pertengahan dianggap memiliki keragaman kreatifitas yang tak terbatas. Tulisan pada abad pertengahan ini sebagian ditentukan oleh gaya menulis indah (kaligrafi), dan sebagian lagi oleh kebiasaan setempat. Ini juga dipengaruhi oleh perubahan pada struktur abjad. Codex-codex terdahulu ditulis dengan menggunakan huruf-huruf kapital formal, seperti pada gulungan-gulungan buku bangsa Yunani dan Latin. Untuk non formal, digunakan tulisan dengan karakter huruf latin cursive pada zaman Romawi kuno unutk korespondensi pribadi dan catatan bisnis, namun bentuk ini penerimaannya sangat lambat. Barulah  pada abad ke-9, pada masa pemerintahan Charlemagne, huruf-hruf kecil dapat diterima secara umum dan distandarisasi. Huruf-huruf kecil ini merupakan asal-usul huruf-huruf kecil Romawi yang ada saat ini. Huruf kapital Romawi berasal dari prasasti Romawi pada abad ke-1 sesudah Masehi.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Huruf-huruf kecil dan kapital bentuk Gothic berasal dari perkembangan gaya gothic abad 12. Huruf-huruf menjadi lebih tipis tapi kelihatan jelas. Kolom tulisan lebih panjang dan sempit. Hal ini dilakukan untuk menghemat ruang dan bahan yang digunakan untuk menulis, karena pada halaman yang tersedia pada kebanyakan naskah-naskah gothic sering diisi dengan hiasan-hiasan berwarna.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi memainkan peranan penting dalam naskah-naskah abad pertengahan. Biasanya memakai  hiasan yang dibuat dengan menggunakan kuas halus dalam warna-warna yang cemerlang, sering juga sebagai latar belakang menggunakan warna emas berkilau. Beberapa ilustrasi digambar dengan pena dan tinta, dan pada abad 14 dan 15 diwarnai dengan cat air dengan warna yang menyala (terang). Tema dan hiasan buku-buku abad pertengahan bersifat religius. Gambar-gambar yang diambil dari alkitab, lukisan para penginjil, dan legenda orang suci menjadi subyek yang sering digunakan. Gambar-gambar dari perjanjian lama dan baru dipilih, digunakan untuk menunjukkan perjanjian baru sebagai perwujudan dari ramalan atau prediksi lama. Gambar-gambar yang bersifat sekuler ditemukan pada masa-masa awal Kristen, dari mulai abad 13, lalu berkembang hingga menempati posisi penting.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi yang bersifat sekuler mencerminkan kondisi disaat buku diproduksi dan didistribusikan. Dengan jatuhnya kekaisaran Romawi, perdagangan buku zaman Romawi klasik turun sampai angka terendah. Produksi buku-buku non komersil mengambil alih. Kenyataan bahwa proses penyalinan naskah asli dilakukan oleh para biarawan, sangat mempengaruhi proses penyebaran budaya. Salinan dari beberapa penulis yang karyanya dianggap memberikan kontribusi penting terhadap tradisi Kristiani, menjadi bahan yang sangat berpengaruh. Ayat-ayat dalam alkitab beserta penjelasan-penjelasannya, buku-buku tentang tata cara peribadatan, tulisan para pendeta, bahan pembelajaran dari filsuf Keristen yang hebat dan dari para biarawan/biarawati, menjadi penyebab utama produksi naskah-naskah kebiaraan. Kombinasi antara kemampuan ahli teologi, keahlian penulis, dan seorang ilustrator yang merupakan artis dengan tingkat kreativitas tinggi, telah menghsilkan buku dengan nilai dan keindahan yang tak tertandingi. Naskah-naskah ini biasanya dibuat untuk orang-orang penting—seorang  kaisar, raja atau ratu, para pendeta/pastor, dan bangsawan.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca buku-buku abad pertengahan mulai meningkat sejak abad ke-13. Ketertarikan baru pada ilmu pengetahuan dan filsafat, kemajuan bahasa dan literatur modern, perkembangan baru pada bidang puisi, serta kemunculan studi humaniora dan pendidikan non-ilmiah baik bersifat religius maupun sekuler – telah mempercepat produksi buku-buku abad pertengahan. Pada awal kemunculan beberapa universitas di Eropa, ditemukan peningkatan penjualan buku sekuler. Adalah Stationer, dibawah pengawasan ketat oleh otoritas kampus, yang meyimpan buku-buku pelajaran. Dia menjual salinannya, atau meminjamkan kepada para mahasiswa untuk diperbanyak. Pemunculan naskah-naskah sekuler lainnya dimulai dengan produksi salinan naskah roman-roman populer dan sejarah yang dilakukan oleh notaris, penulis, dan kepala sekolah dengan murah. Aktifitas mereka ini dapat dianggap sebagai awal dari penjualan dan penerbitan buku-buku modern.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk diketahui bahwa perkembangan ini diawali dengan peralihan proses penerbitan menuju proses yang lebih dinamis. Kenaikan permintaan akan buku-buku murah ditangkap oleh para pengusaha di luar gereja. Mereka mulai memproduksi dengan menggunakan bantuan penulis dan ilustrator dari luar kota yang terorganisir dalam berbagai serikat kerja. Gereja pada akhirnya menemukan sarana untuk mendorong produksi buku-buku religius populer, yang sebagian besarnya merupakan buku bergambar dan berwarna, seperti the Poor Man’s Bible atau the Mirror of Human Salvation. Buku-buku ini tidak banyak dan diprioritaskan untuk kelas bawah maupun para pendeta yang menggunakannya untuk khotbah dan pengarahan-pengarahan kebiaraan. Buku generasi awal.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan alat pencetak merupakan momen terpenting dalam sejarah buku. Penemuan yang terjadi pada permulaan era modern ini memungkinkan buku untuk tidak hanya mempertahankan posisi pentingnya dalam transmisi budaya, namun juga untuk memiliki tanggung jawab baru sepanjang 5 abad penemuan dan perkembangan Iptek, serta dalam perkembangan era komunikasi yang sangat cepat.            Perubahan yang diakibatkan oleh penemuan alat cetak ini tidak secara cepat dapat dilihat. Memerlukan beberapa abad bagi buku-buku cetak untuk mengembangkan bentuknya sendiri, tanpa didominasi oleh nilai-nilai estetika naskah abad pertengahan. Tujuan alat cetak ini adalah produksi yang lebih cepat dengan harga yang lebih murah dari harga-harga buku yang sudah ada. Tokoh utama dalam penemuan alat cetak di Eropa adalah Johann Gutenberg, seorang bangsawan dari Mainz. Selama tiga dekade, antara tahun 1430 dan 1460, dia mengembangkan alat cetak dari bahan logam yang dapat digerakkan di atas mesin cetak dari kayu. Dia menciptakan alat cetaknya dengan melubangi sebuah logam, mencetaknya dari sebuah matriks, dan dari sini dituangkan cetakan khusus berisi sejumlah karakter yang diinginkan. Tipe ini dapat diatur dengan menggunakan tangan, dan dikunci pada dasar tingkat alat pencetak. Proses ini menghasilkan kesan lembut pada setiap lembar kertas yang dibuat oleh tangan ini, yang menunjukkan keserasian dan keindahan yang jarang ditemukan pada alat-alat cetak berikutnya.            Gutenberg tidak harus menciptakan semua elemen dalam penemuan alat cetaknya ini. Kertas telah diperkenalkan di Eropa dari Asia Timur sekurang-kurangnya 250 tahun sebelumnya. Cetakan papan juga berasal dari Cina, dan telah digunakan di Eropa untuk cetakan tekstil, bermain kartu, dan untuk selebaran yang memuat gambar beberapa orang suci. Kombinasi sejumlah papan kayu, masing-masing dengan gambar dan teks, menghasilkan apa yang disebut “block books”. Dicetak hanya dengan menggunakan proses penjiplakan sederhana, buku ini merupakan peralihan dari bentuk selebaran ke buku yang dicetak dari alat cetak yang bisa digerakkan.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya Gutenberg yang bekerja dengan menggunakan alat cetak yang bisa digerakkan ini. Ditemukan bukti bahwa di bagian lain di Eropa juga menggunakan jenis alat ini. Antara tahun 1450-1455 di Mainz, Alkitab Gutenberg yang agung diciptakan. Masih di Mainz, Johann Fust dan Peter Schoeffer memproduksi Psalter yang pertama (1457-1459), dan the Cannon of the Mask (1458). Dua warna serta hiasan pinggir yang indah yang ditampilkan dalam buku-buku ini dicetak dari papan khusus yang diciptakan oleh Gutenberg. Di pertengahan abad 20, ditemukan bukti bahwa Gutenberg juga berkeinginan untuk membuat miniatur dengan bantuan sarana percetakan, dan untuk tujuan ini dia mengembangkan ukiran tembaga. Missale speciale constantiense, yang dicetak dari alat pemotong sederhana yang digunakan dalam Mainz Psalters, dianggap merupakan salah satu eksperimen Gutenberg untuk memproduksi buku-bukunya yang terkenal.            &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mainz seni percetakan baru ini menyebar ke Belanda dan Inggris, kemudian ke Strasbourg, Basel, dan Lyon, ke arah barat Paris, dan ke Italia. Akhirnya, menyebar ke seluruh Eropa hingga seluruh dunia.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku yang dicetak pada abad 15 disebut incunable atau incunabulum, dari bahasa Latin yang berarti “pita pengikat” atau “ayunan”. Tipikal buku ini adalah tebal dengan ukuran kuarto besar, diikat oleh kerai kulit anak sapi yang sudah dibubuhi tanda pada papan kayu. Tidak memiliki halaman judul, namun halaman pertamanya sering dihiasi dengan hiasan yang rumit pada tepinya, dan dengan huruf-huruf yang dicetak dari bongkahan kayu dan berwarna, biasanya merah dan biru.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks biasanya berbentuk seperti rubrik, dimana permulaan kalimat, bab, dan sub bagian lainnya dicetak dalam warna merah atau biru. Catatan kecil ditampilkan pada halaman terakhir, yang memuat tempat dan tanggal cetakan, serta nama percetakannya. Ketiadaan informasi ini digantikan oleh dekorasi cetakan yang mewakili identitas si pencetak.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam tulisan yang menawan pada buku-buku cetakan awal menunjukkan peningkatan keahlian dalam naskah-naskah tulisan tangan. Jenis Gothic yang merupakan huruf-huruf formal yang besar dan tegas umumnya digunakan untuk  buku-buku peribadatan, dan untuk keperluan urusan yang formal (biasanya di Italia); huruf Gothic yang lebih kecil biasanya dipakai untuk buku-buku teks dan buku kerja bangsa Latin, sedangkan tulisan cursive untuk buku cerita dalam bahasa sehari-hari. William Caxton, menggunakan lettres batardes untuk edisi chaucer-nya, dan beberapa peristiwa penting dari literatur Inggris awal lainnya. Tulisan yang memadukan roman dan gothic disebut free humanistica digunakan untuk beberapa edisi awal buku-buku pelajaran dan buku klasik. Tulisan Roman yang sering digunakan oleh kita saat ini,  dan banyak digunakan di Italia—dimana  “humanistic bookhand” telah dikembangkan pada abad 15. Di Venisia-lah huruf-huruf roman yang terkenal diciptakan, dan nama Nicolas Jenson sering dihubungkan dengan prestasi ini.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ilustrasi yang paling banyak ditemukan pada buku-buku cetakan awal bersifat sederhana, dan dihiasi dengan paparan cerita dalam bentuk ukiran kayu yang primitif namun jelas, terkadang diperkaya dengan tekstur dan pola yang rumit. Seniman Jerman dan Belanda memberikan penambahan-penambahan pada beberapa ilustrasi ukiran kayu abad 15 yang sangat berkarakter dan kuat, sedangkan hasil karya Perancis memberikan tambahan dalam bentuk catatan-catatan menarik yang terkadang unik. Ukiran Italia, menampilkan bentuk menarik dengan tingkat kesulitan tinggi. Ukiran tembaga jarang digunakan terkecuali untuk peta dan atlas Ptolemy.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-15, seorang tukang cetak biasanya juga adalah tenaga pemotong jilidan dan pengecoran, pembuat mesin cetak, editor, penerbit, dan penjual buku. Memerlukan waktu yang agak lama untuk sampai kepada adanya pembagian tenaga kerja atau spesialisasi untuk jenis pekerjaan yang berbeda. Penjilidan dan pembuatan kertas tentu saja muncul lebih awal sebelum alat pencetak muncul. Sebagai tambahan, type founding, dan khususnya penjualan dan penerbitan buku muncul sebagai penjualan yang terpisah pada zaman Renaisans. Secara singkat, kompetisi dan faktor-faktor ekonomi lainnya telah merangsang pertumbuhan jaringan distribusi buku sehingga jauh dan luas. Peter Schoeffer contohnya, mengembangkan pusat-pusat distribusi oleh agen-agen permanen, tidak hanya di Jerman, namun juga ke seluruh Perancis. Anton Koberger, pencetak World Chronicle Nurnberg yang terkenal, memiliki agen di Basel dan Lyon, serta di beberapa kota di Spanyol.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisinya dibuat kecil, dengan beberapa ratus salinan. Biasanya, buku-buku yang sangat terkenal muncul dalam 1000 atau 2000 kopi. Program-program penerbitan pada masa-masa cetakan awal sangat  dipengaruhi oleh minat dan  kondisi setempat, serta disesuaikan dengan permintaan umum dari para pelajar dan pengajar baik di dalam maupun di luar gereja dan universitas, seperti dari para pengacara,  dokter, dan dari para anggota istana dan bangsawan. Buku-buku diedarkan dalam bentuk naskah selama berabad-abad. Secara berangsur-angsur, hasil karya penulis saat ini telah diedarkan dalam bentuk tercetak. Banyak faktor yang menstimulasi perkembangan industri percetakan, mulai dari instrumen awal untuk reproduksi naskah-naskah, hingga media komunikasi yang canggih untuk menyampaikan ide-ide dan opini-opini yang ada saat ini. Dari Renaisans ke abad 19. Pada abad ke-16, format cetakan buku muncul setelah melalui berbagai tahapan percobaan dan perubahan, hingga menemukan bentuk standarnya yang bertahan selama tiga abad ke depan. Ciri khas Renaisans, yaitu desain gaya Romawi pada komposisi dan layout diterima oleh setiap negara Eropa, dan akhirnya di seluruh belahan dunia  barat. Budaya Gothic pada abad pertama dihilangkan, dengan satu pengecualian: Huruf cetak Gothic tetap terkenal sebagai huruf-huruf yang digunakan di wilayah Eropa tengah dan utara.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aldus Manutius, pencetak handal dari Venisia, memberikan kontribusi bagi rancangan buku Renaisans. Ilustrasi indahnya pada Hypnerotomachia Poliphili, sebuah roman kiasan karya Francesco Colonna yang dicatak tahun 1499, dianggap merupakan salah satu contoh cetakan Renaisans yang paling harmonis. Aldus juga memberikan kontribusi penting lainnya terhadap kemajuan produksi buku. Pengalamannya dalam mendesain huruf-huruf Yunani Cursive dengan penuh keindahan, telah membuka jalan bagi terciptanya huruf-huruf cetak italic. Jenis ini menghemat ruang, sehingga memungkinkan untuk memproduksi serangkaian edisi buku ukuran saku. Sebuah langkah awal menuju buku-buku murah dan mudah dibawa. Aldus yang juga salah satu di antara penemu papan kartu sebagai sampul buku, bahan baru yang lebih ringan, yang menggantikan kayu secara bertahap.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Renaisans memberikan perubahan signifikan pada tampilan luar dan tampilan dalam buku. Ketika kulit babi dan kulit hewan lain terus digunakan sebagai bahan penjilid buku selama 1 ½ abad berikutnya, dan kulit anak sapi juga digunakan pada abad ke-9, diperkenalkanlah penggunaan kulit kambing, yang disebut morocco, sesuai asal daerahnya. Diperkenalkan juga teknik inlay yang berkelok dan penuh warna, serta penggunaan emas dari dunia Islam yang dikombinasikan dengan metode blind stamping tradisional untuk menghasilkan seni baru peralatan emas. Teknik-teknik baru ini dugunakan pada buku-buku jilidan Renaisans seperti Jean Grolier de Servierees dan Thomas Mahieu, dalam pola yang mengkombinasikan motif klasik dengan ornamen-ornamen Islam. Beberapa dekorasi yang dipotong dalam stamp jilidan ditransfer menjadi bolongan-bolongan ketikan, yang kemudian disebut fleurons atau cetakan gabungan, digunakan sebagai ornamen indah yang populer hingga saat ini.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengenalan ornamen seni cetak, dekorasi dan ukiran kayu mulai menurun. Selama abad pertama percetakan, ukiran kayu berkembang dari penggunaan yang terbatas menjadi kekuatan artistik yang digunakan untuk benyak tujuan. Seniman-seniman yang menggunakan ukiran kayu diantaranya adalah Albrecht Durer dan Hans Holbein di Jerman, Bernard Salomon dan Geoffroy Tory di Perancis, dan masih banyak lagi seniman lain baik terkenal maupun tidak di Itali dan tempat-tempat lainnya. Di tangan mereka, ilustrasi buku tidak hanya merefleksikan harmonisasi dan keindahan, namun juga perjuangan manusia untuk memahami posisi mereka di lingkungan mereka, dan pencarian nilai-nilai dasar. Hampir semua buku-buku pertama yang menggunakan ilustrasi dalam berbagai ilmu alam maupun dalam kesehatan dan teknologi, menggunakan ukiran kayu.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertengahan abad ke-16, ukiran tembaga, diikuti segera oleh penggoresan, dan akhirnya proses-proses intaglio lainnya, merajai bidang ilustrasi buku. Pengukiran lempengan tembaga menjadi teknik utama yang tidak hanya untuk ilustrasi halaman penuh, namun juga untuk halaman judul, gambar muka satu sisi maupun dua sisi, bagian atas halaman, bagian bawah halaman, bahkan huruf-huruf cetak. Elemen-elemen arsitektur memainkan peranan penting dalam ilustrasi dan ornamentasi Renaisans.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa masa antara abad 16 dan 17, pusat-pusat penerbit buku yang penting pindah dari Italia ke Perancis, dan dari sana ke beberapa negara kecil. Dari usaha keras beberapa pencetak ulung seperti Aldus Manutius di Venesia, Henri Estienne di Paris, Christophe Plantin di Antwerp, dan Lodewijk Elzevir di Leiden, muncullah beberapa dinasti besar rumah-rumah percetakan dan penerbitan. Selama abad ke 16, hak cipta muncul, utamanya adalah dalam bentuk hak-hak istimewa dan perlindungan terhadap pencetak, penerbit, dan penulis, yang diberikan oleh pihak kerajaan da bangsawan. Karena pers mulai berkembang, dan otoritas sekuler maupun gereja mulai memahami pengaruh politiknya, berbagai pengawasan disusun. Penilaian dan pengawasan ketat dirancang dengan sangat serius. Milton’s Aeropagitica (644) merupakan dokumen penting bagi perjuangan tanpa henti untuk mencapai kebebasan pers. Tidak semua penilaian ini negatif. Pendirian beberapa percetakan resmi seperti Stamperia Vaticana dan Imprimerie Royale juga English University Presses, merupakan dampak yang menguntungkan dengan adanya standar-standar umum percetakan buku.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-17, stadar-standar ini mulai melemah. Beberapa karya besar kesusasteraan dunia karya Shakespeare, Cervantes, dan Moliere – sering dicetak tidak sempurna di atas kertas yang kualitasnya buruk, dan dengan ketikan yang tidak mencerminkan keindahan zaman Renaisans. Namun terdapat beberapa pengecualian: dua alkitab Poliglot mashyur muncul pada abad ini; Seni penjilidan dan pengukiran peta muncul, contohnya ilustrasi pada buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan alam, baik berwarna maupun hitam putih. Masa ini juga merupakan masa-masa ekspansi percetakan secara geografis.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1539, buku tertua dicetak di penerbit Western Hemisphere milik Juan Pablos di Mexico city. Percetakan Inggris-Amerika pertama didirikan di Cambridge, akhir tahun 1638 oleh Stephen Day. Peranan buku di Amerika berbeda dengan di Eropa. Percetaka Eropa pada dasarnya enerbitkan hasil-hasil pemikiran, sedangkan Amerika banyak menerbitkan buku yang berkenaan dengan hal-hal  prkatis. Hampir sejak awal, percetakan di Amerika merupakan agen kolonialisasi utama pada ekspansi bagian barat negara ini. Pada masa ini, George Washington menulis kepada Mathew Carey pada tanggal 25 Juni 1788, tentang majalah – “Saya memikirkan sarana pengetahuan yang mudah, yang lebih diperhitungkan daripada sarana lainnya untuk memelihara kebebasan, merangsang pertumbuhan industri, dan menaikkan moral orang-orang yang berfikiran terang dan bebas.”           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat  karakteristik fisiknya, buku-buku di wilayah koloni Amerika menyerupai buku-buku yang ada di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Abad ke-18 merupakan periode penting bagi kemajuan pembuatan buku. Untuk pertama kalinya sejak abad ke-14, seni grafis di Inggris menyamai bahkan melampaui standar yang ada di benua Eropa. Langkah penting diambil dalam hal pembuatan kertas, penjilidan, dan ilustrasi. Teknik pengukiran kayu baru oleh Thomas Bewick telah memperbaiki kualitas dan daya tahan ukiran kayu. Teknik ini bertahan hingga saat ini.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk benua Eropa, abad ini merupakan abad pencerahan. Teknik-teknik ukiran intaglio baru bermunculan, yaitu munculnya cetakan berwarna. Perancis memiliki seniman pengukir buku seperti Francois Boucher, Honore Fragonard, dan Hubert Francois Gravelot, yang menjadi cerminan kaum aristokrat. Masih di Perancis, Padeloup, Derome, dan beberapa penerbit buku lainnya menciptakan beberapa maha karya yang sangat indah, sementara Fourniers dan Didots memberikan kontribusi penting bagi dasar-dasar estetika dan nilai teknis untuk jenis desain dan seni cetak modern. Giambattista Bodoni dari Italia, memberikan kontribusi pada fleksibilitas berat dan ukuran, yang mengakibatkan perkembangan pada seni cetak komersial modern. Akhirnya, abad ke-18 merupakan abad kebangkitan penerbitan modern. Pergantian secara bertahap  dari pola pembelian langsung kepada pola berlangganan  menjadi tonggak baru untuk menjangkau pembaca secara luas. Dengan munculnya era kesusasteraan pada roman modern, majalah keluarga, dan buku anak-anak, maka menulis  menjadi profesi dan sumber mata pencaharian yang bisa diandalkan. Buku pada Era Mesin. Pengaruh industrialisasi pada produksi dan distribusi buku hampir sama besarnya dengan penemuan alat cetak itu sendiri. Selama dua dekade sebelum dan  sesudah tahun 1800, semua cabang seni grafis mulai merasakan pengaruh revolusi teknologi yang merubah pembuatan dan pencetakan buku yang kuno menjadi industri pembuatan buku yang modern.. Dengan adanya produksi massal buku-buku murah untuk pasar yang luas, persoalan-persoalan yang berkaitan dengan  organisasi perdagangan, pengaturan harga, dan hak cipta internasional, muncul ke permukaan.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada akhir abad 19, proses manual yang kuno telah digantikan oleh produksi dengan menggunakan mesin bertenaga tinggi. Mekanisasi satu proses mengharuskan penerapan industrialisasi pada keseluruhan proses agar  benar-benar efektif. Pengenalan silinder pemutar yang cepat dan bertenaga telah menghilangkan kemacetan produksi akibat masih digunakannya proses manual. Kertas tidak lagi dibuat secara lambat dalam lembaran tunggal dari cetakan tangan kuno, namun dalam bentuk gulungan yang secara terus-menerus dihasilkan dalam mesin fourdrinier yang bergerak cepat. Huruf-huruf cetak dihasilkan secara otomatis dari matriks-matriks yang tidak lagi dilubangi dari alat pembuat lubang dari baja yang digunakan dengan tangan, namun telah diukir secara mekanis. Komposisi mesin, yang merupakan masalah paling rumit, telah dipecahkan dengan serangkaian trials and errors yang dilakukan oleh Ottmar Mergenthaler’s Linotype, intertype, dan mesin pencetak Tolbert Lanston’s monotype. Alat pencetak manual dari kayu dan besi digantikan dengan pencetak silinder bertenaga tinggi. Penggunaannya dimulai tahun 1812 di London, oleh Friedrich Konig. Pada tahun 1847 di kota New York, mesin pemutar huruf cetak buatan Richard Hoe mampu menyelesaikan masalah susunan huruf cetak yang menanjak dalam silinder, namun pengenalan stereotyping menawarkan solusi yang lebih praktis. Penjilidan buku, yang dibuat dengan tangan selama 1500 tahun, juga dibuat secara mekanis. Proses pembingkaian dan pengenalan kain sebagai material pembungkus pada awal abad 19 membuat hal ini memungkinkan. Dalam bidang ilustrasi, teknik fotografi yang ditemukan oleh Lois Dguerre tahun 1839 kemudian diaplikasikan terhadap semua proses reproduksi foto – ukiran garis dan warna-warna sedang dalam gambar timbul (relief), klise foto, dan rotografur dalam intaglio, serta fotolitografi, offset, dan collotype dalam pencetakan planografi.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada saat penemuannya, mekanisasi alat cetak itu sendiri memiliki pengaruh yang bertahap dan kumulatif. Contohnya, reproduksi foto tidak dapat direalisasikan sampai 100 tahun kemudian, ketika, pada pertengahan abad ke-20, terdapat lebih banyak buku yang dicetak seluruhnya dengan offshet, baik tipe yang diatur secara konvensional, maupun salinan yang dihasilkan dari mesin ketik, dan ketika pengaturan ketikan dengan bantuan fotografi mulai muncul pada tahap percobaan.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang paling mencolok pada awal abad 19 disebabkan oleh kedatangan jilidan kain, yang mencapai puncak kejayaan pada buku Victorian Parlor-Table. Pada abad ini juga ditemukan keragaman dan kemeriahan pada jenis ketikan dan dekorasinya. Abad ini juga mencatat munculnya sekolah ilustrasi di Inggris dan Perancis, yaitu sebuah sekolah satire dan karikatur yang hebat, sebagain kelanjutan dari William Hogarth dan Thomas Rowlandson, kemudian diteruskan oleh sekolah ilustrator George Cruikshank dan Dickensian di Inggris, serta Honore Daumier dkk dan Gustave Pore di Perancis.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir abad 19, disaat buku-buku yang dibuat dengan mesin tidak menunjukkan tanda-tanda kesalahan pada bidang artistik, kebangkitan yang dipelopori oleh William Morris muncul dan memperbaiki daya tahan ukiran manual tua. Hasil karyanya dapat dilihat dalam buku-buku terbitan Kelmscott. Karya ini memberikan harapan baru pada seni kaligrafi dan desain cetakan, pembuatan kertas dan penjilidan buku dengan tangan, dan pengukiran kayu. Contoh yang dihasilkan oleh penerbit Kelmscott diikuti oleh penerbit-penerbit swasta seperti Doves dan Ashendene di Inggris, dan penerbit Bremer di Jerman. Di AS, contoh penerbit Kelmscott telah memberikan pengaruh yang sanngat besar bagi Daniel Berkeley Updike, pendiri penerbit Merrymount, juga bagi Goudy, perancang jilidan yang paling produktif. Dan bagi Bruce Rogers, tukang cetak yang paling handal.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patokan-patokan dalam seni dan ukiran juga diaplikasikan pada kualitas karya-karya penerbit Curwen di Inggris, dan di Amerika yaitu penerbit William Edwin Rudgedan Elmer Adler, diikuti oleh penerbit Joseph Blumenthal’s Spiral, dan penerbit Ward Ritchie. Kolaborasi yang baik antara seniman yang hebat dan pencetak yang terlatih terjadi pada abad-20 di Perancis, terutama karena adanya bantuan dari pedagang dan penerbit karya seni, yaitu Ambrose Vollard. Seniman yang juga menghasilkan ilustrasi buku yang indah diantaranya adalah Manet, Toulouse-Lautrec, Rodin, Bonnard, Matisse, Picasso, dan Rouault.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal abad 20, kebangkitan seni dan ukiran menyebar pada produksi buku-buku yang diperdagangkan di Eropa. Hal yang sama berlaku tahun 1920 di AS, didorong oleh usaha William Addison Dwiggins, seorang kaligrafer, perancang jilidan, dan ilustrator yang sangat berbakat, dan dengan dukungan Institut Seni Grafis Amerika. Buku-bbuku teks, buku-buku anak, dan buku khusus lainnya telah menunjukkan pengaruh yang menguntungkan dari perpaduan estetis antara penerbit dan desainer.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad 20, di seluruh dunia khususnya di AS setelah PD II, posisi buku terancam dengan adanya kompetisi media, yaitu munculnya tantangan dari jenis media massa baru—bioskop, radio, televisi, tape recorder, dan komputer.Hal ini mempengaruhi budaya membaca, terutama di kalangan anak muda. Dari sisi positif, produksi massal buku-buku murah, yang didistribusikan secara nasional melalui pemesanan via surat oleh klub-klub buku dan perkumpulan-perkumpulan lainnya, telah membantu buku mempertahankan posisinya, juga kualitas dan isinya.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa bagian, masa depan buku sebagai bentuk komunikasi vital yang sangat diperlukan  dipertanyakan. Media lain, terutama komputer, dalam kapasitasnya sebagai alat penyimpan dan pencarian informasi, dirancang menjadi pengganti buku masa depan. Beberapa anggapan keliru bermunculan dikarenakan hanya menganggap buku sebagai tempat penyimpanan fakta dan asumsi, dan karena ketidakmampuan untuk membedakan antara fakta dan kebenaran, antara pengetahuan dan kebijakan. Anggapan-anggapan ini tidak memasukkan bahwa buku juga menyalurkan nilai-nilai dan ide-ide spiritual, maksud kata-kata mutiara dalam puisi, drama, dan fiksi, dan anggapan ini juga mengacuhkan keindahan buku sebagai hasil karya seni. Termasuk juga kenyamanan secara fisik saat membaca buku, ketika membolak-balik halaman untuk mencari informasi, dan komunikasi informal secara  spontan antara penulis dan pembaca. Oleh karena itu, banyak orang yang memahami keunikan buku ini bersatu dalam upaya melestarikan jati diri dan keindahan buku dalam dunia modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku Pada Era Digital &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Gates pernah membuat prediksi bahwa Internet akan menyatukan dunia, menjadi pemimpin industri media di masa depan dan sekitar 20 tahun lagi media cetak akan mati. Namun, bukan berarti saat itu koran, majalah, buku, tidak ada. Mereka akan tetap hidup namun tidak perlu diprint alias dicetak. Hanya memang kalau user menginginkannya medai-media itu dapat dicetak, bahkan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan ke arah tersebut sudah mulai terasa sekarang ini. Melalui bantuan satelit, stasiun televisi dapat menyiarkan peristiwa secara langsung dari tempat kejadian. Kita juga mudah sekali mengakses informasi apa pun melaui Internet dengan search engine yang semakin canggih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi seluler pun, berlomba dengan fitur-fitur tercanggihnya dengan biaya yang makin murah. Kini dikenal ada telepon gnerasi ketiga (3G), W-CDMA (wideband code division multiple access), HSDPA (high-speed downlink packet access) dan seterusnya. Jadi telepon genggam dapat berfungsi sebagai televisi, kita pun dapat melihat lawan bicara. Bahkan dengan Communicator atau PDA  buku pun bisa dibaca (e-book) kapan dan dimana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama lagi nomor seluler kitapun akan berfungsi layakanya alamat e-mail, lebih dari sekedar push atau pull e-mail seperti yang sudah marak saat ini. Setiap detik kita bisa mendapatkan informasi apa pun dan dari mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semua kecanggihan teknologi itu, media cetak—yang untuk mendapatkannya kita harus bayar—akan terasa mahal, dan kuno. Apalagi, jika harga kertas terus melambung. Yang juga perlu diingat adalah media cetak perlu percetakan, armada distribusi, dan sebagainya. Media cetak juga membutuhkan senjang waktu tertentu untuk menyampaikan informasi ke publik. Struktur manajemen media cetak yang gemuk dan sangat terbatas sirkulasinya, memang kerap menyulitkannya untuk bergerak cepat. Padahal publik yang kini kian mobile membutuhkan akses informasi secara akurat, cepat, dan murah. (Wiloto, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tiras koran di Amerika terus mengalami penurunan,'' kata Nashin Masha, wartawan Republika yang pada  Pada 10 Agustus hingga 4 September 2006, berkeliling ke Washington, New York, Chicago, Atlanta, Athens, Sacramento, dan San Francisco. Perjalanan itu atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengikuti program International Visitor Leadership bidang media cetak. Di sana ia mengunjungi sejumlah koran.Penurunan itu makin signifikan setelah berita bisa diakses lewat layar komputer. Apalagi media internet bisa melakukan up-dating kapan pun. Berbeda dengan media televisi, up-dating berita internet tanpa harus mengganggu 'program' lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan paling spektakuler menimpa San Francisco Chronicle. Pada 2005 tiras koran ini turun 15 persen. Yang mampu bertahan adalah The New York Times yang bisa stabil pada tiras 1,8 juta eksemplar. Namun, koran terbesar di Amerika adalah USA Today dengan 2,2 juta eksemplar. Di AS terdapat 1.500 koran harian, enam ribu mingguan, dan 16 ribu stasiun radio dan televisi. Adapun rincian broadcasting ini adalah 13 ribu stasiun radio, 1.600 stasiun televisi, 490 televisi kabel, 930 stasiun radio agama, dan sejumlah stasiun televisi agama. ''Penurunan pada koran itu tak hanya menyangkut tiras, tapi juga jumlahnya,'' ujarnya. Sebagai contoh, dari tujuh koran di Manhattan empat di antaranya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 1.500 koran itu,  hanya 20 persen saja yang bagus secara bisnis. Dari seluruh koran yang ada, 80 persen di antaranya hanya beroplah kurang dari 15 ribu eksemplar per hari. ''Tak ada yang tahu masa depan koran,'' katanya. Gambaran paling nyata dari penurunan pamor koran di AS juga bisa dilihat dari penjelasan Larry Heinzerling, wakil redaktur internasional kantor berita Associated Press (AP).Menurutnya, pendapatan AP pada 1970 adalah 60 persen dari perusahaan koran, 30 persen dari radio dan televisi, dan 10 persen dari perusahaan komersial. Namun pada 2005 lalu, ujarnya, pendapatan dari koran turun menjadi 30 persen, 35 persen dari televisi, 25 persen dari online, dan 10 persen dari radio. Hal ini diawali pembentukan departemen multimedia pada tahun 2000. Sehingga, berita AP bisa diakses lewat jaringan internet, misalnya di Yahoo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judy Milestone, mantan wartawan CNN yang kini menjadi konsultan media mengatakan, para tetangganya heran karena setiap hari mendapat kiriman empat koran. ''Mereka bilang buat apa. Toh semuanya sudah ada di televisi dan internet,'' (Republika, 5 Oktober 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia kematian media cetak sempat juga menjadi wacana. Bahkan beberapa pengusaha koran sempat panik karena oplah surat kabar tak bergerak alais stagnan. Bahkan kelompok Jawa Pos mendeklarasikan 20 surat kabar telah mati. Sementara yang lain ’berdarah-darah’ karena ditinggalkan pembaca dan pemasang iklan.  Surat kabar sekaliber Kompas pun, seperti diungkapkan Jacob Oetama, menilai media cetak belum pernah menghadapi tantangan yang bgitu besar, kecuali sekarang. Dia mengingatkan bahwa dunia sedang berubah secara cepat karena revolusi teknologi. Kemajuan teknologi informasi telah membuat posisi media cetak makin tersudutkan. (Bisnis Indonesia, 11 Peburari 2006 . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku sedang sekarat melepaskan nafas terakhirnya ditelan gelombang elektronik,“ kata  Miles M. Jackson dalam artikelnya The Future of Books in Electronic Era. Menurutnya dengan progresivitas transofrmasi dalam bidang teknologi informasi, informasi dalam format tercetak akan diamabil  alih kedalam format elektronik atau digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah era media cetak akan berakhir?  Akankah tak ada yang tahu masa depan buku  nanti seperti apa. Yang pasti, dulu ketika televisi hadir, ramalan tentang kematian media cetak sudah didengung-dengungkan. Tetapi hingga kini media cetak tetap menjadi acuan utama publik. Bukan televisi, apalagi internet. Di samping itu juga ada beberapa “kelebihan” buku sebagai kekuatan budaya dibandingkan dengan media lain 1) buku menjembatani jarak sejarah 2) buku memberikan kedalam 3) menyajikan informasi yang terpercaya 4) buku mudah dibaca kapan dan dimana pun.   Setidaknya  itu yang masih dirasakan sekarang ini. Apalagai kalau mengingat masalah perbukuan dan minat baca masyarakat Indonesia.  Tetapi, memang, masa depan adalah masa yang  terbuka untuk berbagai  kemungkinan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/component/content/article/15-dari-papyrus-ke-paperless?showall=1"&gt;http://www.bit.lipi.go.id &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-3649801175045361756?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/3649801175045361756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=3649801175045361756' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3649801175045361756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3649801175045361756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/06/dari-papyrus-ke-paperless.html' title='Dari Papyrus Ke Paperless'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-3749513145085151072</id><published>2011-06-28T23:04:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T23:10:56.853-07:00</updated><title type='text'>Desain Budaya Dalam Tradisi Lisan: Perjalanan Suara Yang Hilang</title><content type='html'>Oleh:  Cin P. Hapsarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Phaedrus, Plato sempat menggutip kata-kata Sokrates yang menentang tulisan. Katanya, tulisan merupakan bentuk artifisial dari bentuk sebenarnya yang terdapat dalam pikiran. Kedudukannya merupakan subtitusi dari kenangan yang pada akhirnya dikhawatirkan dapat melemahkan pikiran. Ini berbeda dengan dialog, sebab kata yang ditulis tidaklah responsif.[1]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan yang lisan terhadap yang aksara memang kerap menjadi polemik, khususnya dalam ruang akademik, pembahasan sejarah. Demikian pula kiranya jika kita menengok Nusantara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, sebuah wilayah yang karakter masyarakatnya didominasi oleh struktur tutur yang kental. Pengetahuan di wilayah ini kerap diwariskan dari generasi ke generasi dengan cara tutur. Namun pertarungan budaya maupun skandal kekuasaan dan pengetahuan yang bergulir dari masa ke masa pada gilirannya menempatkan tradisi ini ke wilayah yang termarjinalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peralihan Yang Tutur ke Yang Aksara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran kaum Nordik dan Islam ke Nusantara yang dimulai pada rentang abad 14-15 M telah mendorong logika sejarah yang sebelumnya bersifat sirkular ke arah arah yang linear. Situasi ini terutama terlihat dari bergeraknya pemahaman masyarakat akan ruang dan waktu.[2] Ekses dari perubahan ini adalah lahirnya pengerucutan pada satu sentrum kekuasaan di bawah pengusaan mondial. Hal ini tidak saja berlaku pada ruang keagamaan (Katholik di bawah Vatikan dan Islam di bawah Kekhalifahan Turki Utsmani) tetapi juga mengarah pada sistem perdagangan yang pada saat itu sedang dipertarungkan oleh para kaum kolonialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat pada gilirannya menuai apa yang disebut dengan materialisme.[3] Jika pada masa sebelumnya agama bumi mendominasi pemahaman hingga pembagian kerja masyarakat, selanjutnya agama langit mengubah bentuk-bentuk tersebut menjadi lebih individualis. Penggerusan sistem mandala yang dilegitimasi oleh struktur kekuasaan baru ini (baca: Islam) pada gilirannya menciptakan pergeseran ruang yang merelokasi fungsi pranata sosial, terutama berkenaan keberadaan raja dan kelas menengah.[4] Di sini, sejarah menuturkan jika jantung peradaban bergerak membinasahkan yang tidak homogen, yang berarti tidak sejalan dengan penguasa. Sudah pasti jika kasus-kasus pertarungan ini tidak saja melibatkan kekuatan lama, yang sebelumnya establish, dengan kekuatan baru, tetapi juga melibatkan sesama kaum.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir beberapa perlawanan terhadap penguasa yang menindas ini. Tidak melulu dengan menggunakan kekuatan bersenjata, melainkan juga dengan membangun komunitas-komunitas yang semakin hari semakin merangsak masuk ke arah pedalaman, menjauhi sentrum kekuasaan. Kelompok-kelompok ini kemudian membanggun wacana tandingan. Beberapa diantaranya terwujud melalui cerita tutur, cerita tutur yang dituliskan dengan bahasa umum maupun cerita tutur yang ditulis dengan aksara maupun bahasa khusus. Sisanya diwujudkan dalam bentuk pertunjukan kesenian, permainan maupun ungkapan-ungkapan.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya tertulis yang merupakan wacana tandingan dari generasi yang berbeda, antara lain: Kisah Ayuh (Sandayuhan) dan Bambang Basiwara,[7] resistensi masyarakat Dayak Meratus terhadap ortodoksi teks suci komunitas Islam Banjar; Tantu panggelaran, resistensi pengaruh India di Jawa; Serat Darmo Gandul Karya Ki Kalam Wadi, wujud resistensi Islamisasi di Jawa; kisah Ratu Adil (Erutjakra), perlawanan terhadap penjajah Belanda; cerita Kebo Iwa dalam sejarah kerajaan Bali Kuna sebagai perlawanan kekuasaan Hindu Jawa di Bali.[8] Contoh untuk wacana tanding yang tertulis dengan bahasa esoteris adalah skriptoria Merapi-Merbabu.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, wacana tanding terus diproduksi sekaligus direproduksi. Di Jawa, penaklukan atas Dipanagara pada Perang Jawa (1825-1830) oleh pihak kolonial Belanda akhirnya secara ‘permanen’ menandai dominasi (baca: memberi legitimasi kultural) mereka atas Jawa. Masa yang memisahkan jaman ancient regime raja-raja Jawa dengan jaman kolonialisme Belanda ini secara penuh menandai akhir perlawanan Jawa.[10] Kebijakan tanam paksa atau cultuurstelsel (1830-1870) yang dibuat untuk menutupi pembengkakan pengeluaran pemerintah kolonial Belanda saat menghadapi Dipanagara pada gilirannya mendorong pemerintah kolonial untuk menyediakan tenaga terdidik murah yang berasal dari dalam negri. Didirikanlah Instituut voor de Javaansche Taal (Institut Bahasa Jawa) yang disponsori J.F.C. Gericke, seorang Misionaris Jerman yang dikirim oleh Nederlands Bijbelgenootschap tahun 1827.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan sentrum kebudayaan elit di Jawa tampaknya sengaja ditujukan untuk mengontrol penduduk jajahan dan menjauhkan mereka dari usaha perlawanan. Salah satu jalan yang dilakukan memang dengan membuat kanonisasi dan membuat bahasa Jawa Surakarta menjadi bahasa standar di seluruh sekolah modern Jawa. Esensi dari Javanologi sendiri tak lain dari menentukan bentuk atau watak dunia Jawa termasuk di dalamnya ilmu kejawen dan tradisi dunia tulisan dengan jalan damai. Dengan sastra dan budaya kaum kolonialis berharap perhatian rakyat dapat dibelokkan, utamanya setelah ‘kisruh’ pembagian empat kerajaan.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang pokok, perjalanan sejarah pada rentang ini menjadi titik balik bagi mula terbentuknya masyarakat konsumen, menggeser kedudukan masyarakat produsen yang selama ini terbangun. Pola kebudayaan dan perkembangan masyarakat tidak lagi berada dalam satu aras yang sejalan dengan perkembangan teknologi yang melingkupinya. Terutama semenjak masuk dan dikenalnya teknologi barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi ini tidak berarti budaya tanding hilang begitu saja. Dari dalam keraton, upaya datang dari anak didik C. F. Winter sendiri, yakni pujangga penutup Jawa, R. Ng. Ranggawarsita. Dalam beberapa karyanya, Ranggawarsita berusaha menyampaikan kritik atas jalannya kekuasaan, misalkan saja lewat Serat Kalatida (Puisi Saat Kelam), yang ditulis menjelang kematiannya, 1873.[13] Namun, sejak tamatnya cultuurstelsel, peran bahasa Melayu kemudian menggeser kedudukan bahasa Jawa. Ini terutama karena kapitalisme-cetak menunjukkan terbukanya pasar dan minat yang besar bagi naskah cetak berbahasa Melayu. Adalah kelompok Cina Peranakan yang tak berbahasa Cina dan lahir di Indonesia yang menjadi unsur pokok perkembangan pasar ini.[14] Kontrol atas bahan cetak dilakukan oleh Balai Pustaka yang didirikan pemerintah Kolonial, 1917. Dapat dikatakan mulai periode inilah cerita tutur yang dibukukan menduduki posisi yang lebih dominan sebagai bahan kajian, meski tak urung kerap dinilai sekedar sebagai lelucon.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai dengan Indonesia merdeka, kedudukan tradisi tutur maupun wacana tandingan makin terpinggirkan. Situasi ini didorong oleh tingginya suhu politik yang diusung oleh gerakan pemuda. Fakta akar kebangsaan mensyaratkan kesatuan ekonomi, kesatuan administrasi politik dan kesatuan kebudayaan[16] menjadi hal tak tertolakkan yang mendudukkan tradisi tutur, prinsip lokalitas dan etnisitas dalam ruang yang makin sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dengan serta merta memberi jawaban atas berbagai problem yang ada. Rentang hingga jatuhnya Soekarno pada tahun 1965 adalah masa dimana setiap faksi maupun kelompok kepentingan berusaha untuk membentuk basis-basis kekuatannya sendiri. Hampir setiap ruang adalah ruang pertarungan, terutama semenjak nasionalisasi di akhir tahun 1950. Situasi ini menjadi semacam ajang lomba tiap kelompok kepentingan untuk menguasai aset strategis milik negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejatuhan Soekarno ditandai dengan banjir darah jutaan massa yang dianggap sebagai pengikutnya. Pasca itu, Soeharto memegang tampuk kekuasaan. Jargon bagi suksesi Orde Baru adalah pembangunan nasional yang mengarah pada pembentukan sentrum kekuasaan tunggal. Pada masa ini isue SARA (suku, ras dan agama) menjadi komoditas politik; bentuk masyarakat plural yang memang mendasari negara ini justru digunakan Orde Baru sebagai dalih untuk menumbuhkan stabilitas dengan model pendekatan sepihak yang cenderung manipulatif. Bagi Roode, hal tersebut tidak mengherankan sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam masyarakat-masyarakat yang berciri kebudayaan homogen, kemampuan mencapai stabilitas politik dan demokrasi relatif tinggi. Sebaliknya, apabila masyarakat mempunyai keanekaragaman kebudayaan yang sangat jelas, maka sukar sekali memperoleh dasar bagi rasa kesamaan identitas, tujuan dan atau konsensus politik” (Rodee, 1988: 307).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu kedudukan tradisi tutur, yang kerap direpresentasikan sebagai bagian dari pengetahuan lokal dan etnisitas, tampaknya juga mendapat pukulan dari kecenderungan umum dalam memahami etnisitas secara teoritik.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan tradisi tutur baru kembali menguat setelah bergesernya rezim Orde Baru. Pada gilirannya, sejarah lisan mendapatkan celah terutama menjelang jatuhnya Soeharto. Penelitian terhadap korban pembantaian 1965/1966 di daerah Blora, Boyolali, Cilacap, Kendal, Klaten, Magelang, purwodadi, Purwokerto, Salatiga, Semarang, Sidoarjo, Temanggung, Wonosobo dan Jogja, yang dilakukan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 yang didirikan Sulami, eks Wakil Sekjen Gerwani, menjadi entry point bagi penelitian-penelitian sejarah lisan lainnya.[18] Mulai dari masa ini, angin yang berhembus mengisyaratkan hancurnya fragmen-fragmen beku yang selama ini mengitari sejarah konvensional yang berkiblat pada penguasa. Kesaksian mulai dilantunkan. Sejarah kembali mendengar suaranya yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tradisi Lisan Menyuara Sejarah Yang Samar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata tradisi cenderung dimaknai sebagai segala sesuatu yang berasal dari masa lampau. Kenyataannya tidaklah demikian. Tradisi tidak hadir sebagaimana adanya di masa lalu. Hobsbawm mengatakan jika tradisi pasti mengalami proses seleksi atau bongkar ulang sehingga ada yang dipopulerkan ataupun dipinggirkan tergantung pada relasi kekuasaan yang bermain di sekitarnya.[19] Andaian dimaknai sebagai sesuatu yang berasal dari masalalupun ia tidak bersifat tunggal. Tidak selamanya ia bermakna konservatif sebab di dalamnya juga terangkum kebenaran dan kebaikan[20] meskipun baik dan benar itu bukan semata karena dirinya sendiri melainkan juga karena dihadirkan sesuai dengan ikatannya pada kekinian.[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan tradisi lisan. Secara historis, tradisi lisan merujuk pada fase di mana masyarakat belum mengenal tradisi menulis (pre-historis). Sebagai salah satu bentuk komunikasi, tradisi lisan berfungsi sebagai medium transformasi nilai, norma dan hukum dari satu individu ke individu lain ataupun antar generasi.[22] Tak dapat ditepis jika ia adalah proses panjang sistem pewarisan pengetahuan (termasuk didalamnya filsafat dan sejarah masa lalu) dari ‘satu bentuk kekuasaan tertentu’ yang disampaikan melalui tindak-tutur, baik secara esoteris ataupun sebaliknya dan berlaku dalam suatu kelompok kolektif.[23] Ben Anderson, dalam Imagined Communities, komunitas-komunitas Terbayang, menggambarkan proses terbentuknya tuturan sebagai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seluruh perubahan besar dalam kesadaran, dengan hakikatnya sendiri, membawa amnesia-amnesia karakteristik. Dari lautan kealpaan itu, dalam keadaan-keadaan histories tertentu, muncul tuturan-tuturan” (Anderson, 2001: 312).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, kajian tradisi lisan sebagai sumber sejarah[24] mendapat angin segar dari Foucault. Analisa wacana atau diskursus Foucault telah menggiring perbincangan kuasa pengetahuan, dimana ideologi dan hegemoni bertemu pada titik yang disebutnya episteme dan terbangun di atas pola kerja: displin ilmu, institusi dan tokoh.[25] Episteme, atau diskursus wacana, bertugas memproduksi gagasan-gagasan dominan sebagai bagian langsung dari sifat reproduktif kekuasaan sehingga pada banyak kesempatan ia bergerak menjadi kebenaran tunggal. Kebenaran yang demikian, menurut Foucault, adalah kebenaran yang harus ditolak karena ia merupakan ‘kebenaran yang mengeras’, kebenaran yang tidak dapat diubah dan justru dapat menjadi lahan subur bagi terbentuknya sakralisasi wacana.[26] Prinsip-prinsip ketunggalan patut ditolak karena ia dapat meniadakan prinsip-prinsip bermain bagi yang lain: memarjinalkan bahkan secara ofensif juga menyerang yang berbeda. Dan dari wacana inilah, genealogy of subjectification[27] dalam biopolitik atau politik identitas lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan genealogi Foucault dianggap dapat membongkar bentuk episteme. Pendekatan ini banyak digunakan untuk membongkar mitos-mitos yang terbangun. Genealogi menitikberatkan pada aspek-aspek kebudayaan dan konteks sejarah sebagai metode perlawanan akan cara pandang kekuasaan yang memang telah mendomestifikasi kekuatan marjinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah peran tradisi lisan terkuak, yakni mendokumentasikan sistem pelembagaan pengetahuan dari wacana tandingan yang pernah hidup. Duija (2005: 118-121) menjabarkan peran dan posisi tradisi lisan mencakup tiga hal, pertama, resistensi hegemoni budaya. Tradisi lisan dianggap sebagai wacana tanding yang lahir dari kelas tersub-ordinat. Sistem hegemonik dalam politik kebudayaan[28] yang melahirkan klaim-klaim kebenaran, membuat kelompok yang merasa termarjinalkan seakan-akan berhak melakukan tindakan preventif sebagai manifestasi pernyataan diri ‘ada’ (bersifat eksistensial). Kebersamaan atau solidaritas ini sendiri dimodali oleh politik identitas.[29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perannya sebagai sejarah “budaya mentalisme”.Bukan hanya sebagai wacana tanding, tradisi lisan juga berfungsi sebagai gambaran bagi sejarah mentalitet. Sebuah politik kehidupan. Sesuatu yang begitu saja; banal atau sangat sehari-hari. Sifat alamiah-natural jelas merupakan bagian dari turbulensi kehidupan, bagian dari sistem kosmologi itu sendiri dan dengan demikian bersifat esensial. Fenomena ini dapat diamati misalkan melalui upacara penghormatan terhadap Dewi Sri yang selalu dilakukan sebelum masa tanam atau masa panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bagian dari pengetahuan genealogis. Fenomena ini menunjuk bahwasanya tradisi lisan maupun naskah dapat menjadi petunjuk sistem kekerabatan dalam kaidah trah (sistem kekerabatan berdasar darah-turunan) dari suatu wangsa, maupun dalam kaidah geopolitik. Termasuk di dalamnya adalah legenda, mitos hingga sistem persandian atau simbologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sejarah lisan, yang menjadi bagian dari tradisi lisan, sudah berkembang sejak jaman Herodate. Ia adalah sejarahwan pertama Yunani yang mengembara ke tempat-tempat jauh untuk mengumpulkan bahan sejarah lisan, terutama Peperangan Persia.[32] Metode tersebut diikuti oleh Thucydides, yang pada paruh kedua abad ke-5 SM mencatat kesaksian langsung dari prajurit yang turut bertempur di perang Sparta melawan Athena. Kisah yang diterbitkan dalam History of the Peloponnesian War menjelaskan pula metodologi yang digunakan dalam waktu dan tempat yang berbeda beserta kesulitan-kesulitan yang dihadapi.[33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad ke-17, sejarah lisan menuai kritik. Situasi itu mengerucut hingga abad ke-19. Validitas sejarah lisan merupakan masalah pokok yang terus dipersoalkan. Dalil, “…no documents, no history” dari Charles-Victor Langois dan Charles Seignobos, Universitas Sorbonne, Paris, terus terdengar. Dapat diduga jika tuntutan ini sejalan dengan kecenderungan mengentalnya logika positivistik dikalangan ilmuwan maupun akademisi Eropa pada saat itu. Sejarah lisan baru kembali naik daun setelah dilaksanakannya penelitian besar-besaran terhadap budak kulit hitam, tahun 1930 di Amerika Serikat. Tahun 1948, pusat sejarah lisan di Universitas Columbia, New York, didirikan oleh Allan Nevins. Tak menunggu lama, Inggris, Kanada dan Italia segera mendirikan badan kajian serupa.[34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, penelitian sejarah lisan dimulai tahun 1972. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), di bawah koordinator Jose Rizal Chaniago, berusaha mengisi kekosongan data mengenai sejarah pendudukan tiga setengah tahun Jepang dan Revolusi. Hampir pada saat yang bersamaan, James Danandjaja mulai melakukan kajian mendalam tentang folklor Indonesia.[35] “Folklore is the etnographic concept of the tales, legend, or supertitions current among a particular ethnic population, a part of the oral history of a particular culture”,[36] sementara James Danandjaja mendefinikan folklor Indonesia sebagai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…sebagian dari kebudayaan Indonesia, yang tersebar dan diwariskan turun temurun secara tradisional, di antara anggota-anggota kolektif apa saja di Indonesia, dalam versi yang berbeda-beda, baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan perbuatan-perbuatan dan alat-alat pembantu pengingat (mnemonic devices) (Danandjaja, 1991: 460).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti pendekatan yang digunakan untuk menelaah tradisi lisan pada tiap-tiap penelitian berbeda, terlebih menyangkut folklor.[37] Diperlukan syarat-syarat khusus untuk memasuki ruang ini, utamanya pemahaman mengenai logika pengetahuan lokal yang memadai. Ini sangat penting mengingat kedudukan peneliti biasanya berangkat dari kerangka formal yang telah dibingkai oleh institusi pendidikan bergaya barat, sementara tradisi timur, semenjak awal diketahui memiliki kekhasan tersendiri terutama berkenaan dengan sistem kosmologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, bukan berarti tidak ada benang merah yang dapat menjadi kerangka acuan ketika memandang tradisi lisan. Satu hal yang harus digarisbawahi adalah tradisi lisan berarti juga sebuah tindak-tutur; ia merupakan sebuah pernyataan sikap dan dengan demikian bersifat ideologis pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyoal Tradisi dan Sejarah Lisan: Catatan Atas Teori &amp; Metodologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas dipaparkan jika tradisi lisan adalah sebuah kenyataan tindak-tutur. Kesimpulan ini penting disebutkan untuk menjawab kedudukan tradisi lisan, baik secara teoritik maupun metodologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok perhatian tradisi dan sejarah lisan mengerucut disekitar masalah validitas. Ini berkait dengan siginifikansi informasi yang kebetulan memang dibuat melalui metode pengumpulan lisan. Nilai wawancara menjadi suatu hal yang dipertaruhkan di sini. Menurut Kwa Chong Guan (2000: 51), “wawancara sejarah lisan adalah upaya untuk menangkap dan membekukan fragmen-fragmen dari kenangan sosial kita yang kita bentuk dan yang pada gilirannyanya membentuk kita”. Tentang apa atau bagaimana wawancara sebenarnya tergantung pada historiografi yang diteliti maupun informan yang ditetapkan. Pendekatan bagi historiografi tradisional/lokal tentu berbeda dengan historiografi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, dalam kerangka masyarakat lokal, seringkali tradisi lisan tidak menempati posisi yang tersubordinat, tetapi juga tidak berarti tampil sebagai yang superior. Adakala, tradisi ini demikian dihormati, sampai-sampai ia perlu ‘dipublikasikan’ secara umum melalui situs dan ritus dalam bentuk kesenian, pertunjukan, mantra, dll. Tetapi wujud penghormatanpun bisa disampaikan dengan cara lain yang berbeda, yakni dengan cara yang sangat terbatas. Terbatas di sini berarti harus berada pada kondisi tertentu: ruang tertentu, waktu tertentu dan gerak tertentu; dengan penutur maupun pendengar tertentu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada wilayah ini ada dua jenis penutur yang cukup reprsentatif untuk bicara mengenai hal tersebut, di luar masyarakat pada umumnya. Mengutip Carl Wilhelm von Sydow, mereka adalah, 1) active bearers atau pewaris aktif. Mereka ini orang yang dianggap memiliki pengetahuan mendalam mengenai satu atau lebih bentuk tradisi lisan. Di samping menikmati, seorang pewaris aktif biasanya mengamalkan sekaligus menyebarluaskan pengetahuannya itu kepada masyarakat luas. Biasanya mereka minoritas; 2) passive bearers atau pewaris pasif. Mereka adalah pewaris yang sekedar mengetahui dan dapat menikmati suatu bentuk tradisi namun tidak berminat untuk menyebarkan secara aktif pada orang lain. Berbeda dengan golongan di atas, golongan ini merupakan mayoritas.[38]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah informan kunci. Sebagai narasumber, keduanya penting untuk menjelaskan logika pengetahuan dasar dari tradisi dimana mereka hidup, terutama berkenaan dengan sistem kosmologi (termasuk di dalamnya pemahaman supraempirik), simbolisasi, maupun struktur sosial dan kekuasaan yang melingkupi. Dapat diduga jika aras perbincangan pada ruang ini akan menjadi polemik, kalau tak bisa disebut masalah fundamental, terutama jika hal itu ditelaah melalui kacamata modernitas peneliti atau institusi yang memayunginya.[39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hardiman mengatakan corak kesadaran manusia modern melingkupi individuasi, distansiasi, progres, rasionalisasi dan sekularisasi.[40] Prinsip-prinsip itu diakui telah melahirkan pembebasan interior maupun eksterior, walau akhirnya menuai badai kritik karena dianggap melahirkan sikap positivistik, pragmatik, empirisistik dan operasionalistik yang seluruhnya dikondisikan untuk membangun ‘sistem kepastian baru’. Kemenangan modernitas ditunjukkan ketika pranata ekonomi berhasil menjadi primat, menggantikan kedudukan pranata-pranata religius dari masa sebelumnya. Setelah masa itu, hampir setiap kelompok komunal maupun individu yang tak mencercap logika ekonomi, partisipasi dalam rasionalisme, teknologi maupun ideologi modern akan bergerak menjadi objek pemenuhan kebutuhan manusia lain yang lebih modern.[41] Universalisme adalah slogan yang dikibarkan modernitas, yang secara negatif berdampak pada penolakannya terhadap liyan, the others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini mempengaruhi terma tradisi maupun sejarah lisan. Seringkali ia dipandang secara apriori. Prasangka pun dilekatkan ketika yang lisan tak menghadirkan satu bukti otentik dari logika pengetahuan dasar masyarakat tradisional/lokal di timur, yang masih cenderung berada di ruang mitis partisipatif van Peursen.[42] Dalam masalah ini, yang tidak dipahami adalah, kisah tradisional memang tidak harus merupakan penyajian obyektif tentang realitas. Hyden White mengatakan jika kisah-kisah tersebut lebih merupakan pernyataan moral dan estetika.[43] Dikaitkan dengan kebenaran, jelas ia tidak bertitik tolak pada bukti empirik sebagaimana yang disyaratkan kaum positivis. Kebenaran pada ruang ini mengacu pada bentuk pertanggungjawaban moral maupun etik. Maka, bukan asumsi-asumsi kaku dari realitas material yang buram yang akan lahir dari dialektika ruang ini melainkan sebuah pendidikan budi pekerti. Peribahasa ‘mulutmu adalah harimaumu’ adalah satu contoh nyata untuk menjawab kasus ini.[44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, masalah tidak lagi sekedar apakah tradisi lisan memiliki koherensi dan konsistensi dalam mengemukakan urutan kronologis melainkan pesan atau makna macam apakah atau bagaimanakah yang terkandung di dalamnya. Makna, dan bukan semata-mata peristiwa yang terpenting.[45]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kwa Chong Guan yang sempat meneliti pembentukan Malaka dalam Sejarah Melayu dan Summa Oriental milik Tome Pires, mengatakan jika Sejarah Melayu bukan sekedar informasi atau kenangan sosial yang diingat saja sebagaimana yang dibuat Tome Pires. Melainkan, apakah Malaka itu, bagaimanakah moral sultan untuk memerintah; sebuah gambaran tentang bagaimana masa lampau itu dipandang dan dinyatakan. Di sini, bila masa lampau ‘hanya’ dilihat sebagai sebuah kumpulan peristiwa tanpa pola, struktur maupun tatanan, maka Sejarah Melayulah yang memberi struktur pada masa lampau itu sehingga ia dapat dipahami.[46] Mudah dimengerti bila Hong Lysa mengatakan, logika yang terpenting adalah kesinambungan sebab dengan demikian narasi yang dikemukakan informan dapat diketemukan.[47]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain yang biasanya dianggap sebagai ganjalan adalah orang seringkali hanya menceritakan apa yang mau dia ingat dan dengan demikian cenderung subjektif. Pertama, Maurice Halbwachs, menjelaskan bahwa apa yang dipilih seseorang untuk diingat biasanya mengacu pada referensi sistem sosial yang paling dekat dengan orang tersebut.[48] Pada titik ini kenangan membentuk seseorang dan pada gilirannya kenangan berbalik membentuk dirinya. Kedua, secara teknis problem tersebut dapat diatasi dengan cara mengikuti jejak Thucydides, yakni dengan cara uji-silang secara sistematis serta menimbang secara analogis dengan menggunakan suatu tolak ukur. Ketiga, bias subyek-obyek mungkin tidak bisa diterima dilihat dari sudut masyarakat akademik yang gemar melakukan penjarakan (distansiasi) terhadap realitas yang diamati (kedudukan sebagai ‘orang luar’) meski distansiasi itu dilakukan tanpa memperhatikan dengan benar apakah fungsi atau makna distansiasi itu. Tetapi sebenarnya, adakah atau siapakah yang bisa menjamin bahwa tidak terdapat bias apapun dalam dokumen tertulis ketika ideologi selalu hidup dan bersarang dalam jenis kesadaran macam apapun? Mungkin pernyataan Alessandro Portelli[49] berikut ini dapat dijadikan acuan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…subyektifitas memiliki hukum-hukum ‘obyektif’-nya, struktur dan petanya sendiri (apa yang oleh Hawthorne disebut ‘kebenaran hati manusia’). Hal-hal itu mungkin kurang terlihat, tetapi bisa direkonstruksi dengan menggunakan cara-cara ilmiah yang cocok termasuk di dalamnya pikiran dan imajinasi yang terbuka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melengkapi pandangan tersebut, Ronald J. Grele menyarankan agar pewawancara dapat “menangkap struktur yang mendasari kesadaran yang menentukan dan memberi makna pada wawancara lisan”. Struktur yang mendasari kesadaran ini adalah suatu ketegangan dialektis antara gambaran utopia dan mitis mengenai bagaimana masyarakat seharusnya terstruktur dan gambaran historis yang mengaitkan masa lampau dengan masa kini dengan gambaran mitis itu.[50]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak dapat menutup mata dengan pendapat Hong Lysa (2000: 82) jika tradisi lisan bisa menjadi kunci sejarah silam, tetapi fakta yang dikemukakan itu juga dapat ditata dalam struktur tertentu melalui pemilahan, pembongkaran dan penyusunan ulang oleh pewawancara sehingga menjadi cerita yang lain sama sekali. Disisi lain kita tidak mungkin pula mengabaikan fakta jika kisah lisan mengandung pola budaya, makna dan nilai dari masa lampau. Hal itu dapat membangun persepsi sejarah individu maupun kelompok kolektif, bahkan dapat menjadi dorongan bagi rasionalisasi tindakan di masa depan.[51] Oleh karena itu keluar dari jenis penelitian yang dilakukan, yang terpenting adalah menyadari konsep ideologi dan hegemoni, termasuk di dalamnya pemahaman tentang struktur kekuasaan dan pengetahuan yang melatarbelakangi konteks sosial yang ada.[52]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman mengenai peta masalah ini penting untuk merumuskan desain kebudayaan supaya tidak terjebak pada retradisionalisasi feodal[53] yang belakang kembali marak maupun invensi tradisi.[54] Transformasi nilai yang bisa ditawarkan adalah me-recycle pengetahuan/tradisi lokal terutama yang memiliki gagasan mengenai egalitarianisme.[55] Tujuannya adalah menggerus batas-batas persinggungan yang keras, merumuskan ulang peran fungsi dan menata kembali ruang yang memungkin tubuh sosial bisa tumbuh mengikut arah perkembangannya yang benar melalui pembentukan nilai yang tercakup dalam sistem pendidikan; baik itu sistem pendidikan keluarga, pendidikan politik, sistem pendidikan formal, dll.[56] Pada titik inilah kebudayaan (tanah), kesenian (budi pekerti) dan perjuangan (nasional) memiliki celah untuk berdialektika secara sehat. Catatannya adalah, modernitas juga mereproduksi dirinya dalam tradisi;[57] satu hal yang harus diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://pawonpot.wordpress.com/2011/01/15/desain-budaya-dalam-tradisi-lisan/"&gt;http://pawonpot.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-3749513145085151072?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/3749513145085151072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=3749513145085151072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3749513145085151072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3749513145085151072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/06/desain-budaya-dalam-tradisi-lisan.html' title='Desain Budaya Dalam Tradisi Lisan: Perjalanan Suara Yang Hilang'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-2347088985199604202</id><published>2011-03-26T22:21:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T22:22:56.017-07:00</updated><title type='text'>Negeri Pantun</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.angsoduo.net/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=86:negeri-pantun&amp;catid=4:puisi&amp;Itemid=3"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Angso Duo:&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Karya Asrizal Nur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada Tanjungpinang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku saksikan mata air kata&lt;br /&gt;meluap di lafaz pemantun&lt;br /&gt;jiwa berlabuh didermaga kota&lt;br /&gt;dipeluk peradaban negeri pantun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;bahkan laut bahkan ikan&lt;br /&gt;riak air dan gelombang&lt;br /&gt;pantai, pasir dan awan&lt;br /&gt;nelayan dan air pasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air memberi kata ke laut&lt;br /&gt;riaknya berpantun gelombang&lt;br /&gt;gelombang seru bertaut&lt;br /&gt;mengalir pantun di air pasang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air pasang berpantun pada ikan&lt;br /&gt;ikan membalas kata riang&lt;br /&gt;riang kata umpan nelayan&lt;br /&gt;ikan dipancing dibawa pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikanpantun di lahap perut kota&lt;br /&gt;jadikan orang berlidah pantun&lt;br /&gt;tuntun cakap, mematut kata&lt;br /&gt;adat melayu bertuah santun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjungpinang, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYANYIAN KECEWA&lt;br /&gt;Karya: Asrizal Nur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bilang yang kau pinta&lt;br /&gt;untuk kita juga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau hendak rindu&lt;br /&gt;ku beri cinta&lt;br /&gt;kau minta seribu&lt;br /&gt;kau dapat sejuta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau mau hari&lt;br /&gt;ku beri tahun&lt;br /&gt;kau pinta hati&lt;br /&gt;kau dapat jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulu kau gagu&lt;br /&gt;ku beri bahasa&lt;br /&gt;dulu kau bisu&lt;br /&gt;kini cerdik bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau minta kayu&lt;br /&gt;rimba kau bawa&lt;br /&gt;kau mau batu&lt;br /&gt;pasirpun juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau harap terlaga&lt;br /&gt;kau kail samudra&lt;br /&gt;kau minta pelita&lt;br /&gt;kau hisap cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulu kau papa&lt;br /&gt;kini kau berada&lt;br /&gt;dulu kau amanah&lt;br /&gt;kini suka berdusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi mengapa pinta&lt;br /&gt;tak balas beri ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku ingin rindu&lt;br /&gt;kau bilang aduh&lt;br /&gt;ku mau seribu&lt;br /&gt;kau beri malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ku hendak berkata&lt;br /&gt;kau buat aku bisu&lt;br /&gt;ku minta jumpa&lt;br /&gt;kau bunuh waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kupinta rimba&lt;br /&gt;rotan tak punya&lt;br /&gt;kuingin dermaga&lt;br /&gt;pantai ntah kemana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuminta telaga&lt;br /&gt;kau kasi polusi&lt;br /&gt;kumau pelita&lt;br /&gt;gulita kau beri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;remuk aku dengan kecewa&lt;br /&gt;berpisah kita baiknya&lt;br /&gt;Jakarta, 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURSI BUNTUNG&lt;br /&gt;Karya: Asrizal Nur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kursi buntung&lt;br /&gt;Geneva depan gedung damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku dipercik rinai salju&lt;br /&gt;muncrat dari tiga kaki kursi itu&lt;br /&gt;keperkasaannya wartakan berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kursi buntung&lt;br /&gt;meronda hari&lt;br /&gt;kesetiaan adalah pengabdian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duduk di kursi buntung&lt;br /&gt;tak boleh dengkur&lt;br /&gt;ngigau&lt;br /&gt;meracau&lt;br /&gt;mesti kusuk&lt;br /&gt;angin duduk merajuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di pasar kursi&lt;br /&gt;orang orang berebut kursi&lt;br /&gt;beralas beludru&lt;br /&gt;hitam atau abuabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kursi buntung tak laku&lt;br /&gt;tak bisa duduk sukasaku :&lt;br /&gt;para pendengkur&lt;br /&gt;bertarung rebut kursi empuk bergincu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geneva Swiss-Jakarta, 2000-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PINTU&lt;br /&gt;Karya: Asrizal Nur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pintu&lt;br /&gt;ada sepatu&lt;br /&gt;tapaknya berdarah&lt;br /&gt;bernanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada penjaga ramah&lt;br /&gt;cuma pemintaminta&lt;br /&gt;tak ada penawar bunga&lt;br /&gt;hanya penjaja duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pintu&lt;br /&gt;tak lagi mudah diketuk&lt;br /&gt;bila diketuk&lt;br /&gt;dia mengetuk&lt;br /&gt;bila ditanya&lt;br /&gt;dia bertanya&lt;br /&gt;bila diharap&lt;br /&gt;dia mengharap&lt;br /&gt;bila kau sedih&lt;br /&gt;kau yang diperih&lt;br /&gt;bila kau masuk&lt;br /&gt;kau diluar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana pintu&lt;br /&gt;tempat masuk itu?&lt;br /&gt;tinggal jejak&lt;br /&gt;berdarah&lt;br /&gt;bernanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANJI MUSAFIR &lt;br /&gt;Karya: Asrizal Nur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gurun tak berujung&lt;br /&gt;musafir telan embun&lt;br /&gt;reguk peluhletihnya&lt;br /&gt;rindu sebiji kurma buahhidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kabut tutup mata harap&lt;br /&gt;nafas terlunta didera rindu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ datanglah penolong&lt;br /&gt;beri seteguk air&lt;br /&gt;sepotong roti&lt;br /&gt;aku sedia jadi abdi abadi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia ucap kala berdiri dan tersungkur&lt;br /&gt;tapi tak sua harap&lt;br /&gt;lagi lagi kabut&lt;br /&gt;dihempas badai kusut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di ujung hari lelah&lt;br /&gt;bola mata cahayapengharapan&lt;br /&gt;ngerlip di bahu pasir&lt;br /&gt;seru jiwa hampir pergi&lt;br /&gt;semangatnya menyala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;darah aliri tubuh nyaris mati&lt;br /&gt;walau tak seirama&lt;br /&gt;kekuatan hati dan raga yang biru&lt;br /&gt;harap zikir berkali diucap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu ia terjerembab di kaki penolong&lt;br /&gt;impian zikirnya nyata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di rumah beratap cahaya&lt;br /&gt;dengan senyum terangbulan&lt;br /&gt;pemilik rumah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ bangunlah!&lt;br /&gt;ini tempat pergi dan kembali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan nafas ringkih&lt;br /&gt;musafir bisikkan ucap&lt;br /&gt;yang kerapkali dilafazkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemilik rumah memapahnya&lt;br /&gt;dengan kasih setinggigunung&lt;br /&gt;direbahkan di atas pahanya yang sutra&lt;br /&gt;seka luka dengan telapaksalju&lt;br /&gt;lalu suapkan nirwana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musafir memagut dirinya yang hampir hilang&lt;br /&gt;riang bagai kejatuhan bintang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ aku minta seteguk air tapi kau hilangkan dahagaku berjuta tahun&lt;br /&gt;aku harap sepotong roti kau lenyapkan lapar sepanjang abad&lt;br /&gt;jadikan aku pesuruhmu abadi “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ini tempat pergi dan kembali&lt;br /&gt;jika lapar bertanaklah&lt;br /&gt;bila haus gayung telaga&lt;br /&gt;ternak ternak pelihara&lt;br /&gt;tanaman tanaman jaga&lt;br /&gt;karena dengan bertanam dan pelihara&lt;br /&gt;kau akan ngerti makna hidup&lt;br /&gt;berjanjilah!&lt;br /&gt;jadi pesuruh diri sendiri&lt;br /&gt;sebelum paham jadi abdi abadi ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musafir sujud di kaki pemilik rumah&lt;br /&gt;mencium dengan airmatacinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ ya aku berjanji jadi pesuruh diri sendiri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari pertama ia tepati&lt;br /&gt;hari kedua masih&lt;br /&gt;hari ketiga mulai menipu diri&lt;br /&gt;selanjutnya lupa janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sipemilik rumah menuntut janji&lt;br /&gt;dengan tatapan garangmatahari&lt;br /&gt;namun senyum terangbulan masih lekat di bibirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ disini hanya rumah ini&lt;br /&gt;jika kuusir engkau tak ada lagi tempat tuju”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musafir gemetaran, darahnya terbang&lt;br /&gt;nyawa bagai tersangkut awang&lt;br /&gt;ia menampar diri sekuat sedu&lt;br /&gt;tersengat tatapan garangmatahari&lt;br /&gt;dipukau senyum terangbulan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagai angin meniup debu&lt;br /&gt;maaf terbuka selebar cakrawala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musafir dihempas sesalnya&lt;br /&gt;tersungkur bersimbah doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 11 Pebruari 2005&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-2347088985199604202?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/2347088985199604202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=2347088985199604202' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/2347088985199604202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/2347088985199604202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/03/negeri-pantun.html' title='Negeri Pantun'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-9043620904400198746</id><published>2011-03-26T22:10:00.000-07:00</published><updated>2011-03-26T22:15:27.544-07:00</updated><title type='text'>Lesehan Sastra 3 di Hati</title><content type='html'>&lt;a href="http://tamanbudayajambi.com/ver1/content/view/351/1/"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TBJ:&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Merupakan kelanjutan dari Dialog Sastra dan Temu Penyair 3 Kota (Jakarta, Jambi, Aceh) yang dilaksanakan di aula Rektorat Lantai III Universitas Jambi Kampus Pinang Masak mendalo, akan digelar Lesehan Sastra 3 Di Hati pada pukul 19.30 wib di Taman Budaya Jambi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Acara ini akan menghadirkan Diah Hadaning (Jakarta), Dimas Arika Mihardja (Jambi) dan D. Kemalawati (Banda Aceh).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-9043620904400198746?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/9043620904400198746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=9043620904400198746' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/9043620904400198746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/9043620904400198746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2011/03/lesehan-sastra-3-di-hati.html' title='Lesehan Sastra 3 di Hati'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-5589662346981090808</id><published>2010-12-08T19:30:00.000-08:00</published><updated>2010-12-08T19:40:13.209-08:00</updated><title type='text'>UNESCO Memberikan Akreditasi Kepada Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)/ (Oral Tradition Association)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TQBPFMvrogI/AAAAAAAAADk/WjDlRjz2Gvc/s1600/NGO-902231%2Bcopy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TQBPFMvrogI/AAAAAAAAADk/WjDlRjz2Gvc/s400/NGO-902231%2Bcopy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5548521691659608578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;UNESCO memberikan akreditasi kepada Asosiasi Tradisi Lisan (Oral Tradition Association) Indonesia sebagai organisasi non-pemerintah (NGO). Dengan status akreditasi, Asosiasi Tradisi Lisan dari Indonesia dapat berpartisipasi dalam menyusun rekomendasi apabila diminta oleh Komite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-5589662346981090808?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/5589662346981090808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=5589662346981090808' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/5589662346981090808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/5589662346981090808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2010/12/unesco-memberikan-akreditasi-kepada.html' title='UNESCO Memberikan Akreditasi Kepada Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)/ (Oral Tradition Association)'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TQBPFMvrogI/AAAAAAAAADk/WjDlRjz2Gvc/s72-c/NGO-902231%2Bcopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-4699899535245867450</id><published>2010-09-06T22:17:00.000-07:00</published><updated>2010-09-06T22:24:48.879-07:00</updated><title type='text'>Brosur Seminar Internasional Tradisi Lisan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TIXMl38GOtI/AAAAAAAAADU/Q1Q5OVpoLSY/s1600/BrosurInd_Luar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TIXMl38GOtI/AAAAAAAAADU/Q1Q5OVpoLSY/s320/BrosurInd_Luar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514038269828283090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TIXLhL6382I/AAAAAAAAADM/9RiyXGQBQwQ/s1600/BrosurInd_Dalam-1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TIXLhL6382I/AAAAAAAAADM/9RiyXGQBQwQ/s320/BrosurInd_Dalam-1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5514037089780888418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-4699899535245867450?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/4699899535245867450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=4699899535245867450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4699899535245867450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/4699899535245867450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2010/09/brosur-seminar-internasional-tradisi.html' title='Brosur Seminar Internasional Tradisi Lisan'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/TIXMl38GOtI/AAAAAAAAADU/Q1Q5OVpoLSY/s72-c/BrosurInd_Luar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-3766231832646754272</id><published>2009-05-13T18:10:00.000-07:00</published><updated>2009-05-13T18:20:34.762-07:00</updated><title type='text'>Workshop dan Konser Musikalisasi Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SgtwmzjGHqI/AAAAAAAAADE/9ig8zrL95HI/s1600-h/Baliho+Edit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SgtwmzjGHqI/AAAAAAAAADE/9ig8zrL95HI/s200/Baliho+Edit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5335481995525234338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Workshop dan Konser Musikalisasi Puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) Provinsi Jambi berkerjasama dengan Kantor Bahasa Provinsi Jambi menggelar Workshop dan Konser Musikalisasi Puisi bersama Deavies Sanggar Matahari Jakarta. Workshop musikalisasi puisi akan melibatkan guru Bahasa Indonesia dan Kesenian di SMP dan SMA se-Kota Jambi. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 15 – 17 Mei 2009 di Aula Kantor Bahasa Provinsi Jambi bertujuan untuk meningkatkan apresiasi puisi, menggali pemahaman dan pengemasan konsep musikalisasi puisi, dan menumbuhkan sikap dan cinta terhadap karya puisi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peserta workshop musikalisasi puisi dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp50.000,- dengan fasilitas sertifikat + makan siang + tiket konser, pelajar dan mahasiswa Rp10.000,- umum Rp20.000,- hanya untuk pembelian tiket konser musikalisasi puisi. Bagi yang berniat mengikuti kegiatan ini dapat menghubungi panitia ke &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;08126738407/Ricky A. Manik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-3766231832646754272?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/3766231832646754272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=3766231832646754272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3766231832646754272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3766231832646754272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2009/05/workshop-dan-konser-musikalisasi-puisi.html' title='Workshop dan Konser Musikalisasi Puisi'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SgtwmzjGHqI/AAAAAAAAADE/9ig8zrL95HI/s72-c/Baliho+Edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-1831376240176249766</id><published>2009-02-04T20:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T18:27:08.148-08:00</updated><title type='text'>Kematian dan Absurditas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYuf5EDMmVI/AAAAAAAAACc/quI-7m8WQNo/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYuf5EDMmVI/AAAAAAAAACc/quI-7m8WQNo/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299505189220030802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kematian dan Absurditas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://yayasanlangit.blogspot.com/"&gt;Oleh: Ricky Manik, S.S.*&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Wilmington, pinggiran kawasan Los Angeles California, satu keluarga tewas. Tepatnya tanggal 3 Januari 2009, sebuah letusan di kepala menjadi akhir kehidupan keluarga itu. Di rumah itu, polisi menemukan tujuh sosok mayat yang masih hangat, darah yang masih mengalir dan bau bubuk mesiu peluru yang sengit. lima anaknya turut menjadi korban ketaksanggupan, ketakmampuan, ketakberdayaan orang tua menghadapi hidup yang dianggap sulit dan sukar ini. Di ruangan itu 2 bocah kembar berumur 2 tahun, 2 bocah kembar berumur 5 tahun, 1 berumur 8 tahun, dan kedua orang tua mereka. Pria yang teridentifikasi bernama Irvine Lupo itu diduga lebih dulu menembak istri lalu secara bergiliran kelima anaknya. Terakhir, Lupo melesakkan peluru ke kepalanya. Surat kabar menduga kematian mereka karena ketaksanggupan menahan beban ekonomi yang begitu berat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pembunuhan dan bunuh diri itu dilakukan, Lupo sempat menelpon dan mengirimkan faks ke sebuah stasiun televisi lokal. Dalam faksnya itu Lupo mengaku bahwa ia dan istrinya baru saja di pecat dari pekerjaan teknisi kesehatan. Disebutkan juga, perempuan itu menyarankan membunuh anak-anak mereka lalu bunuh diri.&lt;br /&gt;“Mengapa harus meninggalkan anak-anak dengan orang asing? Kami menganggur dan anak-anak di bawah delapan tahun tidak punya tempat tinggal. Jadi inilah kami. Oh Tuhanku, tidak adakah harapan bagi anak janda?” demikian tulis Lupo dalam faksimile itu.&lt;br /&gt;Dalam jumpa pers, Wali Kota Los Angeles, Antonio Villaraigosa, mengaku sulit memahami mengapa orang berbuat hal sekeji itu. "Tak satu pun orang yang saya kenal bisa memahami apa yang mendorong orang mengambil langkah yang demikian mematikan," katanya. &lt;br /&gt;Sesuatu Tentang Absurditas&lt;br /&gt;Sekilas, mungkin kita belum mengetahui dorongan apa yang melatarbelakangi orang melakukan bunuh diri. Ada banyak penyebab bunuh diri, dan pada umumnya, penyebab yang paling kentara bukanlah penyebab yang paling menentukan. Apakah mungkin pada saat kejadian itu sebuah perusahaan atau instansi yang melakukan pemecatan itu adalah satu-satunya penyebab? Jika demikian perusahaan atau instansi itulah yang bersalah, karena pemecatan itu cukup untuk mengakibatkan memuncaknya semua dendam dan kejemuan yang sampai saat itu masih tertahan. &lt;br /&gt;Namun, dalam arti tertentu membunuh diri adalah pengakuan si pelaku bahwa ia telah terkalahkan oleh kehidupan atau bahwa ia tidak mengerti kehidupan. Membunuh diri adalah semata-mata mengakui bahwa “hidup sudah tidak layak dijalani”. Albert Camus melihat hal ini sebagai sebuah pilihan hidup atau keputusan yang diambil dari proses pemaknaan hidup.  Bunuh diri merupakan jalan keluar dari masalah dan ketragisan hidup yang manusia sendiri tidak tahu kapan akan menghadapinya. Lalu, kebiasaan hidup dan derita panjang adalah suatu proses pemaknaan akan hidup itu sendiri. Itulah yang oleh Camus disebut sebagai absurditas. Dunia dan manusia yang absurd. Akan tetapi, menurut Camus, bunuh diri bukan suatu pemecahan. Ia berpendapat bahwa manusia harus menerima keanehan kondisinya. Adalah kehormatan bagi manusia yang berhasrat menanamkan kebesaran hatinya untuk memperoleh kejelasan di tengah ketidakrasionalan yang begitu banyak.&lt;br /&gt;Dalam hidup ini ada proses panjang yang dilalui. Absurditas lebih kepada proses panjang atau pengalaman yang tak henti dilakukan manusia dalam mencari makna hidup. Dari situlah kemudian manusia itu bertumbuh dan dewasa dalam pemikiran. Akan tetapi, apabila makna itu sudah tidak dapat diuraikan, maka manusia itu akan terjerumus dalam kepasrahan. Dalam artian, manusia harus menyadari bahwa manusia hidup di dunia yang absurd. Manusia harus menyadari bahwa persoalan dan permasalahan merupakan kebutuhan dalam hidupnya, karena dengan demikian manusia akan menelaah habis-habisan semua yang dihadapi, tanpa harus mempedulikan tatanan nilai-nilai; demkianlah wujud moral manusia absurd.&lt;br /&gt;Kematian menjadi begitu akrab ketika manusia itu memilih untuk menyerah menghadapi gelombang persoalan dalam hidupnya. Hidup manusia yang absurd. Bunuh diri dianggap jalan keluar yang tepat dari yang absurd. Pertanyaannya, apakah absurditas hidup memaksa manusia untuk menghindarinya melalui harapan atau bunuh diri? apakah yang absurd menuntut kematian? Albert Camus memilah permasalahan itu di atas masalah-masalah yang lain, mencoba keluar dari metode pemikiran dan permainan akal budi yang tak berpamrih. Nuansa-nuansa, kontradiksi-kontradiksi, psikologi yang selalu saja dapat digunakan oleh budi “objektif” untuk memecahkan semua masalah tidak mempunyai tempat dalam pencarian dan gairah ini. Yang dibutuhkan hanyalah pemikiran tak adil, artinya pemikiran logis. Itu tidak mudah. Bersikap logis selalu mudah, namun nyaris tidak mungkin bersikap logis sampai akhir. Mereka yang mati bunuh diri, meniti sampai akhir lereng perasaannya dengan berbuat seperti itu.&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Lupo terhadap keluarga dan dirinya adalah logis menurut pandangannya. Bahwa hidup adalah sebuah kesia-siaan. Pemecatan dirinya dan istrinya adalah suatu akumulasi perasaannya yang sebelumnya telah dilanda badai permasalahan. Masalah ekonomi tentu tidak mutlak dijadikan alasan pengambilan keputusan yang dianggap logis itu. Mungkin, mengakhiri hidup adalah kenikmatan dari hidup yang penuh dengan ketragisan. &lt;br /&gt;Polisi tidak datang terlambat. Tapi maut datang begitu cepat. Maut yang seketika melebihi  rofes yang sedemikian rupa  rofessional diciptakan manusia. Tanpa ada kompromi. Dan Tuhan pun hanya menjadi saksi dari pilihan itu. Saya pikir, Tuhan akan sedih melihat kejadian itu. Tetapi itu sudah menjadi perjanjian manusia denganNya ketika manusia itu memilih untuk memakan buah dari kebenaran. Maka, manusia itu akan mati. Dan pilihan itu adalah mutlak hak manusia itu sendiri untuk menentukan hidup atau matinya. Dari sanalah absurditas itu kemudian berperan.&lt;br /&gt; Jambi, 3 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis pemerhati masalah sosial dan bekerja di Kantor Bahasa Prov. Jambi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-1831376240176249766?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/1831376240176249766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=1831376240176249766' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/1831376240176249766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/1831376240176249766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2009/02/kematian-dan-absurditas-oleh-ricky.html' title='Kematian dan Absurditas'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYuf5EDMmVI/AAAAAAAAACc/quI-7m8WQNo/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-8340948977616681479</id><published>2009-02-04T18:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T18:35:19.617-08:00</updated><title type='text'>Sastra: Ramuan Terapi Mental*</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYugz3UN9vI/AAAAAAAAACk/FetvjcMrA2c/s1600-h/images+sastra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 98px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYugz3UN9vI/AAAAAAAAACk/FetvjcMrA2c/s200/images+sastra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299506199414044402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sastra: Ramuan Terapi Mental*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://palembayan.blogspot.com/"&gt;Oleh: Muhammad Ikhsan, S.S.&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di zaman yang sudah sangat maju ini, banyak sekali yang ditawarkan dunia kepada kita, namun kemudian banyak pula yang direnggutnya. Begitu pula dengan banyaknya yang dibangun, tetapi akhirnya banyak pula yang dihancurkan. Itulah akibat dari modernisasi global saat ini. Dalam melakukan apapun, kita banyak mendapat kemudahan dan bahkan kita dapat merasakan "tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini." Namun di balik semua itu, dengan kemudahan dan kesenangan yang kita rasakan seperti sekarang ini, telah pula melunturkan kebudayaan lama yang sarat kearifan-kearifan yang lebih berharga dari pembangunan diri kita sebagai manusia, seperti semangat komunitas, moralitas spiritualitas, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dan pergeseran nilai yang kian hari- bahkan tiap detik dan menit yang kita rasakan itu, sungguh merupakan beban mental yang penuh bayang-bayang suram, seperti pengaruh globalisasi yang menyebabkan batasan yang semakin samar seperti halnya telah diperankan dengan baik oleh media audio visual, semisal televisi dan komputer dengan CD Room dan internet-nya. Dalam ranah ilmu pengetahuan dan teknologi yang direngkuh manusia menunjukkan keberhasilan menciptakan suatu kenyamanan di satu sisi, dan kegelisahan di sisi lain. Kemudian dengan munculnya industri-industri besar di ranah ekonomi telah menciptakan manusia yang tidak lebih dari produk-produk yang dilahirkan. Manusia telah menjadi robot, mesin, dan budak teknologi itu sendiri, yang membawa manusia ke dalam hitung-hitungan pragmatis, ekonomis, bahkan materialistis.&lt;br /&gt;Beberapa gambaran di atas merupakan sebuah realitas yang kita jumpai dan saksikan kasat mata. Semuanya terutama disebabkan peniadaan dimensi moral yang sebaiknya berjalan seiring kemajuan tersebut. Maka sangat beralasan sekali apabila John W. Gardner maupun Paclav Hevel merasa perlu menekankan hal-hal yang berdimensi moral spiritual sebagai penopang peradaban besar umat manusia, paling tidak seperti yang disebut Hevel sebagai moral values and standards. Persoalannya kemudian adalah bagaimana upaya kita, manusia, agar nilai-nilai moral dan norma-norma yang telah ada dan diharapkan terus berkembang tidak merosot lagi?&lt;br /&gt;Menurut Jamal T. Suryanata, ada tiga segmen masyarakat yang eksistensinya terpaut erat dengan moralitas ini, yaitu kaum agamawan, intelektual, dan para filsuf. Ketiga segmen ini diharapkan berperan besar dalam upaya pelestarian moral values and standards yang menjadi solusi pembebasan manusia dari solusi mentalnya. Namun, ketiga segmen tersebut kurang maksimal dalam memberikan terapi bagi masyarakat dikarenakan sifat dan karakter dari figur yang mereka jalani dihadapkan pada kenyataan hidup yang begitu global dan plural seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;Kaum agamawan saat ini memang dirasakan lebih memiliki semangat primordialis, finantis, dogmatis, dan cenderung tendensius. Meski semua agama mengajarkan kebaikan, namun tidak semuanya bisa diterima semua kalangan. Terlebih adanya 'pemetakkan' antaragama. Tentu saja hal itu membatasi ruang gerak dan pengaruh positif dari dari pesan moral yang mereka jalani. Bahkan yang lebih naifnya, banyak sekali kerusuhan dan kekerasan sekarang ini, peledakan tempat-tempat ibadah (tentu kita masih ingat dengan peledakan Katedral dan Mesjid Istiqlal beberapa tahun yang lalu), hingga peristiwa Sampit, Ambon, hingga peledakan Paddy’s Cafe dan Sari Club di Bali, yang kesemuanya mengatasnamakan agama.&lt;br /&gt;Begitu juga halnya dengan kaum intelektual dan ilmuwan, tampaknya juga terbatas ruang geraknya. Kecenderungan rasio dan wacana ilmiah sering tidak memperoleh ruang publik yang lebih luas dari kerangka ilmunya. Masyarakat yang tidak punya tradisi intelektual tidak bisa berharap dari mereka. Di samping itu kemajuan iptek telah menghasilkan pendapatan-pendapatan yang memerdekakan manusia dari pekerjaan badaniah yang lebih berat. Namun sebaliknya, membawa kegelisahan besar dalam kehidupan, yaitu sebagai budak teknologi. Kecelakaan yang paling besar adalah menciptakan alat untuk memusnahkan sesama manusia! Dan jika berharap pada kaum filsuf meski cukup logis dan terasa wajar, kiranya muskil. Kaum filsuf adalah komunitas yang sangat amat terbatas, terlebih saat sekarang. Jiwa petualangan yang tak pernah puas, membuat mereka cenderung terjerumus ke dalam medan dialektika yang tak kunjung usai.&lt;br /&gt;Setelah kita melihat bagaimana peran yang tidak berjalan sebagaimana mestinya dari ketiga segmen di atas, yang seharusnya penting dalam menjaga mentalitas, mungkin sebuah solusi yang bisa dijadikan sebagai sebuah klinik terapi mental adalah sastra. Namun itu bukan berarti sastra ditempatkan sebagai pengganti peran dari ketiga segmen tersebut. Sastra adalah sebagai unsur penambah dalam menjaga mentalitas sekaligus memberi pesan moral dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Menurut Dr. Johnson dalam pengantar buku "Panduan Teori Sastra Masa Kini", karya sastra yang besar itu universal dan mengekspresikan kebenaran-kebenaran umum tentang kehidupan manusia. Jadi, lepas dari kecurigaan primordial fanatisme dogma dan pesannya lebih aspiratif dan komunikatif, tanpa pretensi ambisius. Kemudian Darmanto Jatman memperkuat bahwa sastra mengubah manusia menjadi lebih berbudi, bercita rasa mulia, yang pada akhirnya menjadi manusia sejati sekaligus mempraktikkan makna manusianya. Dari hal tersebut kita diingatkan bahwa kehadiran karya-karya sastra tidak dimaksudkan untuk menggantikan kehadiran guru, kiai, maupun pendeta. Dengan begitu sastra punya cukup kemungkinan membawa pesan-pesan moral.&lt;br /&gt;            Sedikit kita singgung situasi panggung politik yang terjadi sekarang. Para 'elit politik' sampai saat ini masih sibuk dengan urusan-urusan yang sebetulnya kita (terutama saya pribadi) sendiri sudah cukup muak mendengarnya. Jargon-jargon politik yang berkembang telah memilukan perasaan kita, mengingat bangsa ini didirikan di atas tetesan darah. Sepertinya republik ini telah menjadi sebuah ruang untuk merefleksikan keinginan politik mereka.. Namun itulah kenyataan hari ini, kebobrokan mental. Dan sah-sah saja selama 'kehendak untuk berkuasa' yang mereka miliki tetap ada, apalagi mereka juga manusia biasa yang tak luput dari khilaf.&lt;br /&gt;Namun dalam situasi ketegangan seperti yang muncul itu, apa salahnya kita sedikit memiringkan pikiran kita, memberikan sedikit ruang bagi pikiran kita untuk sastra. Ketika telinga dan pikiran kita sedikit tersita dengan politik-politikan itu, mungkin ada sedikit waktu bagi kita untuk menemui sastra, sebagai sebuah klinik terapi mental. Mendiang presiden AS, John F. Kennedy pernah berucap, "Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya." Dan bisa saja para elit politik tersebut berkenan untuk bersama-sama membaca puisi, membaca atau menulis cerpen, atau bahkan bermain drama dengan mementaskan sebuah episode sebagai bagian dari episode bangsa ini. Jadi pikiran kita tidak selalu dihantui pikiran-pikiran berbau politik praktis. Dengan sastra, yang cenderung berbicara secara individual, dari hati ke hati, dapat menjadi jembatan dialog untuk saling memahami pikiran, bahkan sedikit demi sedikit dapat memperbaiki mental-mental yang sepertinya sudah terkena virus yang paling berbahaya.&lt;br /&gt;Walaupun demikian, itu semua bukanlah tanpa benturan, tidak begitu saja dengan mudah sastra menjadi klinik terapi mental untuk menjaga moralitas. Kenyataannya  sastra dibenturkan pada tugas dan kenyataan. Di satu sisi harus konsisten pada estetikanya, sebagaimana esensi sebuah karya seni, tetapi di sisi lain juga dituntut mampu membawa amanat berupa nilai-nilai moral kemanusiaan. Karena ada karya yang cenderung dianggap dan diduga samar dan hampir tidak menyampaikan nilai moral, seperti Belenggu karya Armin Pane yang pernah ditolak Balai Pustaka. Lalu Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, puisi vulgarisme W.S. Rendra Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta atau Nyanyian Angsa. Kemudian juga Surga dan Kepala Kawan Chairil Anwar yang dianggap antimoralitas dan antireligius.&lt;br /&gt;Melihat kenyataan di atas, maka sebaiknya kita kembalikan saja pada hakikat sastra, yang menurut Jamal T. Suryanata sastra pada hakikatnya mempelajari dan mengungkapkan tentang hidup dan kehidupan manusia secara universal. Akan tetapi hal itu dilihat dari segi penikmat kita kenal doktrin pathos dan catharsisi. Dengan jalan menimbulkan pathos, yakni simpati terhadap dan merasa terlibat dalam peristiwa mental yang terjadi dalam karya sastra, dapat terjadi dengan intens apabila pembaca dapat mengadakan hubungan langsung dengan karya sastra tersebut. Pembaca akan lebih mudah menangkap gagasan dan maksud pengarang sekaligus amanat atau moral karya tersebut. Maka muncullah apa yang disebut pathos, setelah itu mencapai titik pembersihan diri, catharsisi. Pada akhirnya nanti timbul rasa lega setelah dihadapkan pada persoalan yang menurut ukuran moral tidak boleh terjadi dan merangsang jiwa dan rasio pembaca untuk sampai pada kesimpulan positif. Dengan begitu, karya sastra yang dianggap amoral akan dapat dijembatani oleh kedua doktrin di atas. Namun itu juga tergantung dari apresiatif pembaca.&lt;br /&gt;Akhirnya semua sastra yang kembali pada hakikatnya, maka itulah yang dapat berperan menyongsong mental dan moralitas spiritualitas kita. Dan saya sepertinya setuju dengan apa yang pernah Romo Mangun katakan, bahwa pada awal mulanya segala sastra adalah religius, sehingga tidak ada permasalahan signifikan antara sastra yang konvensional, klasik, modern, religius, absurd, dan lainnya. Sekali lagi, karya sastra hakikatnya selalu membawa pesan moral meski beragam cara penghadirannya dalam menyikapi dan menyiasati kemajuan zaman yang sudah sangat edan ini. Semoga.&lt;br /&gt; * Tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum Singgalang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-8340948977616681479?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/8340948977616681479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=8340948977616681479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/8340948977616681479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/8340948977616681479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2009/02/sastra-ramuan-terapi-mental.html' title='Sastra: Ramuan Terapi Mental*'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYugz3UN9vI/AAAAAAAAACk/FetvjcMrA2c/s72-c/images+sastra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-5790466161853397088</id><published>2009-01-03T09:55:00.001-08:00</published><updated>2009-02-05T18:41:12.696-08:00</updated><title type='text'>Pewarisan Tradisi Lisan Orang Rimba1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYujBIQPqgI/AAAAAAAAACs/mB2p-VKa2_4/s1600-h/images+rimba.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 78px; height: 112px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYujBIQPqgI/AAAAAAAAACs/mB2p-VKa2_4/s200/images+rimba.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299508626322336258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pewarisan Tradisi Lisan Orang Rimba1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ironibatanghari.wordpress.com"&gt;Oleh: Firdaus&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi lisan merupakan warisan budaya yang masih berkembang di masyarakat. Pada&lt;br /&gt;masyarakat adat tertentu bahkan menjadi ciri yang spesifik. Pada definisi lainnya, tradisi&lt;br /&gt;lisan merupakan produk budaya masyarakat tertentu yang penyebarluasannya&lt;br /&gt;didominasi oleh unsur lisan, di satu sisi, ia merefleksikan sistem wacana yang bukan&lt;br /&gt;aksara, tetapi di sisi lain, ia juga merupakan wacana yang diucapkan, baik yang lisan&lt;br /&gt;maupun yang beraksara.3 Hal ini terjadi karena tidak semua masyarakat adat mengenal&lt;br /&gt;dan memiliki tradisi tulis dalam kebiasaan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun tradisi tulis&lt;br /&gt;dikenal itupun karena masuknya pola pendidikan modern dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, lestari atau tidaknya tradisi lisan sangat bergantung pada kemampuan&lt;br /&gt;masyarakat adat menempatkannya sebagai bagian yang terhormat. Hanya saja problem&lt;br /&gt;pelestarian menjadi semakin rumit terlebih lagi dengan adanya pengabaian terhadap&lt;br /&gt;masyarakat adat. Pengabaian hak hidup, hak adat, hak atas tanah, dan kecenderungan&lt;br /&gt;menjadikan sekedar obyek semata menjadi bukti tidak pentingnya masyarakat adat.&lt;br /&gt;Adanya beragam program yang digagas didasarkan pada “rasa keprihatinan” dan “belas&lt;br /&gt;kasihan” sebab penamaan Komunitas Adat Tertinggal, Masyarakat Terasing merupakan&lt;br /&gt;bentuk keengganan menempatkan mereka pada posisi yang setara dan sejajar.&lt;br /&gt;Orang Rimba merupakan masyarakat adat yang menetap dalam kawasan Taman&lt;br /&gt;Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Penamaan Orang Rimba merupakan terminologi yang&lt;br /&gt;disepakati oleh masyarakat adat tersebut. Hal ini berdasarkan asumsi (1) penamaan&lt;br /&gt;seperti Suku Anak Dalam, Suku Kubu, Komunitas Adat Tertinggal cenderung telah&lt;br /&gt;memposisikan mereka sebagai masyarakat yang bodoh dan ketinggalan zaman, (2)&lt;br /&gt;penamaan Orang Rimba bersifat arbiter berdasarkan pemikiran bahwa mereka hidup&lt;br /&gt;dan memperoleh sumber-sumber kehidupan di rimba, (3) bahwa penamaan ini untuk&lt;br /&gt;menjaga keunikan tradisi dan membedakan kebiasaan hidup mereka dengan Orang&lt;br /&gt;Terang.&lt;br /&gt;1 Dipresentasikan pada Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan VI di Kabupaten Wakatobi, 1-3&lt;br /&gt;Desember 2008.&lt;br /&gt;2 Ketua Jambi Writing Program, Program Officer Komunitas Humaniora Indonesia, dan Wakil Ketua&lt;br /&gt;Asosiasi Tradisi Lisan Daerah Jambi.&lt;br /&gt;3 Pudentia, Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan ATL, 1998.&lt;br /&gt;4 Menurut pengakuan Tarib, satu di antara tumenggung yang berdomisili di Air Hitam, Kabupaten&lt;br /&gt;Sarolangun, Jambi penamaan Orang Rimba untuk membedakan identitas dengan Orang Terang. Yang&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Model Pewarisan Tradisi Lisan Orang Rimba&lt;br /&gt;Orang Rimba, sebagai masyarakat adat yang kental dengan tradisi lisan tentu saja&lt;br /&gt;mengalami problem pelestarian dan pewarisan. Selain dikarenakan tidak adanya tradisi&lt;br /&gt;keberaksaraan rendahnya tingkat partisipasi dalam pendidikan (meminjam bahasa&lt;br /&gt;birokrasi). Pada sisi ini terdapat kontradiksi dalam memandang pendidikan, bagi Orang&lt;br /&gt;Rimba pendidikan sering dijadikan sarana pembodohan yang dilakukan Orang Terang&lt;br /&gt;terhadap Orang Rimba sedangkan bagi institusi terkait dan masyarakat di Jambi pada&lt;br /&gt;umumnya beranggapan bahwa sarana untuk meningkatkan derajat Orang Rimba dari&lt;br /&gt;ketertinggalan dan keterasingan adalah pendidikan. Dalam konteks ini dilakukan kreasi&lt;br /&gt;tertentu untuk tujuan pelestarian dan pewarisan tradisi lisan.&lt;br /&gt;Potensi pewarisan dilakukan oleh Orang Rimba melalui pewarisan yang bersifat internal&lt;br /&gt;dan pewarisan eksternal. Maksud pewarisan internal adalah pewarisan tradisi lisan&lt;br /&gt;dilakukan secara kolektif oleh Orang Rimba untuk memenuhi kondisi-kondisi tertentu&lt;br /&gt;yang mempengaruhi dan menentukan keberlangsungan adat dan kebiasaan hidup&lt;br /&gt;mereka. Pemilihan dan pelantikan tumenggung sebagai pemimpin kelompok Orang&lt;br /&gt;Rimba misalnya dilakukan jika orang disiapkan (biasanya berasal dari lingkungan&lt;br /&gt;keluarga) telah memenuhi syarat-syarat kepemimpinan tokoh adat yaitu kemampuan&lt;br /&gt;dalam menghafal, memahami, dan mengaplikasikan hukum adat baik terhadap diri&lt;br /&gt;sendiri, anggota kelompok/komunitas, atau terhadap Orang Terang. Persyaratan ini&lt;br /&gt;merupakan satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebab apabila tidak&lt;br /&gt;lengkap pewarisan dialihkan kepada orang lain (tetap mengacu pada garis keturunan).&lt;br /&gt;Keharusan dan kemampuan menguasai tradisi lisan juga menjadi syarat wajib bagi&lt;br /&gt;dukun yang ditentukan oleh komunitas. Hal ini dikarenakan pada tradisi pengobatan&lt;br /&gt;Orang Rimba, pembacaan mantera biasanya menyertai proses pembuatan bahan-bahan&lt;br /&gt;obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Pada makalah ini dituliskan mantera&lt;br /&gt;pengobatan penyakit asma yang dibacakan pada saat meramu dan merebus sejenis akarakaran&lt;br /&gt;untuk diminum penderita asma.&lt;br /&gt;dimaksudkan dengan Orang Terang adalah masyarakat yang berdomisili di luar rimba atau di luar&lt;br /&gt;kawasan Taman Nasional. Penamaan ini juga berlaku pada anggota masyarakat Orang Rimba yang telah&lt;br /&gt;beralih kepercayaan. Hal ini diterapkan oleh Tumenggung Tarib terhadap anak-anak beliau yang menikah&lt;br /&gt;dengan Orang Terang dan diharuskan keluar rimba atau minimal menetap di pinggir batas rimba.&lt;br /&gt;Penamaan lain yaitu Orang Rimbo dikemukakan oleh Muntholib Soetomo dalam disertasinya Orang&lt;br /&gt;Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi, Bandung:&lt;br /&gt;Universitas Padjajaran, 1995, h.vi.&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Bismillah&lt;br /&gt;Tedung inggak tedung inggih&lt;br /&gt;Tedung inggak tedung inggih&lt;br /&gt;Aku menunduk menagari&lt;br /&gt;Aku menyungak sekali lagi&lt;br /&gt;Untung ku keno siang ka aku lagi idup&lt;br /&gt;Kalau ku keno malom aku lah mati&lt;br /&gt;Untung ku keno malom ka aku lagi idup&lt;br /&gt;Kalau ku keno siang aku lah mati&lt;br /&gt;laaillahaillallah&lt;br /&gt;Pembacaan mantra untuk pengobatan dapat dilakukan secara langsung yaitu dibacakan&lt;br /&gt;pada saat pengobatan atau secara tidak langsung melalui upacara bebale5. Ketentuan&lt;br /&gt;pembacaan mantera pengobatan ini menunjukkan adanya mantra yang boleh diketahui&lt;br /&gt;oleh orang lain dan mantra yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.&lt;br /&gt;Selain pewarisan melalui pengukuhan tokoh-tokoh adat dilakukan pewarisan dengan&lt;br /&gt;menempatkan beberapa terminologi dalam tradisi lisan mereka baik sebagai aturan baru,&lt;br /&gt;penamaan tempat, dan pemberian nama anak. Pada komunitas Orang Rimba terdapat&lt;br /&gt;aturan baru dinamakan “hompongan”6 bermakna hadangan, menghadang, menghalangi.&lt;br /&gt;Digunakan untuk memberi batas pada wilayah rimba/hutan dengan cara menanam karet.&lt;br /&gt;Penggunaan istilah ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan adanya batas yang jelas&lt;br /&gt;antara hutan rimba dan hutan produksi maka akan dapat dijaga kelestarian hutan yang&lt;br /&gt;menjadi tempat hidup Orang Rimba. Pilihan menggunakan pohon karet sebagai batas&lt;br /&gt;rimba didasari gagasan kognitif bahwa tanaman karet merupakan tanaman produktif.&lt;br /&gt;Hasilnya dinikmati bersama-sama baik Orang Rimba dan Orang Terang (penduduk&lt;br /&gt;dusun asal, pendatang, dan transmigrasi).7 Pada pola ini terlihat bahwa tradisi lisan tidak&lt;br /&gt;hanya sekedar sarana pemenuhan kebutuhan kognitif saja tetapi juga sebagai untuk&lt;br /&gt;menjaga kesejajaran manusia dengan alam dan kesetaraan antara sesama manusia.&lt;br /&gt;Penghormatan Orang Terang (dalam hal ini masyarakat transmigrasi sangat baik karena&lt;br /&gt;mereka diberi kepercayaan untuk menyadap karet dan menggelola hasil produksi.&lt;br /&gt;5 Upacara “bebale” dapat diartikan sebagai upacara menghormati dewa-dewa dengan menyiapkan&lt;br /&gt;sembilan balai, ditempati seorang dukun dan sesaji. Pelaksanaan upacara ini tidak hanya untuk&lt;br /&gt;pengukuhan tumenggung tetapi juga untuk upacara pengukuhan dukun, perkawinan, pengobatan,&lt;br /&gt;pengukuhan jenang (semacam penghubungan dengan Orang Terang). Hanya saja tidak ada dokumentasi&lt;br /&gt;upacara ini karena bersifat tertutup kecuali pada komunitas Orang Rimba yang menjadi Orang Terang&lt;br /&gt;melaksanakan upacara pengukuhan berdasarkan cara-cara formal.&lt;br /&gt;6 Terminologi “hompongan” merupakan pemaknaan mendalam dari prinsip hidup bermasyarakat yaitu&lt;br /&gt;apabila seseorang melangkah ke kebun orang lain tanpa izin maka orang tersebut dianggap melangkahi&lt;br /&gt;kepala. Penjelasan ini berdasarkan penuturan tumenggung Tarib. Beliau juga memaparkan apabila&lt;br /&gt;seseorang melangkahi kepala orang lain sama artinya dengan menghina adat dan menghina martabat.&lt;br /&gt;7 Orang Rimba sebagai pemilik tanaman karet biasanya mengikutsertakan Orang Terang sebagai&lt;br /&gt;penyadap karet. Kesepakatan yang digunakan adalah 2/3 untuk penyadap dan 1/3 untuk pemilik.&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;“Tanoh Peronok’on”8 atau “tanah peranakan” merupakan peristilahan untuk menamai&lt;br /&gt;tempat ibu-ibu melahirkan. Prosesi melahirkan memiliki kesakralan yang sama dengan&lt;br /&gt;prosesi kematian. Perbedaannya terletak pada kontradiksi yang menyertai. Maksudnya&lt;br /&gt;ibu yang akan melahirkan diantar oleh seluruh anggota komunitas ke tempat khusus&lt;br /&gt;yaitu tanoh peronok’on. Di tempat tersebut telah disiapkan bahan-bahan makanan,&lt;br /&gt;peralatan melahirkan, dan didampingi dukun beranak. Pada prosesi kematian, seseorang&lt;br /&gt;yang sakit ditempat pada “sudung” atau pondok kecil dilengkapi bahan-bahan pangan,&lt;br /&gt;sarana untuk menjaga diri dari binatang buas dan berbisa namun orang yang sakit&lt;br /&gt;ditinggalkan sendiri sedangkan keluarga dan anggota komunitas Orang Rimba hanya&lt;br /&gt;melihat dari jauh. Akan tetapi apabila ibu atau anak atau orang yang sakit meninggal&lt;br /&gt;dunia maka kedukaan dan kesedihan Orang Rimba diwujudkan dalam bentuk tradisi&lt;br /&gt;“melangun”9 yaitu tradisi eksodus ke wilayah lain dalam beberapa waktu. Biasanya&lt;br /&gt;berlangsung antara 5 bulan sampai 2 tahun. Namun mengingat kondisi hutan yang&lt;br /&gt;semakin kritis maka berdasarkan kesepakatan kolektif masa “melangun” dipersingkat&lt;br /&gt;menjadi maksimal 6 bulan.&lt;br /&gt;Penggunaan tradisi lisan pada pemberian nama juga merupakan upaya-upaya pewarisan&lt;br /&gt;yang disepakati dan telah lama dilakukan Orang Rimba. Pemberian nama disesuaikan&lt;br /&gt;dengan kondisi fisik dan sifat-sifat yang mengikuti. Misalnya nama “bunga sanggul”&lt;br /&gt;untuk nama perempuan yang fisiknya menarik terutama rambut panjang yang disanggul.&lt;br /&gt;Begitu pula dengan nama “pengantap” untuk menamakan seseorang yang sangat&lt;br /&gt;berketetapan hati. Penggunaan terminologi ini tidak hanya menyesuaikan dengan&lt;br /&gt;karakteristik fisik dan sifat manusiawi tetapi terkadang baru muncul sesuai kebiasaan&lt;br /&gt;sehari-hari. Misalnya nama “pengikat”, “bejoget”, “meratai” untuk wujud simbolisasi&lt;br /&gt;kemampuan mengikat, kebiasaan beratai atau mengoyangkan tubuh. Bahkan ada pula&lt;br /&gt;menggunakan nama “jujur” sebagai nama salah satu dewa Orang Rimba. Pemberian&lt;br /&gt;nama ini terkadang juga dilakukan untuk masyarakat yang menjadi tamu Orang Rimba&lt;br /&gt;sebagai bentuk penghargaan atas kesediaan berkunjung.&lt;br /&gt;8 “Tanoh Peronok’on” atau “tanah peranakan” hanya boleh dilihat dan ditempati oleh Orang Rimba&lt;br /&gt;terutama anggota keluarga yang akan melahirkan.Kesakralan tempat ini biasanya ditandai dengan adanya&lt;br /&gt;lokasi tanaman obat dan tanaman buah-buahan yang bermanfaat bagi anak dan ibu.&lt;br /&gt;9 Pada tradisi “melangun”, Orang Rimba bersikap menirukan gerakan dan suara-suara hewan terkadang&lt;br /&gt;juga disertai tradisi lisan “meratop” atau “meratap” yang mengungkapkan kenangan tentang “kepergian”&lt;br /&gt;seseorang baik secara fisik dalam artian meninggal dunia maupun non fisik dalam artian menjadi Orang&lt;br /&gt;Terang.&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Pewarisan internal ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru, masyarakat adat lainnya&lt;br /&gt;di Indonesia juga telah melakukan langkah yang sama. Pada pewarisan Nyanyi Panjang&lt;br /&gt;Tombo lebih bersifat terbuka dengan memberikan kesempatan pada seluruh anggota&lt;br /&gt;pesukuan untuk mempelajari dan memahami Tombo. 10 Pola/model internal seperti ini&lt;br /&gt;menunjukkan bahwa kesadaran kolektif untuk melestarikan tradisi agar lebih dihargai&lt;br /&gt;dan mendapat tempat yang sejajar dengan anggota masyarakat lainnya merupakan&lt;br /&gt;motivasi utama Orang Rimba melakukan pewarisan tradisi lisan. Keinginan ini telah&lt;br /&gt;terwujud dengan diikutsertakannya tumenggung sebagai pemimpin adat Orang Rimba&lt;br /&gt;untuk menentukan keputusan-keputusan yang bersentuhan dengan hukum adat.&lt;br /&gt;Hubungan sejajar ini membentuk kesepahaman antara Orang Rimba dan Orang Terang&lt;br /&gt;untuk saling menjaga dan menghormati tradisi masing-masing meskipun di antara&lt;br /&gt;Orang Terang juga terdapat Orang Rimba yang memilih keluar hutan, menikah dengan&lt;br /&gt;masyarakat transmigrasi atau masyarakat dusun dan menentukan secara sadar pilihan&lt;br /&gt;kepercayaan normatif.&lt;br /&gt;Pewarisan eksternal merupakan model pewarisan yang dilakukan secara kolektif atau&lt;br /&gt;individual oleh komunitas atau individu di luar sistem. Keterlibatan aktif dengan cara&lt;br /&gt;berpartisipasi langsung dalam beberapa bagian atau keseluruhan aktifitas Orang Rimba&lt;br /&gt;sehari-hari merupakan teknis yang sebaiknya digunakan. Pada umumnya penerapan&lt;br /&gt;partisipasi aktif/keterlibatan aktif menimbulkan pola interaksi timbal balik karena&lt;br /&gt;adanya saling kesepahaman. Teknik atau metode lainnya adalah keterlibatan pasif&lt;br /&gt;dengan cara memposisikan sebagai pengamat semata. Aspek dokumenter merupakan&lt;br /&gt;hasil maksimal dari penerapan partisipasi pasif/keterlibatan pasif.&lt;br /&gt;Model pewarisan eksternal dengan menggunakan pendekatan partisipasi aktif dilakukan&lt;br /&gt;oleh fasilitator pendidikan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI. Guru&lt;br /&gt;Rimba11 menggunakan dongeng populer sebagai salah satu formula pada pengajaran&lt;br /&gt;BTH (baca tulis hitung). Peningkatan kemampuan baca tulis disertai dengan pendekatan&lt;br /&gt;yang manusiawi menimbulkan motivasi para murid dan kader12 untuk menceritakan dan&lt;br /&gt;menulis dongeng rimba yaitu ande-ande yang telah mereka kenal sejak kanak-kanak.&lt;br /&gt;10 Tenas Effendy, Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Petalangan, Yogyakarta: Yayasan Bentang&lt;br /&gt;Budaya, Toyota Foundation, 1997, h. 35.&lt;br /&gt;11 Istilah lain dari fasilitator pendidikan. Menurut penulis istilah ini diciptakan untuk menimbulkan&lt;br /&gt;keterkaitan dan keterikatan emosionil antara fasilitator dengan Orang Rimba.&lt;br /&gt;12 Kader merupakan Orang Rimba yang disiapkan sebagai penerus Guru Rimba untuk melanjutkan&lt;br /&gt;pengajaran BTH di komunitas masing-masing.&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;Proses penulisan yang mereka lakukan sendiri meski dengan ungkapan bahasa yang&lt;br /&gt;sangat sederhana menunjukkan pemahaman mereka bahwa yang dilakukan merupakan&lt;br /&gt;suatu kesadaran internal untuk memperkenalkan sekaligus mengabadikan tradisi yang&lt;br /&gt;telah akrab dalam keseharian mereka.&lt;br /&gt;Tapi ketika dongeng ini menjalani transformasi bentuk dari lisan menuju tulisan tentu&lt;br /&gt;saja ini merupakan satu sistem yang kompleks. Kompleksitas pertama muncul dari&lt;br /&gt;menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan keberaksaraan. Kompleks ini terselesaikan&lt;br /&gt;dengan adanya fakta bahwa dibutuhkan kontrak sosial tertulis antara Orang Rimba&lt;br /&gt;dengan Orang Terang (dalam hal ini diwakili oleh kontrak bisnis di mana Orang Rimba&lt;br /&gt;menjadi patron sedangkan Orang Terang menjadi klien). Dengan demikian tradisi&lt;br /&gt;aksara sebenarnya adalah penerapan teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat&lt;br /&gt;Orang Rimba sebagai alat penyelesaian konflik Orang Rimba-Orang Terang dalam&lt;br /&gt;kontrak sosial.&lt;br /&gt;Kompleks kedua adalah menumbuhkan kebutuhan internal teknologi aksara atau&lt;br /&gt;kontekstualisasi keberaksaraan. Bila teknologi aksara berhenti sampai pada kompleks&lt;br /&gt;pertama, maka tradisi aksara hanya menjadi alat penyelamat instan bagi Orang Rimba.&lt;br /&gt;Sedangkan pada konteks lokal-global, tradisi keberaksaraan menjadi faktor penentu&lt;br /&gt;hidup matinya suatu komunitas berdasarkan asas ketersiaran suatu keadaan. Hal ini&lt;br /&gt;berarti bahwa dengan adanya dokumen-dokumen tertulis yang dikeluarkan oleh Orang&lt;br /&gt;Rimba adalah fakta berdasarkan pemahaman mereka untuk dikomunikasikan kepada&lt;br /&gt;masyarakat lain. Pada konteks ini posisi Orang Rimba adalah nyata dan faktual seperti&lt;br /&gt;halnya posisi Orang Terang. Komunikasi ini menjadi penting sejak diketahui bahwa&lt;br /&gt;kemampuan mengartikulasikan suatu keadaan yang berterima dapat memicu kerjasama&lt;br /&gt;dan kemitraan yang lebih baik berdasarkan kesetaraan.&lt;br /&gt;Kontekstualisasi tradisi keberaksaraan yang dilakukan KKI Warsi untuk membukukan&lt;br /&gt;ande-ande merupakan inisiatif anak-anak Orang Rimba itu sendiri. Dalam hal ini&lt;br /&gt;kontekstualisasi berlandaskan asas kebutuhan mereka untuk mendistribusikan tradisi&lt;br /&gt;lisan yang mereka miliki secara internal yang pada akhirnya menjadi alat komunikasi&lt;br /&gt;keberadaan mereka kepada Orang Terang (sebagai representasi terdekat masyarakat&lt;br /&gt;global). Hal ini diungkapkan oleh Jujur dalam “Kisah-Kisah Anak Rimba” yang&lt;br /&gt;disusun oleh KKI Warsi, “biak hopi helang ande-ande yoi” (“agar tidak hilang dongeng&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;ini”). Melalui ungkapannya Jujur secara eksplisit menyatakan kesadarannya bahwa&lt;br /&gt;tradisi lisan adalah primer bagi Orang Rimba sedangkan faktor pendukung kelestarian&lt;br /&gt;tradisi lisan tersebut dengan adanya pendokumentasian materi ande-ande itu.&lt;br /&gt;Pada titik dokumentatif ini, tradisi keberaksaraan berada pada kompleks puncak. Tradisi&lt;br /&gt;keberaksaraan adalah suatu sistem tanda asing yang dipelajari Orang Rimba sebagai&lt;br /&gt;bentuk negosiasi untuk mampu bertahan terhadap gempuran zaman. Sebagai suatu yang&lt;br /&gt;dinegosiasikan tradisi keberaksaraan tidak dapat sepenuhnya diterima mengingat tradisi&lt;br /&gt;ini membutuhkan kelengkapan permanen sedangkan kehidupan Orang Rimba bersifat&lt;br /&gt;semi-nomad.13 Dengan demikian, pendokumentasian tradisi lisan yang dilakukan oleh&lt;br /&gt;anak-anak Orang Rimba dengan ande-ande yang mereka kenal adalah suatu usaha&lt;br /&gt;menjadikan dunia milik mereka ada dan hadir secara kognitif dan imajinatif dihadapan&lt;br /&gt;Orang Terang. Dengan kata lain, tradisi lisan justru membuktikan keunggulan vis a vis&lt;br /&gt;dari tradisi keberaksaraan dikarenakan pendokumentasian ande-ande sebagai alat tawar&lt;br /&gt;dilakukan secara sadar oleh anak-anak Orang Rimba.14&lt;br /&gt;Model pewarisan internal dan eksternal yang dikemukakan dalam makalah ini pada&lt;br /&gt;hakekatnya hasil analisis dan modifikasi dari penerapan metode kualitatif. Metode ini&lt;br /&gt;yang pada hakekatnya menempatkan manusia sebagai subyek dan sekaligus obyek yang&lt;br /&gt;harus mampu memposisikan kesejajaran sesama. Selain itu seperti dikemukakan oleh&lt;br /&gt;Moleong (2005) bahwa pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila&lt;br /&gt;berhadapan dengan kenyataan yang jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara&lt;br /&gt;langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka&lt;br /&gt;dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama&lt;br /&gt;terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.15&lt;br /&gt;13 Pada komunitas Orang Rimba tertentu terdapat pemikiran bahwa pendidikan sering dijadikan sebagai&lt;br /&gt;“alat pembodohan” dan sebagai alat untuk menjauhkan Orang Rimba dari tradisi lama yang telah mereka&lt;br /&gt;jalani dan patuhi. Motif ekonomi, motif religius bahkan motif politik seringkali menyertai proses&lt;br /&gt;pendidikan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tertentu.&lt;br /&gt;14 Realitas ini menunjukkan bahwa pernyataan peneliti sastra lisan modern umumnya mengakui bahwa&lt;br /&gt;penghafalan karya panjang dalam masyarakat niraksara, jarang terdapat. Selanjutnya dapat dibaca A&lt;br /&gt;Teeuw, Indonesia Antara Kelisan dan Keberaksaraan. Jakarta, Pustaka jaya, 1994, h. 4.&lt;br /&gt;15 Prof, Dr, Lexy J Moleong, MA, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung, PT. Remaja&lt;br /&gt;Rosda Karya, 2005, h. 9-10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;Moleong, J Lexy, Prof, Dr, MA. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi.&lt;br /&gt;Bandung, PT. Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt;Murniatie, Sri Dewi. 2006. Bahasa Mantra Pengobatan Suku Anak Dalam di Desa&lt;br /&gt;Hitam Ulu Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Skripsi (Belum Diterbitkan).&lt;br /&gt;Jambi: Universitas Jambi.&lt;br /&gt;Pudentia. 1998. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan&lt;br /&gt;Yayasan ATL.&lt;br /&gt;Rahmadi, ed. 2007. Kisah-kisah Anak Rimba. Jambi: Tim Publikasi KKI WARSI.&lt;br /&gt;Soetomo, Muntholib. 1995. Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat&lt;br /&gt;Terasing di Makekal, Provinsi Jambi. Disertasi (Belum Diterbitkan). Bandung:&lt;br /&gt;Universitas Padjajaran, 1995, h.vi.&lt;br /&gt;Teeuw, A. 1994. Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta, Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;Tenas Effendy. 1997. Bujang Tan Domang: Sastra Lisan Orang Petalangan,&lt;br /&gt;Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, Toyota Foundation.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-5790466161853397088?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/5790466161853397088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=5790466161853397088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/5790466161853397088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/5790466161853397088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2009/01/pewarisan-tradisi-lisan-orang-rimba1.html' title='Pewarisan Tradisi Lisan Orang Rimba1'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SYujBIQPqgI/AAAAAAAAACs/mB2p-VKa2_4/s72-c/images+rimba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-3030211554644111561</id><published>2009-01-03T09:52:00.000-08:00</published><updated>2009-02-10T23:30:52.599-08:00</updated><title type='text'>Betale dan Syair Mikraj</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SZJ-pXWU2BI/AAAAAAAAAC0/rRzlSdNy-ug/s1600-h/Qia+copy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SZJ-pXWU2BI/AAAAAAAAAC0/rRzlSdNy-ug/s200/Qia+copy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301438960475887634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Betale dan Syair Mikraj&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Bahasa santun Uhang Kincay)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nukman, S.S.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan berbangsa dan bernegara banyak ditentukan oleh kualitas anggota masyarakatnya. Salah satu penanda kualitas adalah kemampuannya dalam berbahasa, baik secara lisan maupun secara tertulis. Kualitas berbahasa seseorang dapat juga dinilai dari tutur kata yang diucapkannya. Bahasa yang benar tidak saja karena konstruksi tata bahasanya benar, tetapi juga karena disampaikan dengan cara yang tepat sesuai dengan situasi, kondisi, dan sasaran pembicaranya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bila bahasa menentukan bangsa, berati bahasa seseorang akan menentukan kualitas “bangsa”, kualitas budayanya.&lt;br /&gt;Pemerolehan bahasa yang santun ini tidak dengan serta merta dapat dilakukan dan didapatkan oleh seseorang. Kebiasaan dari sejak dini dan lingkungan sosial masyarakat akan banyak menentukan pola berbahasa seseorang.Dalam konteks budaya Indonesia, salah satu sumber berbahasa dengan santun dapat diambil dari pantun. Karena sifat kesantunannya, pantun hampir tidak pernah melukai hati orang meskipun pantun yang dimaksudkannya tersebut dimaksudkan sebagai kritikan.&lt;br /&gt;Pantun telah sangat lama dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat budaya Indonesia, meskipun memang kini tidak banyak yang menggunakannya. Pantun dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, baik ritual maupun dalam kehidupan keseharian kelompok masyarakat. Kalangan yang memakainya pun beragam, tua muda dan bahkan anak-anak memakainya dalam permainan tradisional atau dalam lagu-lagu permainan anak. Banyak hal dapat disampaikan dalam pantun: nasehat, petuah, sindiran, kritikan, berbagai ajaran termasuk ajaran agama, pesan, ungkapan kasih sayang antaranggota keluarga atau antarkekasih, harapan, etos kerja, pendidikan, dan berbagai ekspresi lainnya. Karena itu, pantun dapat dibagi atas berbagai jenis, seperti pantun nasehat, pantun remaja, pantun muda-mudi, pantun anak-anak, dan juga berbalas pantun, yaitu pantun yang dibawakan secara berpasangan. Pantun pada umumnya terdiri dari 4 baris: 2 baris pertama merupakan sampiran, yaitu bait-bait yang menyampaikan arahan untuk dijawab pada 2 baris berikutnya yang merupakan isi pantun tersebut. Akan tetapi, dalam perkembangannya dan juga dalam berbagai jenis pantun yang dapat dijumpai di Nusantara ini, tidak semua pantun harus memakai kriteria seperti yang disebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betale dan Syair Mikraj&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betale dan Syair Mikraj merupakan dua sastra lisan Kerinci yang menggunakan medium bahasa yang berbeda. Syair Mikraj dituturkan dengan menggunakan bahasa Indonesia, sementara betale menggunakan bahasa Kerinci. Dengan dua bentuk bahasa itulah, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua sastra lisan di Provinsi Jambi menggunakan Bahasa Melayu Jambi.&lt;br /&gt;Betale dan Syair Mikraj merupakan sastra lisan yang terdapat di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Betale dan Syair Mikraj pada awalnya dituturkan, namun dalam perkembangannya telah ada yang dituliskan. Walaupun dituliskan, naskah betale dan syair mikraj tersebut belum bisa mewakili keseluruhan pernyataan sastra lisan tersebut. Misalnya gerak dan irama yang dilakukan penutur.&lt;br /&gt;Kabupaten Kerinci merupakan salah satu daerah yang terletak dibagian Barat Provinsi Jambi, daerah ini selain dikenal dengan kekayaan objek wisatanya. Juga memiliki koleksi naskah kuno terbesar dibandingkankan dengan kabupaten lain yang di Provinsi Jambi. Koleksi naskah kuno tersebut merupakan milik masyarakat yang hak pewarisannya telah diatur dalam sistem adat mereka. Akibatnya, tidak semua naskah kuno Kerinci itu bisa diperlihatkan baik ke filolog maupun ke masyarakat biasa. Biasanya naskah kuno Kerinci ini banyak diturunkan pada pelaksaanaan kenduri seko, yang pelaksananaanya menyesuaikan dengan ada tidaknya penukaran gelar pemuka adat.&lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan naskah kuno(sastra tulis), pengambilan data sastra lisan Kerinci justeru lebih mudah. Karena peneliti hanya diharuskan untuk membayar biaya pertunjukkan, tidak ada aturan yang mengharuskan pertunjukkan untuk dilakukan pada saat kenduri seko ataupun acara adat lainnya.&lt;br /&gt;Sastar lisan merupakan cerminan kreativitas mental masyarakat, kreativitas yang tetap menjaga dan mengedepankan unsur kemurniannya. Sastra lisan Betale dan Syair Mikraj memiliki fungsi yang berbeda. Betale merupakan refleksi rasa syukur, hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhannya. Sementara Syair Mikraj lebih mengedepankan bentuk kekuasaan Ilahi Rabbi di samping hubungan manusia dengan Tuhannya.&lt;br /&gt;Dua sastra lisan tersebut, hanya dituturkan pada bulan tertentu saja. Syair Mikraj dituturkan pada bulan Rajab, pada saat perayaan Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW. Syair mikraj ini terdiri dari 259 bait, 5 bait bagian pembuka, 4 bait penutup, dan 250 bait yang berisikan kisah perjalanan Rasullullah saat menjemput shalat lima waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa bait  Syair Mikraj :&lt;br /&gt;1. Bagian pembuka syair&lt;br /&gt;Dengan bismillah saya mulai&lt;br /&gt;Mengarang syair mikraj nabi&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Rasul Illahi&lt;br /&gt;Israk dan mikraj dimalam hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah kata kedua&lt;br /&gt;Memuji Allah tuhan semesta&lt;br /&gt;Syalawat dan salam pada rasulnya&lt;br /&gt;Sahabat setia serta keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah memuji pada illahi&lt;br /&gt;Di atas kertas pena menari&lt;br /&gt;Mohon kehadirat rabbulizzati&lt;br /&gt;Semoga karangan Allah berkati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengigatkan ayat quran suci&lt;br /&gt;Siapa membesarkan syariat Islami&lt;br /&gt;Iman dan taqwa kokoh dihati&lt;br /&gt;Begitu pula israk dan mikraj nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukaddimah tidak dipanjangkan lagi&lt;br /&gt;Cukup disini sekedar bayangan&lt;br /&gt;Saudara membaca harap betulkan&lt;br /&gt;Khilaf dan sesat kalau kejadian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kutipan bagian isi syair&lt;br /&gt;Petang ahad dimalam isnin&lt;br /&gt;27 rajab udara pun dingin&lt;br /&gt;Datang perintah rabbul alamin&lt;br /&gt;Mikraj ke langit Muhammad amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang ahad dimalam hari&lt;br /&gt;Datang perintah dari illahi&lt;br /&gt;Menyuruh jibrail turun ke bumi&lt;br /&gt;Menjeput Muhammad  rasul yang ummi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikail Israfil keduanya serta&lt;br /&gt;Membawa buraq kuda disyurga&lt;br /&gt;Muhammad dituju pada tempatnya&lt;br /&gt;Beliau tidur sedang nyenyaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihijir Ismail terbaring diri&lt;br /&gt;Hamzah dikanan Jakfar dikiri&lt;br /&gt;Ketelaga zam-zam didukungnya nabi&lt;br /&gt;Serta menyampaikan perintah illahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimalam itu perintah Tuhan&lt;br /&gt;Tuan ke langit akan dinaikkan&lt;br /&gt;Sebelum itu dada dibersihkan&lt;br /&gt;Mari kemari saya kerjakan 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibrail bekerja dengan segera&lt;br /&gt;Membelah dada nabi yang mulia&lt;br /&gt;Dari cekuk leher sampai ke bawahnya&lt;br /&gt;Dibersihkan semua di dalam dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disuruh mikail pergi ke telaga&lt;br /&gt;Mengambil zam-zam satu dua timba&lt;br /&gt;Pencuci hati nabi yang mulia&lt;br /&gt;Supaya hidupnya berlapang dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil lagi timba yang lain&lt;br /&gt;Berisi hikmah imam dan yakin&lt;br /&gt;Halim pengasih sempurna mukmin&lt;br /&gt;Dibawanya dari Jannatun Nain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditutupkan dada dengan segera&lt;br /&gt;Surutlah dada sebagai bermula&lt;br /&gt;Luka tidak bekas tiada&lt;br /&gt;Nabi pun duduk dengan senangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian jibrail bekerja lagi&lt;br /&gt;Mencap antara belikat nabi&lt;br /&gt;Hatamunnabi  penyudahan nabi&lt;br /&gt;Hingga kiamat tiada lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibril memanggilkan buraq itu&lt;br /&gt;Wahai mikail lekaslah bantu&lt;br /&gt;Lalai dan lengah tiada padamu&lt;br /&gt;Kodrat iradat pasti berlaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambilnya buraq yang telah sedia&lt;br /&gt;Cukup berkekang serta pelana&lt;br /&gt;Tijak-tijak emas di syurga&lt;br /&gt;Jibrail memegang tali kekangnya&lt;br /&gt;Buraqpun liar merupakan diri&lt;br /&gt;Seolah tak ridho dikendarai&lt;br /&gt;Jibrail berkata dengan cemeti&lt;br /&gt;Wahai buraq Alatastami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagian penutup&lt;br /&gt;Wahai saudara tolong ikhwani&lt;br /&gt;Syair Mikraj habis disini&lt;br /&gt;Simpan masuk dalam hati&lt;br /&gt;Pedoman hidup di dunia ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukkan benar ke dalam dada&lt;br /&gt;Segala ajaran mana yang ada&lt;br /&gt;Larang menentangnya jauhi semua&lt;br /&gt;Coba amalkan sehabis tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahirabbil Alamin&lt;br /&gt;Dijadikan kami umat muttakin&lt;br /&gt;Umat yang saleh tulus dan yakin&lt;br /&gt;Semoga menjadi aulia solihin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Azzawajalla&lt;br /&gt;Masukkan kami ke dalam syurga&lt;br /&gt;Terjauh dari api neraka&lt;br /&gt;Terhindar dari segala bencana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair ini dituturkan oleh kaum perempuan dengan irama yang cukup khas, syair disampaikan menjelang uraian Israk oleh penceramah. Mbacu sa’e (membaca syair), mereka yakini sebagai media untuk mengetahui secara jelas kisah perjalanan Nabi Muhammad, SAW pada saat menjemput shalat lima waktu. Sastra lisan ini dapat ditemukan di Desa Sebukar dan beberapa desa yang ada di Kecamatan Sitinjau Laut Kerinci.&lt;br /&gt;Berbeda hal dengan Syair Mikraj, betale dilakukan pada saat musim haji. Setiap malam menjelang keberangkatan jamaah, petale senantiasa mengunjungi rumah calon jamaah atau di rumah warga yang sengaja mengundang calon jamaah dan petale untuk menuturkan isi yang ada di dalam setiap bait tale yang mereka miliki. Betale memiliki berbagai bentuk, misalnya tale pengantar dan tale pelepasan. Kebiasaan yang diwarisi secara turun-temurun ini tidak hanya untuk orang tua saja, akan tetapi pada saat sekarang ini telah banyak diikuti generasi muda Kerinci.&lt;br /&gt;Berikut ungkapan yang digunakan saat betale :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilok nia puggei ke luhak &lt;br /&gt;Dame dapek puntuoh tubeuh&lt;br /&gt;Ilok nia puggei ku mekah&lt;br /&gt;Amal dapek duseu tubueh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lah pueh dudeuk mungince&lt;br /&gt;Munukak-munukak ugei&lt;br /&gt;Lah pueh dudeuk bupike&lt;br /&gt;Ku mukah ugeu maku sna atai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh jeuh pgeiku gua&lt;br /&gt;Jalan rusak banyak berlumpur&lt;br /&gt;Kayo di lupeh dengan doa &lt;br /&gt;Supayo dapek haji yang mabrur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagei mumakan manggauh&lt;br /&gt;Uhang Hiang mumasang bendera&lt;br /&gt;Terupat terpuji meminta maaf&lt;br /&gt;Tumakah tuminang mintak direla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa guno pasang pelito&lt;br /&gt;Kalau tidak dimakan apai&lt;br /&gt;Apa guno nahu harto &lt;br /&gt;Harto idiek jadi kantai&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-3030211554644111561?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/3030211554644111561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=3030211554644111561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3030211554644111561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/3030211554644111561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2009/01/betale-dan-syair-mikraj.html' title='Betale dan Syair Mikraj'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SZJ-pXWU2BI/AAAAAAAAAC0/rRzlSdNy-ug/s72-c/Qia+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711430480244886971.post-479350437584083628</id><published>2008-06-09T21:27:00.000-07:00</published><updated>2009-01-03T10:40:05.383-08:00</updated><title type='text'>Naskah Nusantara</title><content type='html'>&lt;p&gt;Daftar ini merupakan &lt;b&gt;Daftar Naskah Nusantara&lt;/b&gt; yang penting:&lt;/p&gt; &lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik" class="mw-redirect" title="Bujangga Manik"&gt;Bujangga Manik&lt;/a&gt; merupakan naskah yang sangat penting dan sangat berharga. Naskah ini ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda. Naskah ini ditulis dalam bentuk puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, diatas daun nipah yang saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata. Naskah ini menggambarkan keadaan pulo Jawa dan lautnya pada saat perdagangan laut dikuasai oleh Kesultanan Malaka. Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda" title="Sunda"&gt;Sunda&lt;/a&gt; yang, walaupun merupakan seorang prabu pada keraton &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran" title="Pakuan Pajajaran"&gt;Pakuan Pajajaran&lt;/a&gt; (ibu kota &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda" title="Kerajaan Sunda"&gt;Kerajaan Sunda&lt;/a&gt;, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor" title="Bogor"&gt;Bogor&lt;/a&gt;), lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran" title="Pakuan Pajajaran"&gt;Pakuan Pajajaran&lt;/a&gt; ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa" title="Jawa"&gt;Jawa&lt;/a&gt;. Pada perjalanan kedua Bujangga Manik malah singgah di Bali untuk beberapa. Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar gunung Patuha sampai akhir hayatnya.&lt;sup id="cite_ref-0" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Naskah_Nusantara#cite_note-0" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Jelas sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga Manik berasal dari jaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit" title="Majapahit"&gt;Majapahit&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaka" title="Malaka"&gt;Malaka&lt;/a&gt; dan Demak &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Demak" class="mw-redirect" title="Demak"&gt;Demak&lt;/a&gt; memungkinkan kita untuk memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an.&lt;sup id="cite_ref-1" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Naskah_Nusantara#cite_note-1" title=""&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan dalam naskah. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan sampai sekarang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sanghyang_Siksakanda_ng_Karesian" class="mw-redirect" title="Sanghyang Siksakanda ng Karesian"&gt;Sanghyang Siksakanda ng Karesian&lt;/a&gt; merupakan naskah didaktik, yang memberikan aturan, resep serta ajaran agama dan moralitas kepada pembacanya.Sanghyang Siksakanda ng Karesia merupakan “Buku berisi aturan untuk menjadi resi (orang bijaksana atau suci)”. Naskah ini disimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta dan ditandai dengan nama kropak 630. Naskah ini terdiri dari 30 lembar daun nipah. Naskah ini bertanggal "nora catur sagara wulan (0-4-4-1)", yaitu tahun 1440 Saka atau 1518 Masehi. Naskah ini telah menjadi rujukan dalam publikasi yang diterbitkan oleh Holle dan Noorduyn. (1987:73-118).&lt;sup id="cite_ref-2" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Naskah_Nusantara#cite_note-2" title=""&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian berasal dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Galuh&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Galuh (belum dibuat)"&gt;Galuh&lt;/a&gt; (salah satu ibukota &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda" title="Kerajaan Sunda"&gt;Kerajaan Sunda&lt;/a&gt;).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Naskah 16 L 641 atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Naskah_Perpustkaan_Nasional_Republik_Indonesia_Kropak_641&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Naskah Perpustkaan Nasional Republik Indonesia Kropak 641 (belum dibuat)"&gt;Kropak 641&lt;/a&gt; disimpan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/PNRI" class="mw-redirect" title="PNRI"&gt;PNRI&lt;/a&gt; (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia). Naskah ini adalah naskah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nipah_%28naskah%29" title="Nipah (naskah)"&gt;nipah&lt;/a&gt; tertua yang berasal dari tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1344" title="1344"&gt;1344&lt;/a&gt; berisikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Arjunawiwaha" class="mw-redirect" title="Kakawin Arjunawiwaha"&gt;kakawin Arjunawiwaha&lt;/a&gt; dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa" title="Bahasa Jawa"&gt;bahasa Jawa&lt;/a&gt; Kuna. Naskah ini sebelumnya milik bupati Bandung dan berasal dari Jawa Barat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Naskah_Perpustakaan_Universitas_Leiden_Orientalis_266&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Naskah Perpustakaan Universitas Leiden Orientalis 266 (belum dibuat)"&gt;L Or 266&lt;/a&gt; disimpan di Perpustakaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Leiden" title="Universitas Leiden"&gt;Universitas Leiden&lt;/a&gt;, Belanda. Naskah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lontar" title="Lontar"&gt;lontar&lt;/a&gt; ini sudah masuk koleksi pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1597" title="1597"&gt;1597&lt;/a&gt; dan merupakan salah satu naskah lontar dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa" title="Bahasa Jawa"&gt;bahasa Jawa&lt;/a&gt; tertua yang memuat ajaran Islam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Naskah_Perpustakaan_Universitas_Leiden_Orientalis_1928&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Naskah Perpustakaan Universitas Leiden Orientalis 1928 (belum dibuat)"&gt;L Or 1928&lt;/a&gt; disimpan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perpustakaan_Universitas_Leiden&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Perpustakaan Universitas Leiden (belum dibuat)"&gt;Perpustakaan Universitas Leiden&lt;/a&gt;, Belanda. Naskah &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dluwang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Dluwang (belum dibuat)"&gt;dluwang&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Daluang&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Daluang (belum dibuat)"&gt;daluang&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;) ini kemungkinan besar sudah berada di Belanda pada akhir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-16" title="Abad ke-16"&gt;abad ke-16&lt;/a&gt;. Naskah yang sudah sangat tua ini penting karena kemungkinan merupakan salah satu naskah berbentuk codex (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buku" title="Buku"&gt;buku&lt;/a&gt;) yang tertua dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara" title="Nusantara"&gt;Nusantara&lt;/a&gt;. Naskah ini memuat teks ajaran mistik agama Islam menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Naskah_Perpustakaan_Universitas_Leiden_Orientalis_5023&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Naskah Perpustakaan Universitas Leiden Orientalis 5023 (belum dibuat)"&gt;L Or 5023&lt;/a&gt; sebelumnya disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, tetapi sekarang di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/PNRI" class="mw-redirect" title="PNRI"&gt;PNRI&lt;/a&gt; sebagai naskah NB 9. Naskah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lontar" title="Lontar"&gt;lontar&lt;/a&gt; ini antara lain mengandung teks &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Nagarakretagama" title="Kakawin Nagarakretagama"&gt;kakawin Nagarakretagama&lt;/a&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711430480244886971-479350437584083628?l=atljambi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://atljambi.blogspot.com/feeds/479350437584083628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711430480244886971&amp;postID=479350437584083628' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/479350437584083628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711430480244886971/posts/default/479350437584083628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://atljambi.blogspot.com/2008/06/naskah-nusantara.html' title='Naskah Nusantara'/><author><name>Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jambi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18205576501602510844</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_U8M7472WVeE/SV-iD7fBThI/AAAAAAAAABg/c2zWLsusxmk/S220/images.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
